Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Boyolali

Atasi Kemiskinan, BP3D Boyolali Kembangkan Aplikasi Sinagkis

Rabu, 07 Nov 2018 19:44 | editor : Perdana

PROGRAM: Aplikasi Sinangkis untuk tekan kemiskinan di Boyolali.

PROGRAM: Aplikasi Sinangkis untuk tekan kemiskinan di Boyolali. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

BOYOLALI – Penurunan kemiskinan di Boyolali berjalan lambat. Tahun ini, penurunan angka kemiskinan hanya di kisaran 0,5 persen. Jumlah tersebut separo dari target nasional, yakni 1 persen.

Tak tercapainya target penurunan kemiskinan di Boyolali dipengaruhi banyak hal. Sebab tak semua program yang dilaksanakan langsung tepat sasaran. Faktor lainnya dipicu penentuan angka kemiskinan yang hanya berdasarkan hasil survei Badan pusat statistik (BPS) Boyolali. Survei BPS hanya mengacu besaran pengeluaran per bulan per kapita.

”Kalau di Boyolali pengeluran per bulan per orang sekitar Rp 400 ribu. Misalkan dalam satu keluarga itu ada 4 orang, total pengeluaran satu keluarga sekitar Rp 1,6 juta. Itu sebenarnya sudah tidak tergolong keluarga miskin,” kata Kepala Bidang Pemerintahan dan Sosial Budaya, Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP3D) Boyolali, Khusnul Hadi kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (6/11).

Dalam waktu dekat, BP3D bakal menyandingkan data pusat dengan lokal. Harapannya bisa mengkaver sekaligus mendorong penurunan angka kemiskinan. Selain itu, berbagai upaya strategis dilakukan untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan. Melalui pengembangan aplikasi Sistem Aplikasi Penanggulanga Kemiskinan (Sinangkis).

Kemudian sistem aplikasi e-Reporting untuk memantau progres bulanan. Sebagai acuan penentuan kebijakan dalam program kegiatan dan anggaran bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

”Lewat aplikasi ini nanti, program kegiatan dan anggaran sampai dengan sasaran dapat diketahui. Bahkan sampai dengan titik GPS-nya. Sehingga di lokasi mana pun bisa dipantau. Hal itu untuk mencegah adanya double sasaran pengentasan kemiskinan,” papar Khusnul.

Upaya itu dilakukan agar pengentasan kemiskinan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Boyolali 2015-2021. Menargetkan kemiskinan di Boyolali turun hingga 9,5 persen. ”Saat ini angka kemiskinan di Boyolali masih di kisaran 11,96 persen,” tandasnya.

Dari tahun ke tahun, angka kemiskinan di Boyolali terus menurun. Pada 2015, angka kemiskinan 12,45 persen atau sebanyak 119.970 jiwa. Lalu turun menjadi 12,09 persen pada 2016 atau 117 ribu jiwa. Kemudian di 2017 turun lagi 0,5 persen.

BP3D bakal terus mensinergikan program penanganan kemiskinan supaya lebih optimal. Melalui aplikasi Sinangkis dan perda penanggulangan kemiskinan yang saat ini sedang dibahas Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Boyolali.

”Semoga tahun ini (Perda) segera clear. Sehingga ada payung hukum yang jelas. Serta ada sistem aplikasi yang mendukung,” imbuhnya. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia