Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Martabat Manusia

Jumat, 09 Nov 2018 19:22 | editor : Fery Ardy Susanto

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan.

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan. (DOK.PRIBADI)

Berita Terkait

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam….” (HR Bukhari dan Muslim) 

DALAM kehidupan sehari-hari, kita masih sering menjumpai ada orang yang suka mengumpat atau mencela. Tidak hanya di dunia nyata, namun juga marak terjadi di dunia maya. Tidak hanya rakyat biasa, namun ada juga dari orang terhormat, bahkan mereka yang memiliki jabatan publik.

Ditambah lagi ini merupakan tahun politik. Sedikit salah berucap bisa menjadi petaka. Kondisi ini tentu sangat rawan memicu gesekan atau bahkan perpecahan di masyarakat. Lantas seperti apa sebenarnya posisi orang yang sering mengumpat dalam ajaran Islam.

Allah SWT dalam QS Al-Humazah berfirman yang artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela”.

Hammaz dalam ayat di atas berarti banyak mengumpat atau menjelekkan atau merendahkan orang lain. Sedangkan ancaman wail dalam ayat tersebut merupakan ancaman yang serius karena salah satu tafsir menyatakan bahwa wail merupakan lembah di neraka.

Dalam QS Al Ghasyiyah (nomor 88 ayat 1-7, Allah menggambarkan betapa ngerinya ciri khas neraka sehingga banyak wajah yang tertunduk hina karena mereka memasuki api yang sangat panas, diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas, tak ada makanan dari mereka selain  dari pohon yang berduri dan seterusnya yang sangat mengerikan.

Berkata kasar, mengumpat dan mengolok-olok orang lain dengan kata-kata kasar atau jorok bukanlah sifat orang beriman. Karena orang beriman selalu menjaga lisannya. Rasulullah SAW juga memerintahkan umatnya agar berkata yang baik sebagaimana termaktub dalam hadis dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam ….” (HR Bukhari dan Muslim).

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.  Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.

Dengan demikian, seorang muslim wajib menjaga lisannya agar kata-kata yang keluar adalah yang baik dan bermanfaat. Setiap kali berbicara, ingatlah bahwa ada malaikat yang mencatatnya. Dan akan datang hari pertanggungjawaban atas apa yang pernah keluar dari mulut. Sebagaimana sebuah hadis yang mengisahkan suatu hari salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW.

“Wahai Rasul, apakah kita akan bertanggung jawab atas apa yang kita katakan?” Rasul pun menjawab: “Demi ibu yang telah mengandungmu, sesungguhnya mereka akan dicampakkan ke dalam api neraka dengan muka ke arah bawah hanya karena apa yang telah diucapkan oleh lidah mereka.” (HR At Tirmidzi).

Seorang muslim idealnya meneladani rasulnya karena manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini adalah Muhammad SAW. Beliau merupakan suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Aisah ra, istri Rasulullah menggambarkan akhlak Rasulullah sebagai berikut:

“Beliau tidak pernah bicara tak senonoh dan menggunakan kata-kata yang kotor. Beliau tidak pernah berteriak dan membalas kejahatan dengan kejahatan pula. Beliau seringkali memaafkan orang dan melupakan dosa-dosa orang tersebut.” (HR At Tirmidzi).

Apa yang telah terucap tidak bisa ditarik kembali sehingga seorang muslim harus ekstra hati-hati sebelum berucap. Sebagaimana orang bijak mengatakan, “mulutmu harimaumu” yang bermakna bahwa segala perkataan yang keluar dari mulut apabila tidak dipikirkan terlebih dahulu akan dapat mencelakakan diri sendiri sebagaimana harimau yang tiba-tiba berbalik menerkam pawangnya.

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu'min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allāh benci dengan orang yang lisānnya kotor dan kasar" (HR At Tirmidzi).

HadÄ«s ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara akhlak yang mulia (martabatnya) dengan lisān yang kotor. Artinya, jika ingin menjadi orang yang berakhlak  mulia dan bermartabat maka tidak boleh memiliki lisān yang kotor. Maka, salah satu ukuran yang akurat untuk menilai seorang itu bermartabat atau tidak adalah dengan memperhatikan yang keluar dari lisānnya.

Mari kita jaga lisan kita agar menjadi muslim yang bermartabat lebih-lebih di tahun politik ketika kita memilih pemimpin, mulai dari DPR sampai presiden, tentu suhu politik akan semakin panas. Bagi orang yang beriman harus tetap menjaga lisan dan perbuatan agar tetap bermartabat.

Martabat adalah kehormatan dan kehormatan adalah harga diri. Kumpulan dari harga diri orang orang adalah harga diri sebuah bangsa. Bercerminlah dari bangsa yang bermartabat agar menjadi bangsa yang bermartabat. Aamiin aamiin aamiin.

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia