Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Prihatin Budaya Terkikis,Seniman Ajarkan Tari Klasik ke Generasi Muda

17 November 2018, 18: 34: 46 WIB | editor : Perdana

LESTARIKAN BUDAYA: Supriyadi memberikan latihan tari klasik kepada anak didiknya. 

LESTARIKAN BUDAYA: Supriyadi memberikan latihan tari klasik kepada anak didiknya.  (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Meski sudah melalangbuana di tiga benua untuk mementaskan tari klasik, tetapi Supriyadi, 49, tetap tidak melupakan tanah kelahirannya. Lewat sanggar tari yang dia dirikan, pria asli Klaten ini bertekad untuk mengkader generasi muda untuk mencintai budaya mereka. Seperti apa kisahnya?

ANGGA PURENDA, Klaten

Jadwal yang begitu padat tidak membuat Supriyadi, 49, merasa terbebani untuk mengajarkan tari klasik kepada generasi muda. Ditemui di Gedung Sunan Pandanaran, kompleks RSPD Klaten kemarin, tampak pria yang akrab dipanggil Jimbling ini sedang melatih dua anak didiknya. Sesekali dirinya berada di depan memberikan contoh gerakan yang harus ditirukan. 

Rambutnya yang panjang pun diikatnya agar tidak mengganggu saat memberikan contoh gerakan tari klasik khusus bagi perempuan.  Jimbling terlihat luwes dalam menggerakkan tangan dan kakinya saat menari. Ia begitu menjiwa setelah gerakan yang dilakukannya karena tari klasik sarat dengan makna.

Darah seni yang begitu kuat mengalir di denyut nadi Jimbling ini tidak bisa dipisahkan dari ibunya. Dikarenakan seluruh keluarga besar dari orang tuanya merupakan seniman, mulai dari dalang hingga pemain ketoprak. Hal ini yang membuat Jimbling sejak kelas 2 SD sudah bergabung di sangar tari di sekitar tempat tinggalnya, Dusun Noyotrunan, Desa Cawas, Kecamatan Cawas.

“Saya masih ingat betul saat itu sudah ikut di sanggar tari sejak SD. Begitu tertarik dengan tari klasik yang saya tekuni hingga saat ini. Tarian klasik pertama saya pelajari adalah Cantrik Jonoloka, kemudian menyusul tari Gambiranom,” jelas pria yang memiliki dua sanggar tari di Kentungan, Jogja dan Cawas, Klaten ini, Jumat (16/11).

Ketertarikan pada tari klasik terus berlanjut hingga masuk SMP dan tetap dibawa saat duduk di bangku SMA. Meski saat itu peserta sanggar khususnya pria berkurang, namun dia tetap kukuh menekuni seni tari. Ia memberikan semangat pada dirinya sendiri hingga akhirnya memantapkan diri untuk kuliah di jurusan seni drama tari dan musik di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Guna mengasah kemampuannya, Jimbling tidak hanya menyerap materi di kampusnya saja. Tetapi juga mengikuti sejumlah sanggar ternama milik Didik Nini Thowok hingga Bagong Kussudiardja. Jimbling mempelajari secara khusus tarian klasik yang dinilainya memiliki filosofi sehingga membuatnya semakin tertarik untuk mempelajarinya.

“Setiap karya tarian tradisional pasti memiliki kandungan filosofi yang begitu tinggi. Contohnya tari Gambyong Pareanom yang menggambarkan seorang perempuan berusia 16-17 tahun, sedang genit-genitnya. Gerakannya yang dinamis dan penuh energik sehingga sering kali ditarikan saat penyambutan tamu penting,” jelas anak pertama dari pasangan Narto Saliman, 65 dan Sumiarsih, 62 ini

Kemampuan dalam menarikan tari klasik membuat sejumlah tawaran untuk mementaskan di luar negeri datang kepadanya. Terhitung Supriyadi pernah menginjakkan kakinya di Amerika Serikat sebanyak dua kali. Lantas terbang ke Benua Australia dan ke daratan Eropa di Belanda.

Jimbling juga tercatat sering kali memerankan berbagai tokoh dalam sendra tari Ramayana di Candi Prambanan. Kenyang akan pengalaman menarinya tidak membuat dirinya pelit untuk berbagi ilmu. Sejak 1991, Jimbling sudah membuka sanggar tari di Jogja serta pada 1992 di Cawas, Klaten dengan sebutan payung muntho.

“Saat saya masih dikontrakan di Jogja ternyata banyak yang minat untuk berlatih menari dengan saya. Maka itu saya putuskan untuk mendirikan sanggar tari untuk mengajarkan tari klasik hingga kreasi kepada mereka. Mulai dari kelas anak-anak, dewasa hingga orang tua dengan dibantu sembilan asisten saya saat ini,” jelas Ketua Paguyuban Seniman Tari Kabupaten Klaten, Waton Muni 

Motivasi Jimbling mendirikan sanggar tari bukan hanya sekadar berlatih mengikuti perlombaan saja. Ia mengungkapkan, jika lebih dari itu, di samping mempersiapkan anak didikan untuk pentas di berbagai acara, ia menginginkan adanya penerus untuk melestarikan tari klasik yang selama ini menjadi identitas bangsa.

“Melalui tarian klasik ini saya juga ingin menanamkan karakter pada anak-anak mengenai unggah-ungguh. Terlebih lagi mereka yang mencintai seni tradisional pasti memiliki etika dan estetikanya berimbang,” ujarnya. (*/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia