Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Solo
Pasar Rakyat Sekaten

Adu Inovasi agar Tak Basi

18 November 2018, 08: 30: 59 WIB | editor : Perdana

SKILL KHUSUS: Joki sepeda motor beratraksi di tong setan Sekaten.

SKILL KHUSUS: Joki sepeda motor beratraksi di tong setan Sekaten. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO - Wahana ini sudah menjadi ikon pasar rakyat Sekaten. Adalah tong stand atau lebih dikenal tong setan. Meskipun super bising, pengunjung tidak pernah bosan.

“Kalau ke Sekaten pasti cari tong setan. Nggak pernah bosan. Atraksinya menarik. Apalagi kalau ada yang jatuh, pasti lucu,” ujar Dika Prasetia, salah seorang pengunjung Sekaten.

Sensasi di tong setan, lanjut dia, yakni penonton bisa meminta atraksi tertentu kepada joki sepeda motor dengan imbalan uang sukarela. “Permainan lainnya cuma untuk anak-anak. Anaknya naik bianglala, bapaknya lihat tong setan,” ucap warga Dawung Wetan, Sragen tersebut.

Baca juga: Hanya Sewakan Toilet, Sebulan Kantongi Rp 7 Juta

Guna menjaga antusiasme penonton, pemilik wahana tong setan terus berupaya melakukan inovasi atraksi. Salah satunya menggandeng joki sepeda motor yang paling handal. Termasuk dari kaum hawa. 

“Banyak yang bilang tong setan karena para pemainnya seperti kerasukan setan sehingga bisa menjalankan motornya di dinding yang sangat curam. Tidak sembarang orang bisa melakukannya. Makanya saya gandeng empat joki. Tiga joki motor dan satu joki sepeda ontel,” jelas Sumanto, 59, pemilik wahana hiburan Ponco Ria.

Salah seorang joki tong setan Jannatun Rafikoh, 20, mengaku diterbangkan khusus dari Medan, Sumatera Utara. Tiba di Kota Bengawan, Sabtu siang (16/11), dirinya tak memiliki waktu lama untuk beradaptasi. Mengingat malam harinya harus ready ngebut di dalam tong. 

“Medannya beda. Di tempat saya, tong setan diamameternya cukup besar. Di sini (Kota Solo, Red) lebih kecil. Jadi harus membiasakan dengan keretanya (sepeda motor, Red) yang dipakai,” jelas Fikoh –sapaan akrab Jannatun Rafikoh.

Malam pertama pentas, Fikoh terjatuh dari sepeda motornya dari ketinggian lima meter. Beruntung tak ada cedera dan dapat melanjutkan aksinya di malam-malam berikutnya.

“Karena saya baru, jadi belum hafal mana dinding yang rata dan tidak rata. Dari kejadian itu, saya jadi hafal rute yang aman,” ungkap dia.

Meski pekerjaannya sangat berisiko, Fikoh tak takut. Itu karena sang suami telah memberikan restu dan selalu hadir dalam setiap atraksi. “Kunci utamanya di motor. Kalau sehat, pasti bisa aman,” kata dia.

“Ya pokoknya semua (jenis atraksi, Red) dilibas. Mulai dari duduk miring, lepas tangan, ambil saweran, berdiri, sampai tidur di atas motor bukan masalah besar,” imbuh Fikoh. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia