Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Bengawan Solo Tercemar Lagi, Pasokan Air Enam Kelurahan Distop

Jumat, 09 Nov 2018 08:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Kondisi air Sungai Bengawan Solo yang keruh.

Kondisi air Sungai Bengawan Solo yang keruh. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO - Baru mengalir normal selama dua hari ke rumah tangga pelanggan, Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Surakarta kembali menonaktifkan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jebres dan Jurug, Kamis (8/11) pagi. Langkah ini dilakukan karena kondisi Sungai Bengawan Solo sebagai bahan baku air PDAM itu kembali tercemar limbah.

Benar saja, ketika koran ini mendatangi IPA Jurug, tidak ada aktivitas di bangunan tersebut. Mesin yang biasanya berfungsi menghasilkan 150 liter per detik untuk 12 ribu pelanggan di enam kelurahan di Kecamatan Jebres dan satu kelurahan di Pasar Kliwon juga terlihat mati.

Di antaranya Kelurahan Mojosongo, Jebres, Pucangsawit, Jagalan, Purwodiningratan, Gandekan dan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon.

Staf Bidang Produksi IPA Jebres-Jurug Budi Setiawan mengaku kurang tahu persis sejak kapan air baku kembali tercemar.

“Ketika saya sampai, kondisi air baku sudah seperti ini, hitam dan berbau menyengat,” ujarnya kemarin.

Budi mengatakan, pihaknya sudah mengambil sejumlah tindakan. Yaitu dengan memasukkan air baku ke dalam tangki yang berisi lumpur untuk mengikat kotoran. Namun hasilnya masih tetap sama.

“Tidak sesuai dengan baku mutu yang ditentukan. Ssetelah itu saya memberitahu kantor cabang dan diperintahkan untuk tidak beroprasi dahulu,” katanya. 

Ditambahkan Budi, kondisi air baku yang tercemar limbah pernah terjadi pada 2008 silam, namun tidak separah kali ini.

“Kali ini yang paling parah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir,” tutur Budi

Kejadian tersebut dibenarkan oleh Direktur Teknis (Dirtek) PDAM Surakarta  Tri Atmojo Sukomulyo. Pasca mendapat laporan,  pria ini langsung datang ke IPA Jurug,  dan mengambil kebijakan untuk sementara waktu tidak mengoprasionalkan IPA Jurug dan Jebres.

“Saya sendiri mendapat laporan dari staf yang berjaga di sekitar Kali Kadokan kemarin (7/11) sekitar pukul 17.00. Hingga malam kemarin terjadi perubahan warna hitam pekat, bahkan baunya seperti bau solar atau limbah minyak,” kata Tri.

Tri meyakini sumber utama pencemaran air baku Sungai Bengawan Solo kali ini sama seperti sebelumnya, yakni berasal dari aliran Kali Samin di Sukoharjo. Sebab, dari sisi warna dan bau menyengat yang ditimbulkan sama persis ketika bahan baku air yang selama ini diolah PDAM Surakarta terpapar polutan beberapa pekan silam.

Dia menyebut, ketika kondisi air di Kali Samin terpantau tidak berwarna hitam pekat dan berbau pada awal pekan lalu. Pihaknya nyatanya masih bisa mengola air baku Sungai Bengawan Solo menjadi air bersih di IPA Jebres dan Jurug. Padahal, saat itu petugas mendapati air baku Sungai Bengawan Solo terpapar juga limbah dari Kali Premulung dan Kali Jenes. Namun masih sesuai dengan standar mutu baku. 

“Paling dominan mencemari air baku Sungai Bengawan ada di Kali Samin. Dampaknya, IPA Jebres dan Jurug tak mampu lagi mengolah air baku sungai menjadi air bersih, apalagi di IPA Semanggi yang saluran intake-nya dekat dengan Kali Samin,” kata Tri.

Setelah menonaktifkan IPA,  lanjut Tri, pihaknya juga langsung melaporkan hal tersebut kepada Perum Jasa Tirta 1 Malang yang selama ini menjadi penanggungjawab penyediaan bahan baku air kepada PDAM Surakarta. Laporan tersebut langsung ditanggapi dengan menerjunkan tim dari Jasa Tirta untuk menelusuri asal muasal limbah tersebut. 

Pria ini berharap Perum Jasa Tirta I segera menggelar rapat pleno guna membahas penanganan pencemaran air Sungai Bengawan Solo. Perumda Air Minum tidak bisa jalan sendiri mengatasi masalah lingkungan tersebut.  Pihaknya juga berharap kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surakarta, Sukoharjo, termasuk Provinsi Jawa Tengah (Jateng) untuk segera mencari tahu dan mengatasi penyebab kondisi air Sungai Bengawan Solo yang saat ini tercemar.

 “Saat ini truk tangki sudah standby sembilan unit, empat bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sisanya milik kita. Kami selama ini rutin memantau kondisi air baku Sungai Bengawan Solo. Bidang laboratorium bahkan setiap hari mengambil sampel air. Jika kualitas hasil olahan air baku sungai telah sesuai dengan baku mutu, kami akan kembali mendistribusikan air bersih itu ke rumah-rumah pelanggan,” paparnya. (atn/bun)

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia