Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Ini Dia Desain Pasar Legi Sesuai Permintaan Wali Kota

Rabu, 07 Nov 2018 22:45 | editor : Fery Ardy Susanto

Pembangunan hanggar untuk lokasi pasar darurat bagi pedagang Pasar Legi terus dikerjakan agar segera bisa ditempati pedagang.

Pembangunan hanggar untuk lokasi pasar darurat bagi pedagang Pasar Legi terus dikerjakan agar segera bisa ditempati pedagang. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO - Pasar Legi bakal dibangun pada triwulan kedua 2019. Pemkot telah memutuskan pasar induk terbesar di eks Karesidenan Surakarta itu berbentuk hanggar.

Wali Kota Surakarta, F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan bentuk hanggar relatif lebih nyaman untuk pedagang dan pembeli. Pasalnya sirkulasi udara lebih baik, tempat berdagang lebih luas serta sistem kontrol keamanan dan kerawanan saat bencana lebih terjaga. Menurutnya, bentuk hanggar juga memenuhi unsur desain modern untuk pasar tradisional.

“Jadi modelnya nanti tidak dua lantai lagi. Satu lantai model hanggar. Pedagangnya los ada di tengah-tengah, dikelilingi kios,” katanya, Rabu (7/11).

Rudy menambahkan, dengan lahan seluas 16.640 meter persegi, pemkot akan membangun Pasar Legi baru di lahan 12.125 meter persegi. Sisanya akan digunakan sebagai lahan parkir dan bongkar muat barang. Luas bangunan pasar diperkirakan sama dengan pasar yang saat ini ada.

“Dengan ukuran segitu cukup untuk menampung semua pedagang. Sekitar 2.000 lebih masuk semua,” imbuhnya.

Pemkot pernah memugar Pasar Legi pada 1992, dari sebelumnya satu lantai menjadi dua lantai. Pada 2006 pemkot melakukan perbaikan atap. Kemudian 2008 ada penambahan bangunan di sisi timur hingga sekarang. Wali kota berharap pembangunan Pasar Legi tahun depan mampu menghidupkan kembali kejayaan Pasar Legi. “Saya belum tau pasar bentuk hanggar di Jawa Tengah. Mudah-mudahan pas,” katanya.

Ketua Komisi III DPRD Surakarta Honda Hendarto mengamini apa yang dikatakan Rudy. Menurutnya, pembangunan Pasar Legi mendesak dilakukan mengingat pasar tersebut menjadi tumpuan ketersediaan bahan pokok di eks karesidenan Surakarta. Pembangunan dengan model hanggar dianggap lebih efisien dan efektif.

“Kalau bentuknya hanggar saya kira setahun selesai. Membangunnya juga relatif lebih murah,” katanya.

Untuk sementara sumber anggaran yang digunakan masih sebatas Rp 30 miliar yang sebelumnya dipersiapkan untuk membangun Pasar Klewer timur. Sisa kebutuhan dana dia ingin pemkot meminta bantuan dari pemerintah propinsi.

“Gubernur seharusnya juga mengerti kalau Pasar Legi adalah pasar induk terbesar yang menopang kebutuhan pokok masyarakat di eks Karesidenan Surakarta,” katanya. (irw/ves/bun)

(rs/irw/ves/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia