Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Solo
Pasar Rakyat Sekaten

Hanya Sewakan Toilet, Sebulan Kantongi Rp 7 Juta

18 November 2018, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Hanya Sewakan Toilet, Sebulan Kantongi Rp 7 Juta

SOLO - Sekaten tidak sekadar pergelaran budaya. Ada sumber penghidupan banyak orang. Karena itu, event yang diinisiasi Keraton Kasunanan Surakarta tersebut tidak pernah sepi. Selalu dinanti.

Jika tidak hujan, perputaran uang di pasar rakyat Sekaten bisa tembus ratusan juta rupiah per hari. Omzet yang menggiurkan itu membuat Sumanto, 59, pemilik hiburan Ponco Ria bersama seluruh krunya tidak pernah absen tampil di Sekaten.

“Ada tiga grup pengusaha hiburan di sini (Sekaten, Red). Yakni Diana Ria (Demak), Berkah Ria (Klaten), dan Ponco Ria. Kontraknya (kerja sama, Red) ada di tangan Diana Ria dengan keratin. Saya cuma nebeng (menumpang, Red),” kelakar Sumanto.

Pengusaha hiburan asal Klaten ini membawa satu set permainan dengan jumlah sepuluh wahana. Di antaranya mandi bola, bianglala, ombak air, komedi putar, capung atas, kapal air, dan tong stand.

Menyesuaikan konsep yakni hiburan rakyat, maka tarif wahana permainan juga terjangkau. Mulai dari Rp 7.000 sampai Rp 10.000 sekali naik. “Kalau mahal siapa yang mau,” terang kakek Sembilan cucu tersebut.

Pria yang akrab disapa Manto tersebut sudah puluhan tahun menggeluti bisnis wahana permainan. Berawal ketika umur 14 tahun. Saat itu Manto putus sekolah dan tak banyak pilihan dalam dunia kerja.

Dia pernah merasakan upah senilai Rp 900 per bulan pada 1974. Karena ketelatenannya, Manto bisa mengembangkan usaha berbekal pengalaman menjadi koordinator pasar malam.

Tabungannya “dijebol” untuk membeli wahana mandi bola. “Setelah itu saya kembangkan wahana kapal air, bertambah komedi putar dan capung atas. Lama kelamaan terus berkembang. Saat ini sudah punya dua set wahana yang masing-masing berisi sembilan wahana,” jelasnya.

Hari pertama pasar rakyat Sekaten dibuka, Manto hanya mendapatkan Rp 700 ribu. Nominal tersebut belum dipotong untuk beli bahan bakar minyak (BBM) untuk menghidupkan mesin disel semalam sebanyak 30 liter dan uang makan harian 18 pegawainya.

Untungnya, tiga hari terakhir, pendapatannya berlipat hingga mencapai Rp 5 juta per hari. “Kalau ditanya kuntungan tertinggi dalam semalam bisa sampai Rp 25 juta. Asal cuaca cerah,” katanya.

Soal persaingan dengan pemilik wahana permainan lainnya, Manto menegaskan selalu sehat. Sebab mereka cukup lama bekerja sama di setiap gelaran pasar malam maupun Sekaten.

“Misalnya warga yang antre bianglala di satu tempat ramai, bisa memakai bianglala (pemilik wahana, Red) lainnya. Kalau sama-sama ramai bisa untung Rp 25 juta dalam semalam. Kalau tiga pengusaha katakanlah (untung, Red) Rp 75 jutaan, (perputaran uang, Red) sudah hampir Rp 100 juta dalam semalam. Belum lagi kalau akhir pekan,” terangnya.

Berkah pasar rakyat Sekaten juga dirasakan pedagang hik Jayanti. Pada hari biasa, warga Semanggi Lor mendapatkan omzet sekitar Rp 300 ribu. Sedangkan saat Sekaten mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu.

“Apalagi pihak keraton juga memberi kelonggaran waktu untuk jam buka dan tutup di kawasan alun-alun. Biasanya tutup jam 22.00, pas Sekaten sampai 23.00,” ungkapnya.

Tidak ketinggalan, juru parkir ikut panen rupiah. Dalam semalam, 1.000 kendaraan roda dua dipastikan masuk ke lahan parkir mereka. Jika dikalikan Rp 2.000 per motor, maka semalam bisa dapat Rp 2 juta.

Warga sekitar Alun-Alun Selatan tempat wahana permainan Sekaten juga kecipratan rezeki dengan menyewakan kamar untuk tinggal sementara pekerja yang datang dari luar kota. Untuk kamar ukuran 3x3 meter dengan kondisi sederhana dibanderol Rp 400-500 ribu per bulan. 

“Saya juga sewakan kamar kos dan menampung beberapa parkir kendaraan. Ya lumayan kalau pas Sekaten seperti ini,” terang Dullah, warga Kampung Gurawan, Pasar Kliwon.

Tidak mau kalah, Mbah Dodo, 64, menyewakan toilet umum portabel di dalam Alun-Alun Selatan. “Sejak tahun 1980-an, kalau ada Sekaten saya selalu masuk. Dua tahun ini prospeknya lebih bagus karena ada di Alun-Alun Selatan. Jadi saingannya juga lebih sedikit,” jelas dia.

Dalam berwirausaha, Mbah Dodo tidak setengah-setengah. Warga Dusun Ngrombo, Baki, Sukoharjo itu rela mengeluarkan anggaran lebih untuk pembuatan sumur bor dengan kedalaman 15 meter guna persediaan air selama di Sekaten. Dengan tarif mengakses toilet Rp 2.000 per orang, tujuh toilet Mboh Dodo bisa menghasilkan Rp 7 juta per bulan.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta K.G.P.H. Dipokusumo menerangkan, Sekaten yang merupakan tradisi menyemarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW telah digelar sejak 500 tahun silam. 

Di lain sisi, Sekaten identik dengan pasar rakyat atau bisa pula disebut pasar tiban. “Gelaran ini juga menunjukkan kepedulian keratin kepada rakyat. Semua orang bisa merasakan kesenangan baik secara materi maupun nonmateri. 

Dipo berharap tradisi tersebut dapat terus dilestarikan. Serupa yang dilakukan Keraton Demak dan Jogjakarta. Sayangnya, belum pernah ada penelitian yang membahas tingkat kesejahteraan masyarakat dampak dari digelarnya Sekaten. 

“Sejak zaman dulu memang dibiarkan seperti itu, tanpa ada catatan. Karena masyarakat Jawa agak senditif saat ditanya soal pendapatan,” ungkap dia. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia