Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Inilah Siswa SD Pencipta Robot Pendeteksi Banjir Berbasis IoT

Rabu, 07 Nov 2018 18:36 | editor : Perdana

CERDAS: Arif Rahman dan Sachiko Dzakira mempraktikkan robot karya mereka di sekolahnya.

CERDAS: Arif Rahman dan Sachiko Dzakira mempraktikkan robot karya mereka di sekolahnya.

Apa yang dilakukan Arif Rahman Jauhari, 11, dan Sachiko Dzakira Kinasih, 8, ini mungkin masih jarang bagi anak usia sekolah dasar (SD). Berawal dari hobi menyenangi dunia robotik, siswa kelas 5 dan 3 ini mampu menciptakan robot pendeteksi banjir berbasis IoT (internet of things). Karya mereka ini bahkan sudah diakui di kompetisi robotik nasional. Seperti apa kisah di baliknya? 

HOSSIANA ANANTA-ISTIQBALUL F, Boyolali

SEJUMLAH siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Program Khusus (PK) Kateguhan, Sawit, Boyolali mengerumuni Arif dan Sachiko. Mereka tampak antusias melihat kedua siswa ini mempraktikkan cara kerja robot hasil rancangannya di halaman sekolah, Selasa (6/11).  

Mula- mula, mereka menjelaskan fungsi robot hasil temuannya. Lalu mempraktikkan cara kerja robot tersebut. Teman-teman sekolahnya tampak sangat antusias melihat atraksi singkat tersebut.

Ya, Arif dan Sachiko memang baru saja kembali setelah mengikuti Kompetisi Robotik Madrasah 2018 yang diselenggarakan oleh Kemenag 3 – 4 November lalu di Depok. Keduanya merupakan salah satu dari dua tim yang lolos ke babak grand final mewakili Provinsi Jawa Tengah. Dalam kompetisi ini keduanya berhasil menduduki peringkat tiga kategori Best Applied. 

“Kebetulan setelah mendapat info tentang kompetisi itu, kami langsung melakukan persiapan. Kami menyeleksi anak-anak dari ekstrakurikuler robotik untuk menjadi peserta. Akhirnya, terpilihlah Arif,” kata Kepala MIM Kateguhan, Irma Praptiwi ditemui radarsolo.co.id.

Sedangkan Sachiko dipilih karena bakat public speaking-nya. Ia akan membantu Arif dalam mempresentasikan cara kerja robot tersebut pada waktu lomba.“Dua anak ini saling melengkapi. Arif kuat di pemrograman, Sachiko kuat di public speakingnya,” lanjut Irma. 

Ada sejumlah proses yang dilalui sebelum akhirnya merakit robot. Setelah melakukan seleksi, peserta diajak berdiskusi dengan guru pembimbing yang berasal dari Robota Robotics School Solo.  

Topik yang didiskusikan adalah robot seperti apa yang akan mereka buat. Mengingat tema yang diberikan panitia untuk lomba ini adalah robot rescue atau robot mitigasi bencana.

“Awalnya saya ingin membuat alat untuk mendeteksi tsunami. Tapi karena prosesnya terlalu rumit, jadi disesuaikan dengan keadaan lingkungan saya,” kata Arif menimpali.

Irma menambahkan, kondisi lingkungan di wilayah eks Karesidenan Surakarta, khususnya di bantaran Sungai Bengawan Solo, sering terjadi banjir. Alat pendeteksi banjir ini dinilai lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar daripada alat pendeteksi tsunami.

Ide pembuatan robot pendeteksi banjir kemudian dimatangkan konsepnya. Selanjutnya dituangkan dalam sebuah proposal untuk diseleksi oleh panitia lomba. Setelah lolos

seleksi, guru pembimbing melakukan sejumlah riset. Butuh waktu sekitar satu pekan untuk merampungkan riset hingga proses merakit robot sampai jadi. 

Irma mengaku bangga dan bersyukur dengan prestasi yang dicapai siswanya ini. Padahal, ekstrakurikuler robotik di sekolah ini baru saja dimulai lima bulan lalu. Namun sudah bisa menghasilkan prestasi yang membanggakan.

“Kami bersyukur atas prestasi ini. Saya berharap nantinya robotik sekolah kami juga bisa mengikuti ajang di kancah internasional,” kata Irma. 

Selama proses persiapan, ada beberapa kendala yang dihadapi, seperti adanya titik bosan dan jenuh yang dirasakan Arif dan Sachiko. Untuk mengantisipasi hal tersebut, model

pembelajaran yang digunakan dibuat variatif. Yakni, dengan menekankan sistem kekeluargaan. Anak dibiasakan untuk tidak bergantung dengan satu guru. Anak- anak juga diberi penjelasan tentang alat dan bahan yang berkaitan dengan robotik sejak awal. Mulai dari pemahaman alat, cara penggunaan, hingga bagaimana cara mendapatkan.

“Kami menggunakan sistem pembelajaran dengan kurikulum dan silabus yang jelas.

Semuanya disesuaikan dengan porsi anak- anak. Karena levelnya anak- anak, maka teknologi yang digunakan adalah teknologi tepat guna dan simpel. Alat yang digunakan pun mudah ditemukan di pasaran,” beber Dimas Febriyan Priambodo, salah satu anggota tim pembimbing robotik MIM PK Kateguhan.

Dalam robot pendeteksi banjir ini terdapat tiga komponen utama, yaitu wemos, servo, dan sensor ultrasonic. Wemos merupakan arduino yang sudah terintegerasi dengan chip wifi. Artinya, itu adalah arduino yang biasa dijual di pasaran, hanya saja sudah jadi satu dengan wifi sehingga tidak perlu memasang wifi lagi. 

Servo digunakan untuk menggerakkan pintu air. Sedangkan sensor ultrasonic digunakan untuk membaca ketinggian air. Ketiga komponen tersebut dirakit dalam sebuah wadah berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bahan akrilik.

“Cara kerjanya, pertama-tama kita lakukan pemrograman. Setelah selesai, kita atur id dengan cara mendaftar di aplikasi Telegram. Lalu disambungkan ke server IoT tim kami bernama Jatayu. Jika semua sudah terhubung, tinggal pencet hotspot di smartphone dan sambungkan ke wemos,” terang Yohana Kusuma Kristiani, rekan satu tim Dimas. 

Melalui proses yang dijelaskan Yohana tersebut, robot pendeteksi banjir akan mengirimkan sinyal atau tanda ketika ketinggian air bertambah. Tanda tersebut akan muncul pada notifikasi di aplikasi Telegram. 

Yohana menambahkan, ketika lomba berlangsung, proses demo tidak bisa menggunakan air karena kemungkinan wadah persegi panjang penutupnya tidak rapat yang mengakibatkan kebocoran.

“Kami tidak bisa pakai air karena sebelumnya sudah kami coba, dan akhirnya malah bocor. Kebocoran dapat mengurangi nilai pada waktu lomba. Untuk mengatasi hal itu, kami menggunakan tangan. Sensor ultrasonic dapat membaca ketinggian tangan kita. Pada ketinggian tertentu, robot ini akan mengirimkan notifikasi ke Telegram,” tambah Yohana. 

Selaku pembimbing, Yohana mengaku bahwa Arif dan Sachiko kerap merasa kurang percaya diri setelah melihat hasil rakitan peserta lain jauh lebih bagus dari milik mereka. Melihat hal itu, Yohana kembali mendorong dan memotivasi mereka tentang tujuan utama mereka mengikuti lomba ini. 

Selain mempelajari bahasa pemrograman, Arif dan Sachiko juga belajar tentang public speaking untuk mempresentasikan robot tersebut pada waktu lomba. Dalam proses pembelajaran tersebut, ada beberapa anggota tim pembimbing yang ikut andil mendampingi, di antaranya Febrina Heru Aryati, Fajar Wibowo, dan Yohana. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia