Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Kades di Wonogiri Jadi Tersangka Korupsi Dana Desa

Rabu, 07 Nov 2018 22:38 | editor : Fery Ardy Susanto

Pembangunan jalan di Desa Tremes, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri.

Pembangunan jalan di Desa Tremes, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

WONOGIRI - Kejaksaan Negeri Wonogiri menetapkan Kepala Desa Tremes, Kecamatan Sidoharjo Agus Juaer sebagai tersangka korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tremes, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri. Kejaksaan menilai ada penggunaan dana desa yang tidak sesuai peruntukannya. 

Kepala Kejaksaan Negeri Wonogiri Dody Budi Kelana melalui Kasi Pidsus Ismu Armando Suryono mengatakan bahwa Agus Juair ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi dalam pelaksanaan APBDes Desa Tremes Tahun Anggaran 2016 dan 2017. Setidaknya dua alat bukti sudah dikantongi penyidik kejaksaan.

“Ditetapkan sebagai tersangka sejak Selasa (6/11). Surat penetapan tersangka sudah kami kirim ke yang bersangkutan dan keluarganya Selasa (6/11),” kata Ismu, Rabu (7/11).

Menurut Ismu, dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Agus itu merupakan temuan dari Inspektorat Kabupaten Wonogiri. Sebelum bergulir ke kejaksaan, perkara ini sudah didalami oleh Inspektorat Kabupaten Wonogiri. 

“Ada dua alat bukti yakni surat-surat seperti hasil penyelidikan inspektorat, berkas-berkas APBDes Desa Tremes 2016 dan 2017 serta keterangan para saksi,” katanya. 

Setidaknya 19 saksi sudah dilakukan pemeriksaan oleh Jaksa Penyidik Kejaksaan Negeri Wonogiri. Di antaranya perangkat desa, bendahara desa dan sekretaris desa setempat. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa serta Inspektorat Wonogiri juga sudah dimintai keterangan sebagai saksi.

“Saksi bisa bertambah. Soalnya kami juga masih akan datangkan saksi ahli. Yakni mengenai regulasi pengelolaan anggaran dana desa dan saksi ahli untuk menghitung kerugian negara,” paparnya.

Menurut Ismu, pihaknya menduga bahwa ada tambal sulam penggunaan anggaran yang dilakukan oleh tersangka. Dari hasil pemeriksaan saksi akhirnya mengerucut bahwa tersangka tidak melibatkan perangkat desa dalam pengelolaan APBDes. 

“Jadi pengeloaan APBDes itu yang tahu hanya Kades, bendahara desa dan satu orang TPK. Penggunaanya atas perintah Kades,” terangnya. 

Menurut Ismu, ada kegiatan pada APBdes 2016 yang tidak selesai, kemudian dengan menggunakan anggaran APBDes 2017 berusaha diselesaikan, namun tidak selesai juga. Dari situ, dugaan tindak pidana korupsi itu menguat, di mana penggunaan anggaran tidak pada peruntukannya. 

“Misalnya, pembangunan jembatan Semanding. Jalan itu hanya menghubungkan 5 KK saja dengan wilayah sebelah. Anggarannya sekitar Rp 150 juta lebih. Harusnya kan bisa direncanakan, jembatan itu seberapa besar manfaatnya? Apakah menghubungkan dengan desa atau dusun lain, lha ini cuma 5 KK saja,” katanya. 

Pembangunan jalan juga hanya sampai dropping material saja, tidak pernah ada kegiatan pengerjaan. Namun, dalam laporan APBDes dilaporkan selesai 100 persen. “Seratus persen dari mana? Kita cek ke lapangan saja ada yang tidak selesai, hanya dropping material. Toko materialnya juga sudah kami mintai keterangan, sudah tidak mau beri material lagi, karena belum dibayar juga,” terangnya. 

Hasil audit Inspektorat memperkirakan kerugian negara sekitar Rp 300 juta lebih. Namun, bisa jadi berkurang atau bertambah. Hal ini akan ditentukan di persidangan. 

“Saya belum berani menyebut, karena masih akan mendatangkan saksi ahli,” katanya. 

Pekan ini, kejaksaan masih mengagendakan pemeriksaan saksi untuk penajaman. Saksi-saksi yang dahulu pernah dimintai keterangan akan dilakukan pemeriksaan lagi. Dalam waktu dekat, juga akan memeriksa Agus sebagai tersangka. 

Sementara itu Kepala Desa Tremes, Agus Juaer saat didatangi kantornya di Desa Tremes untuk dikonfirmasi tidak ada di tempat. Nomor teleponnya saat dihubungi juga tidak tersambung. Kasi Pemerintahan Desa Tremes, Arif Gunawan menyebut bahwa atasannya itu jarang di kantor. 

“Saya tadi pagi juga dipanggil kejaksaan, dimintai keterangan lagi. Tentang keuangan. Kalau saya jelas tidak bersentuhan,” kata Arif singkat. (kwl/bun)

(rs/kwl/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia