Selasa, 22 Jan 2019
radarsolo
icon featured
Features
Hari Pahlawan

Joko Ramlan, Saksi Hidup Serangan Umum 4 Hari Solo

10 November 2018, 11: 41: 13 WIB | editor : Perdana

Mbah Joko Ramlan

Mbah Joko Ramlan

Radarsolo.co.id - Selogan Bersama Rakyat TNI Kuat ternyata sudah ada sejak zaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Rakyat membantu pejuang-pejuang yang kekurangan logistik dan peralatan perang. Itu juga yang dialami Joko Ramlan, salah satu veteran pejuang kemerdekaan.

Joko merupakan salah satu pejuang yang mempertahankan kemerdekaan RI saat terjadi agresi militer Belanda. Setelah sekutu dinyatakan menang di Perang Dunia II, Belanda kembali lagi ke Indonesia paska Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Terjadi pertempuran di berbagai daerah untuk mengusir Belanda. Jika Surabaya terjadi pertempuran hebat melawan Belanda pada 10 November, Solo tak luput dari agresi Belanda. Sejumlah tempat kembali dikuasai pasukan Belanda.

Mbah Joko Ramlan mengenakan seragam tentara pelajar (kanan)

Mbah Joko Ramlan mengenakan seragam tentara pelajar (kanan)

"Saat itu tentara-tentara Belanda mulai merangsek ke Kota Solo tahun 1948. Saya masih sekolah setingkat SMP, saya memutuskan ikut berjuang," jelas Joko ditemui di rumahnya di Kampung Gremet, Manahan, Solo.

Joko Ramlan berjuang melalui laskar-laskar maupun kelompok pemuda yang akhirnya menamakan diri Tentara Pelajar (TP) atau Brigade-17 TNI dipimpin Mayor Achmadi.

"Saat itu pelajar masih sedikit, lalu pemuda terpelajar jadi yang terdepan. Di Solo dibentuk pelajar berjuang bersenjata," imbuh kakek kelahiran Solo, 21 Januari 1930 ini.

Tentara Pelajar memutuskan keluar kota untuk melancarkan serangan gerilya. Namun barisan Tentara Pelajar hanya mengandalkan senjata sitaan dari Jepang. Karena kurang senjata, mereka menggunakan strategi perang gerilya.

"Di bawah komando, tentara pelajar selalu berpindah-pindah. Wilayah radius 15 km dari pusat kota yang saat itu perempatan pasar pon sudah dikuasai Belanda," jelas kakek tiga cucu ini.

Mayor Achmadi, lanjut Joko, memutuskan untuk membagi anggota tentara pelajar yang jumlahnya sekitar 2.000 orang menjadi rayon-rayon. Rayon I untuk wilayah selatan memulai gerilya dari batas Wonogiri-Solo hingga batas Solo-Tawangmangu. Rayon II wilayah utara perbatasan Solo-Sumberlawang, Rayon III perbatasan Solo-Boyolali rayon III, dan rayon IV perbatasan Solo-Boyolali hingga Solo-Wonogiri.

"Saya masuk di Rayon II. Memulai gerilya dari wilayah utara," jelasnya.

Selama gerilya, banyak tentara Belanda yang dilucuti senjatanya dengan cara diteror. "Setiap peluru sangat berarti, satu peluru harus membunuh satu tentara Belanda, jadi kita manfaatkan betul persenjataan yang ada," imbuhnya.

Para Tentara Pelajar juga masuk ke desa-desa untuk bersembunyi maupun meminta bantuan dari masyarakat. "Kalau siang senjata kita sembunyikan di semak-semak pohon bambu, malamnya kita bawa dan kita sembunyikan di balik sarung yang kita pakai," terangnya.

Joko begitu teringat kebersamaan antara TNI dengan rakyat. Selama bergerilya merangsek masuk ke wilayah Solo, para Tentara Pelajar tak kekurangan bahan makanan karena masyarakat menyediakanya.

"Di jalan-jalan sepanjang rute gerilya ada kendi-kendi (tempat air minum dari tanah liat,red) berisi air untuk minum. Ada pula makanan yang diberikan, tapi itu diberikan secara sembunyi karena tentara Belanda masih patroli," terangnya.

Puncaknya, menjelang gencatan senjata 11 Agustus 1949, serangan semakin digencarkan. Dia juga menjadi saksi saat para pejuang berkumpul di daerah Wonosido, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen.

"Mayor Achmadi mengatakan sebelum jam 00.00 WIB tanggal 10 Agustus, harus sudah bisa merebut Kota Solo. Selama empat hari dari 7 sampai 10 Agustus kita bergerilya, jadi begitu jam 6 pagi, peluru harus sudah ditembakkan, itu pesannya," kenang Joko menirukan perkataan Mayor Achmadi.

Tentara Pelajar bersama Brigade V pimpinan Letnan Kolonel Slamet Riyadi berhasil merebut kembali Kota Solo.

"Saya masih ingat betul saat wilayah selatan Jalan Slamet Riyadi berhasil dikuasai, sementara beberapa wilayah utara masih diduduki Belanda," terangnya.

Kini, Joko menghabiskan sisa hidupnya di rumah. Joko sempat menjadi tenaga pengajar pendidikan kewarganegaraan di beberapa perguruan tinggi swasta di Kota Solo. (adi)

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia