Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Jateng

Fenomena Anak Jalanan Mabuk Air Rebusan Pembalut Wanita

Kamis, 08 Nov 2018 08:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Fenomena Anak Jalanan Mabuk Air Rebusan Pembalut Wanita

SEMARANG - Perilaku sejumlah anak jalanan (Anjal) dilingkup daerah Jawa Tengah yang kerap mabuk-mabukan sudah sangat memprihatinkan. Lebih memprihatinkan lagi, mereka mabuk pakai cairan hasil rebusan pembalut wanita bekas yang dianggap bisa membuat fly.

Fenomena ini ditemukan Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Jateng. Menurut Kabid Berantas BNNP Jateng Suprinarto mengungkapkan temuan ini setelah pihaknya mendapat laporan dari masyarakat terkait adanya segerombolan anak jalanan yang mabuk-mabukan mengkonsumsi cairan dari hasil rebusan pembalut wanita.

"Informasi kalau dia itu menggunakan pembalut wanita, yang bekas. Dan ini kita temukan di daerah Kudus, ya kurang lebih 3 bulan yang lalu," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (7/11).

Selanjutnya, adanya laporan tersebut langsung dikoordinasikan dengan psikolog yang telah berkerjasama dengan BNNP Jateng. Hasilnyapun sangat mengejutkan, ternyata informasi tersebut benar adanya. Bahkan, psikolog tersebut telah melakukan penanganan terhadap salah satu pemakainya.

"Disampaikan benar juga bahwa salah satu orang yang ditanganinya mengaku menggunakan pembalut yang direbus. Jadi setelah direbus didiamkan sesaat, kemudian saat dingin baru di minum," katanya.

Dari pengakuan salah satu anak pemakai yang telah ditangani psikolog, Suprinarto menjelaskan mereka mengkonsumsi secara bersama-sama dengan rekanya. Alasan mereka menenggak cairan tersebut bertujuan supaya nge-fly alias mabuk.

"Harapan dia itu mendapatkan efek ngeflay seperti orang setelah menggunakan narkotika jenis sabu atau narkoba yang lain. Rata-rata mereka anak remaja, usianya 13 sampai 16 tahun," bebernya.

Menurutnya, fenomena anak jalanan ini seperti halnya mabuk dengan cara menghisap lem dan sebagainya. Sedangkan cairan dari hasil rebusan pembalut wanita ini, lantaran memperoleh barang tersebut sangat mudah dan nilai ekonomisnya murah.

"Mereka ini awalnya coba-coba. Dari salah satu kelompok ini juga ada yang ikut dengan kelompok-kelompok lain, sehingga kemudian menyebar," ujarnya.

Suprinarto menyebutkan, fenomena mabuk menggunakan air rebusan pembalut sebenarnya sudah lama. Fenomena ini sudah pernah terjadi di daerah Jogjakarta dan Karawang Jawa Barat, bahkan di luar pulau jawa, Bangka Belitung. Fenomena ini terjadi pada tahun 2016 silam.

"Di jawa Tengah ini baru marak-maraknya ditemukan di daerah Kudus, dan pengakuan mereka ini sampai Pati, Juana dan Rembang. Tidak menutup kemungkinan Semarang ada," tegasnya.

Suprinarto menegaskan belum mengetahui secara pasti kandungan zat di dalam pembalut wanita tersebut. Meski demikian, fenomena ini telah terjadi dan adanya salah satu anak yang telah mengakui mabuk dengan cara mengkonsumsi cairan dari hasil rebusan pembalut wanita.

"Menurut mereka, pembalut yang berbentuk punya sayap ini yang lebih manjur untuk bisa membuat nge-flay. Ini ada kandungan gel, apakah penyebabnya gel ini atau gimana kita belum tahu," ujarnya.

Begitu juga terkait jeratan hukum, Suprinarto juga belum bisa membeberkan terkait masuk tidaknya ke dalam ranah pidana.

"Pengguna ini, untuk jeratan hukum kita memang aga sulit. Terus terang saja, ini digunakan untuk diri sendiri, kecuali kalau rebusan ini diproduksi, kemudian sampai diperjual belikan, menyebarkan ya jelas salah. Bisa dihukum," tegasnya.

Menanggapi terkait langkah atau pengawasan yang dilakukan BNNP Jateng, Suprinarto mengatakan pengawasan ini tidak hanya bisa dilakukan oleh BNN saja. Menurutnya, permasalahan ini juga harus melibatkan departemen yang membidangi.

"Apakah departemen sosial, apa kesehatan untuk bisa mengantisipasi seperti ini. BNN hanya sekedar untuk memberikan informasi, dampak penyalahgunaan orang-orang seperti menggunakan narkoba. Sebenarnya ini bukan ranah kita," katanya.

Terkait anak yang mengkonsumsi rebusan pembalut tersebut, Suprinarto menyebutkan masih dalam menjalani rehabilitasi. Namun, pihaknya enggan membeberkan tempat rehabilitasi tersebut.

"Langkah BNNP Jateng, penggunaan seperti ini kan sama halnya penggunaan lem dan macam-macam. Kalau memang ada yang mengirim ke BNN ya istilahnya kita rehab disini. Kalau anak jalanan ini kan sebetulnya urusan departemen sosial," pungkasnya. (mha/JPG/fer)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia