Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features

Pelajar Wonogiri Suling Plastik Jadi Premium Pakai Kaleng Bekas

14 November 2018, 09: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Megy memperlihatkan peralatan untuk menyuling bahan bakar minyak dari plastik.

Megy memperlihatkan peralatan untuk menyuling bahan bakar minyak dari plastik. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Memiliki rasa ingin tahu yang besar, didukung suka otak-atik barang, pelajar SMA Negeri 1 Baturetno, Wonogiri ini berhasil menyuling kantong plastik bekas menjadi bahan bakar minyak. Seperti apa kiprah remaja asal Batuwarno ini?

IWAN KAWUL, Wonogiri 

MENDENGAR informasi adanya seorang remaja yang berhasil menyuling plastik menjadi bahan bakar minyak, yang terlintas dalam benak adalah rangkaian alat-alat yang rumit dan mesin-mesin canggih. Namun, apa yang dilakukan Megy Dwi Setiawan, pelajar kelas XII SMA Negeri 1 Baturetno ini mungkin belum terpikir bagi kebanyakan orang. Berbekal bahan-bahan sederhana, yakni kaleng roti bekas dan peralon, dia berhasil membuat bahan bakar minyak dari bahan baku plasik.

“Sudah hampir dua bulan ini melakukan eksperimen menyuling plastik menjadi bahan bakar,” kata anak pasangan Sarwo dan Tarwini ini. Sayang sekali, saat koran ini bertandang ke rumahnya di Dusun Karanggatak RT 1 RW 8, Desa Batuwarno, Kecamatan Batuwarno cuaca tidak memungkinkan bagi Megy untuk mendemonstrasikan penyulingannya itu. 

Semula Megy mendapatkan ide menyuling kantong plastik ini dari siaran televisi, itupun hanya melihat judulnya saja saat dirinya memindah channel karena jeda iklan. Saat dilihat kembali, ternyata tayangan sudah selesai. Rasa penasaran masih bergelayut di benaknya kala itu, hingga kemudian berkonsultasi dengan guru kimia di sekolah. 

“Akhirnya saya tanya ke guru kimia. Saya kan anak IPS tidak paham masalah seperti itu,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini. 

Kemudian mulailah dia membuat alat-alat untuk penyulingan. Barang-barang bekas seperti kaleng roti dimanfaatkan sebagai alat untuk menyuling. Setidaknya dibutuhkan tiga kaleng bekas, pipa peralon, selang dan pipa besi. Hal pertama yang dilakukan yakni menyambung dua kaleng bekas roti dengan las. Kemudian mengelas pipa besi pada bagian tutup kaleng lalu menyambungkannya dengan selang. ‘

Proses yang sama dilakukan untuk satu kaleng sisanya. Dua alat ini memiliki fungsi yang berbeda. Kaleng yang tinggi untuk menyuling plastik, sedangkan kaleng yang rendah untuk menyuling hasil sulingan pertama. 

“Untuk membuat alat-alat ini habisnya Rp 40 ribu. Biaya itu untuk beli peralon, selang, pipa besi dan mengelas,” kata remaja kelahiran 2001 ini. 

Cara membuatnya, kantong plastik yang sudah dikeringkan dimasukkan ke kaleng penyulingan lalu dibakar dengan kayu bakar layaknya memasak. Tidak memerlukan waktu lama, uap yang ditangkap melalui pipa besi yang dipasang ditutup kaleng mengalir melalui selang. Di dalam selang terjadi pendinginan. Uap berubah menjadi cair dan menetes sedikit demi sedikit. 

“Tetesan uap ini sudah menjadi minyak, tapi masih mentah. Warnanya gelap, namun sudah menyala jika dibakar. Untuk menjernihkan perlu disuling lagi dengan kaleng yang satunya,” katanya. 

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Megy sempat beberapa kali melakukan percobaan bahan baku yang disuling. Pertama kali yang coba disuling yakni botol-botol plastik bekas, seperti botol air minum. Namun, hasil sulingannya tampak kotor, hitam dan ada beberapa yang menggumpal. Kemudian dia mencoba menyuling kantong plastik. Hasilnya lebih cepat dan warna minyaknya kuning jernih, namun tidak sejernih premium. 

“Kantong plastik yang hasilnya baik itu yang tidak berwarna, yang putih atau bening. Kalau yang lurik-lurik atau berwarna kejernihannya kurang,” ujarnya. 

Untuk setiap satu kaleng penuh plastik yang dipadatkan lalu disuling dapat menghasilkan setengah liter minyak mentah kemudian disuling lagi menjadi bersih dan jernih dengan hasil yang hampir sama.

Dalam hitung-hitungan Megy, biaya produksi bisa jadi nol rupiah, karena selama eksperimen tidak ada bahan baku yang dibeli. Kayu bakar tinggal ambil di dapur rumahnya, sedangkan plastik yang akan disuling biasa dia ambil dari tempat sampah sekolahnya. 

“Sampai saat ini biaya produksi tidak ada, hanya biaya buat alat-alatnya itu saja,” terangnya. 

Sampai saat ini, Megy masih belum tahu apa yang harus dilakukan untuk menggunakan bahan bakar hasil sulingannya itu. Untuk menggunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor juga belum berani mencoba karena bahan bakar hasil sulingannya belum teruji. 

“Sampai saat ini hanya digunakan sendiri saja, untuk menyalakan kayu bakar kalau memasak,” ujarnya. (*/bun)

(rs/kwl/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia