Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Solo
Pasar Rakyat Sekaten

Tradisi yang Kaya Makna

18 November 2018, 09: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Tradisi yang Kaya Makna

SOLO - Sebagai tradisi yang terus dilestarikan, Sekaten memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Jawa. Yakni bagian dari syiar Islam. 

Adik Raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono XIII, K.G.P.H. Puger atau akrab disapa Gusti Puger mengatakan, perayaan Sekaten di Kota Solo mulai dilakukan sejak pertengahan abad ke-17. 

Pada masa itu, Sekaten merupakan upaya memantapkan syiar Islam. Seiring berjalannya waktu, di setiap tahun makin banyak orang yang datang untuk ikut memeringatinya dan memunculkan fenomena baru .

Mula-mula, satu, dua pedagang berdatangan kemudian ada pasar rakyat. Tradisi Sekaten membawa serta gamelan dari Kerajaan Demak bernama Nogo Wilogo. Perangkat gamelan ini terus dilengkapi oleh keraton lain. 

“Nogo Wilogo sekarang ada di Kasultanan Cirebon. Sedangkan yang dari Keraton Mataram bernama Guntur Sari. Dari Keraton Solo Guntur Madu," jelas Puger.

Selama sebulan digelarnya Sekaten, gamelan Guntur Sari dan Guntur Madu ditabuh secara bergantian. Gending bakunya menggunakan Rambu dan Rangkung. Dalam bahasa Arab, Rabbuna berarti melakukan perbuatan baik dan meninggalkan yang tidak baik. Meski begitu, agar lebih bervariasi dimainkan juga gending bonangan, jadi tidak ada sinden.

Gamelan tersebut juga mengandung makna kekompakan dalam bekerja. Persoalan pribadi, tidak boleh dibawa-bawa saat menabuh gamelan. Pesan tersebut juga berlaku di semua sektor kehidupan, termasuk dalam pemerintahan. Urusan negara tidak boleh dicampur urusan pribadi.

Selain perangkat gamelan, Sekaten juga identik dengan beragam ajaran kehidupan. Mulai dari kesehatan, hingga perilaku sehari-hari.  Puger mengatakan, pesan terkait kesehatan tersirat melalui tradisi makan sirih atau nginang.

“Ada empat bahan yang digunakan pada tradisi ini, yaitu sirih yang memiliki fungsi sebagai antibodi, injet atau olahan dari tanah gamping sebagai antiseptik yang mampu membunuh bakteri dalam perut. Selain itu, ada pula gambir yang berfungsi sebagai sumber nutrisi, dan tembakau berguna untuk membunuh bakteri di dalam mulut,” urainya. 

Empat bahan tersebut dilengkapi bunga kantil dengan harapan pesan moral Sekaten bisa kumantil (melekat, red), yaitu hanya menjalankan perintah yang baik dan meninggalkan yang tidak baik. Selain itu, bunga ini juga dipercaya membuat orang menjadi awet muda.

Kegiatan lainnya adalah permainan wayang golek yang dimainkan anak-anak. Mengingat gamelan yang dijadikan sebagai ajang dakwah, golek ini diartikan sebagai nggoleki atau mencari sesuatu yang baik dalam kehidupan. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia