Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Warga Desa Pluneng Kembangkan Kerajinan Dari Limbah Kayu Palet

Kamis, 08 Nov 2018 13:15 | editor : Perdana

EKONOMIS TINGGI: Seorang pekerja memperlihatkan berbagai produk dari limbah kayu palet di Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten.

EKONOMIS TINGGI: Seorang pekerja memperlihatkan berbagai produk dari limbah kayu palet di Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Desa Pluneng di Kecamatan Kebonarum selama ini dilimpahi potensi sumber mata air hingga hadirnya sejumlah pemandian. Tetapi BUMDes Tirta Sejahtera Desa Pluneng tidak hanya mengelola pemandian saja tetapi memiliki unit usaha lainnya yakni berupa kerajinan kayu palet bekas. Menariknya, unit usaha itu merupakan hasil kemitraan antara pengusaha warga Desa Pluneng dengan BUMDes setempat.

”Jadi ini sistemnya kemitraan dengan usaha saya yang di Jogja. Jadi seluruh produk kerajinan kayu palet bekas ini dijual melalui perusahaan saya di Jogja. Seluruh produk juga menggunakan label perusahaan saya,” jelas Direktur BUMDes Tirta Sejahtera, Agus Hariyanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (7/11).

Lebih lanjut, Agus menjelaskan maksud sistem kemitraan yang diterapkan lebih kepada semangat pemberdayaan masyarakat. BUMDes menyediakan tenaga kerjanya dan tempat produksinya. Sedangkan pihaknya menanggung gaji dan fasilitas lainnya bagi 14 pekerja yang seluruhnya warga Desa Pluneng.

”Jadi saat dulu unit usaha ini dirintis pihak pemerintah desa meminta saya untuk membuka usaha di sini. Saya diminta untuk bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga Desa Pluneng sebanyak-banyaknya. Sudah satu tahun ini kemitraan dalam memproduksi kerajinan berbahan kayu palet bekas ini berjalan,” beber Agus.

Ia menjelaskan, ada sejumlah persentase yang diterapkan dalam pembayaran gaji kepada tenaga kerja. Termasuk keuntungannya dari hasil penjualan kerajinan kayu palet tersebut mengalir ke BUMDes. Hanya saja dirinya tidak merinci secara detail bagaimana pembagiannya dari pengelolan unit usaha tersebut.

”Berbagai produk kerajinan kami banyak diminati terutama untuk hiasan dinding. Sebenarnya banyak macamnya seperti rak untuk menempatkan majalah maupun buku, kotak P3K hingga untuk gantungan kunci. Tergantung mereka yang memasan mau digunakan untuk apa,” paparnya.

Dalam sebulan mampu memproduksi 800 biji dengan berbagai jenis kerajinan kayu palet. Jika dihitung dalam omset bisa mencapai Rp 50 juta per bulan. Hanya saja dirinya menegaskan omset yang diperoleh tidak serta merta masuk ke BUMDes karena ada bagi hasil dengan tenaga kerja pula.

Agus mengatakan, produk kerajinan kayu palet yang dibuat warga Desa Pluneng itu sudah diperjualbelikan hingga ke sejumlah mall di Jakarta, Tangerang dan Bekasi dengan label stiletto in style. Terlebih lagi 70 persen penjualannya dilakukan secara online ke sejumlah kota besar di Indonesia. Harga yang dibandrol mulai Rp 40 ribu hingga Rp 300 ribu.

Salah satu tenaga kerja, Giyanto, 47, mengatakan bahan utama kayu palet berasal dari limbah kering dari sejumlah perusahaan di Kecamatan Prambanan. Ada 20 jenis produk yang bisa dihasilkan Giyanto bersama warga Desa Pluneng lainnya.

”Setidaknya untuk kebutuhan kayu paletnya setiap kali datang terdapat 700 biji dengan kondisi yang beragam. Maka dibutuhkan beberapa hari untuk mengelolaannya sehingga dapat dijadikan bahan untuk membuat berbagai macam jenis produk setiap harinya,” ucapnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia