Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Tuangkan Sejarah Perjuangan Merebut Kemerdekaan lewat Batik

Jumat, 09 Nov 2018 07:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Batik tema perjuangan karya perajin batik Laweyan.

Batik tema perjuangan karya perajin batik Laweyan. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

EKSPRESI mengenang pahlawan kemerdekaan bisa diungkapkan lewat media apa pun. Alpha Febela Priyatmono, pengusaha batik Laweyan ini membuat konsep batik wayang beber bertema pahlawan.

 SEORANG pria sedang mengamati beberapa orang yang sedang menyelesaikan proses mewarnai sketsa pahlawan di atas kain putih panjang. Sketsa tersebut mengisahkan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah hingga mempertahankan kemerdekaan Indonesia.  

Dia adalah Alpha Febela Priyatmono. Pemilik salah satu rumah produksi batik tulis di Laweyan yang juga inisiator batik pahlawan ini. Sudah kali ketiga dirinya membuat karya dari batik yang berkaitan dengan sejarah Indonesia.

“Sebelumnya kami membuat teks proklamasi pada Agustus kemarin dan teks sumpah pemuda untuk memperingati sumpah pemuda lalu,” ujar sang pencetus ide, Alpha kepada Jawa Pos Radar Solo sambil menunjukkan foto teks sumpah pemuda yang berukuran 3x5 meter yang dibingkai dengan motif batik dari penjuru nusantara. Batik yang bertema perjuangan para pahlawan sepanjang 10 meter ini berisi cerita perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.

Markus Djoko Sukristiyanto, sang pelukis menjelaskan, sekuel cerita pahlawan ini diawali dengan perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa melawan penjajah Belanda. Kemudian kisah Diponegoro,  Sarekat Dagang Islam KH Samanhudi, momen Proklamasi 17 Agustus 1945, dan peristiwa penyobekan bendera di Hotel Yamato Surabaya.

Dilanjutkan Bung Tomo saat mengobarkan semangat arek-arek Surabaya untuk tidak menyerah pada Sekutu, kemudian t peristiwa di Kampung Batik Batik Laweyan saat dibom pada agresi militer ke-2 oleh Belanda dan terakhir kisah Palagan Ambarawa.

“Kami masukkan Laweyan, karena di situ banyak rumah-rumah yang dibom saat agresi militer dua,” terangnya

Alpha juga menambahkan, untuk membuat satu seri cerita membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Karena banyak proses yang harus dilalui.

“Karena ini momennya mendekati hari pahlawan jadi kami memfokuskan pada yang ini,” jelasnya sambil menunjukkan gambar Bung Tomo yang sudah 80 persen terwarnai dan juga beberapa bagian pada peristiwa penyobekan bendera di Hotel Yamato.

Selama ini Alpha memang gencar untuk merekam sejarah melalui seni batik dan wayang beber ini. Menurutnya kedua media tersebut adalah alat yang efektif untuk mengedukasi, terutama terkait sejarah.

Selain wayang beber batik bertema pahlawan, rumah produksi batik milik Alpha juga membuat berbagai wayang beber. Salah satu karya yang ditunjukkan kepada koran ini adalah wayang beber Perang Baratayuda. Ada juga Alquran batik tiga puluh juz yang dikerjakan dengan ornamen batik. 

Pihaknya ingin merekam sejarah dengan media batik karena batik merupakan cagar budaya Indonesia. Terlebih, Kampung Batik Laweyan sendiri, juga menjadi bagian dari objek vital pengembangan wisata di Jawa Tengah. Melalui batik, Alpha juga banyak merencanakan pembuatan wayang beber dengan tema berbeda. Seperti peristiwa erupsi Merapi, tsunami di Aceh, sejarah Muhammadiyah dan sejarah Kampung Batik Laweyan itu sendiri.

“Beberapa karya kami gulung,  karena kalau dibeber semua tidak ada tempat,” jelas Alpa yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut.

Selama ini karya beber yang digarap timnya ini masih menjadi koleksi pribadi.  Pihaknya mengaku banyak tawaran pameran dari Ibu Kota.  Namin, ia ingin menyelesaikan sejumlah proyek tersebut. (mg5/mg6/mg7/bun) 

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia