Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

OJK Siapkan Payung Hukum untuk Dorong Pertumbuhan Investor

17 November 2018, 17: 16: 44 WIB | editor : Perdana

OJK Siapkan Payung Hukum untuk Dorong Pertumbuhan Investor

SOLO - Otoritas Jasa Keuangan terus mendorong agar jumlah investor di dalam negeri terus bertambah. Salah satunya dengan menyiapkan payung hukum bagi para pelakunya. Regulasi yang dimatangkan ini adalah tentang penyediaan perusahaan efek daerah.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengurai bahwa latar belakang untuk mendongkrak jumlah investor salah satunya dengan membuat payung hukum. Sebab jumlah investor dalam negeri masih kurang dari satu juta investor.  Padahal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini yang mencapai Rp 260 juta perbandingan ini cukup jauh. "Latar belakangnya untuk mendongkrak jumlah Investor ini. Dengan melihat kondisi ini banyak yang  perlu diperhatikan," ujarnya pada Jawapos Radar Solo kemarin (17/11).

Apalagi pasar modal sendiri sudah dilakukan swastanisasi sejak tahun 1992. Sehingga dengan adanya wacana perusahaan efek di daerah, diharapkan dapat mempercepat dan mampu meningkatkan jumlah investor dalam negeri  utamanya menyasar pada masyarakat yang selama ini kesulitan mendapatkan akses.

"Apalagi selama ini kebanyakan AB (anggota bursa, red) kebanyakan berada di ibukota," jelasnya. 

Memang diakui jika sebagian berada di cabang. Namun ketika diminta untuk membuka cabang baru lagi mereka akan merasa terbebani. Apalagi biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. "Sehingga  dengan konsep ini nantinya bisa berbagi biaya dan berbagi hasil," jelasnya. 

Sedangkan dari pemetaan sementara yang dilakukan potensi daerah untuk membentuk perusahaan efek dirasa cukup besar, khususnya dari BPD. Namun begitu tidak menutup kemungkinan ada bahan usaha lainnya yang mampu dan memenuhi syarat. "Kalau regulasinya memang terus dimatangkan. Namun demikian, harapannya nanti untuk syarat perusahaan efek daerah juga lebih ringan. Untuk modal, konsepnya dibawah Rp 5 miliar," ujarnya.

Sementara itu Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Syafruddin menambahkan bahwa saat ini mayoritas investor masih berkutat di pulau Jawa dan pemerataan masih minim. Dari data yang ada, jumlah investor di Jawa mencapai 73,78 persen. Padahal di pulau Sumatera saja jumlah investornya masih 14 persen. Dan data terencana masih di Papua dan Maluku dengan prosentase hanya 1,14 persen.

"Kalau usia mayoritas dari rentang waktu 21-30 tahun. Pelakunya kebanyakan mahasiswa hingga pekerja," tandasnya. (vit)

(rs/vit/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia