Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Sragen

Polres Sragen Gelar Sayembara Alarm Stelling

Rabu, 07 Nov 2018 20:43 | editor : Perdana

Polres Sragen Gelar Sayembara Alarm Stelling

SRAGEN – Jajaran Satuan Lalu Lintas Polres Sragen berupaya menekan angka kecelakaan di perlintasan kereta api tanpa palang pintu. Kondisi perlintasan tanpa palang pintu kerap menelan korban jiwa, bahkan kebanyakan korban berasal dari luar lingkungan.

Kasatlantas Polres Sragen AKP Dani Permana Putra menyampaikan pihaknya mencari inovasi untuk  mengatasi masalah tersebut. Salah satunya dengan memunculkan ide untuk membuat sirine di sekitar perlintasan tanpa palang pintu. ”Dimana saat akan melintas, jarak 200-300 meter kita akan membuat sirine yang akan bunyi,” terangnya pada awak media.

Namun pihaknya harus berkoordinasi dengan PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) terlebih dahulu untuk memasang alat tersebut, karena tidak bisa memasang alat tertentu di perlintasan rel kereta api tanpa izin. 

Dia menyampaikan harus mempertimbangkan beberapa cara untuk membunyikan sirine tersebut. Baik melalui cara otomatis saat kereta hendak melintas, atau dengan menugaskan orang yang berada di pos penjagaan. 

”Misalnya di pos Gemolong, semestinya sudah tahu posisi kereta di Sumberlawang atau Miri. Dari beberapa titik semestinya tahu dari pencetan tombol akan berbunyi,” terang Kasat Lantas mewakili Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman.

Pihaknya menyiapkan sejumlah opsi untuk menjalankan rencana tersebut. Salah satunya dengan melombakan di tingkat SMK. Lantaran ilmu kreativitas dan kemampuan siswa SMK di Sragen dinilai mumpuni. ”Kami mencari siapa yang bisa membuat alarm stelling yang bermanfaat bagi masyarakat, di perlintasan kereta api,” jelasnya.

Pihaknya sudah menghubungi Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait rencana tersebut, namun biaya yang diajukan cukup besar. Selain itu anggaran dari negara tidak disiapkan untuk itu. ”Karena anggaran dari UGM cukup besar, kita coba mengangkat kreativitas dari adik-adik SMK, kita segera umumkan,” jelasnya.

Pihaknya prihatin lantaran bisa dikatakan hampir setiap bulan ada korban di perlintasan KA tanpa palang pintu. Selain itu kebanyakan korban juga bukan orang Sragen atau orang yang tinggal di sekitar perlintasan.

Pihaknya juga berupaya untuk memasang peringatan di sekitar perlintasan KA tanpa palang pintu. Untuk lebih aman, juga terpampang jam-jam kereta api saat melintas. ”Kami juga mau membuat peringatan sekalian informasi jam kereta melintas,”bebernya.

Sementara, Tokoh masyarakat Kecamatan Kalijambe Agus Subagyo meminta PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) bertindak menertibkan bangunan yang ada di sepanjang bantaran rel. Baik di Kalijambe, Gemolong maupun Miri. ”Kawasan di sekitar banyak yang tanpa palang pintu kereta api, makanya sering terjadi kecelakaan karena tertutup bangunan tersebut,” ungkapnya kemarin.

Selain itu pihaknya meminta untuk perlintasan tidak berpalang jalur kereta dari Solo sampai ke Grobogan cukup banyak. Dia berharap ada upaya dari PT. KAI untuk menambah palang pintu lantaran sering terjadi kecelakaan melibatkan warga Sragen. (din/nik)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia