Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Boyolali
Peringatan Maulid Nabi

Warga Rela Berdesak-desakan demi Berebut Gunungan 

21 November 2018, 12: 06: 43 WIB | editor : Perdana

GREBEG MAULUD: Masyarakat dari berbagai daerah rela berebut gunungan pada Grebeg Maulud di Masjid Agung Solo.

GREBEG MAULUD: Masyarakat dari berbagai daerah rela berebut gunungan pada Grebeg Maulud di Masjid Agung Solo. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO - Kori Kamandungan dan Masjid Agung Solo mendadak ramai dipenuhi massa Selasa kemarin (20/11). Mereka saling berebut gunungan hasil bumi milik keraton dalam upacara adat Grebeg Maulud. 

Meski cuaca cukup panas, ribuan masyarakat tetap betah menunggu arak-arakan gunungan sampai dibagikan. Berdesak-desakan pun tak jadi soal asal kebagian gunungan yang telah didoakan itu, meski hanya secuil. 

“Karena sudah didoakan, maka bagi saya itu membawa keberkahan. Jadi ya harus kebagian,” jelas Tukinah, 50, salah satu pengunjung. 

Warga asal Mojolaban, Sukoharjo itu terlihat betah menunggu sejak pagi. Dua pasang gunungan jaler dan estri yang selalu diarak sebagai penanda upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu selalu mengundang rasa penasaran masyarakat Solo dan sekitarnya untuk selalu hadir. “Gunungan ini dapat membawa berkah. Nanti sampai di rumah, wortel, telur, cabai, dan lain-lain ini akan saya masak. Semoga jadi rezeki bagi keluarga,” jelas dia. 

Takmir Masjid Agung Solo Muhammad Muhtarom menerangkan, kedua gunungan itu memiliki makna yang berbeda. Gunungan jaler merupakan gunungan yang berbentuk tinggi dan ramping. Sementara gunungan estri berbentuk pipih namun lebih lebar. Mengenai isi dari dua macam gunungan tersebut juga berbeda. 

“Gunungan jaler melambangkan laki-laki. Sementara gunungan estri melambangkan perempuan. Keduanya memiliki makna bahwa di kehidupan ini, berdampingan antara laki-laki dan perempuan,” terangnya.

Dilanjutkan dia, gunungan jaler berisi hasil bumi berupa makanan yang masih mentah seperti polo kependem, polo kesrimpet dan polo gantung. Ada tiga unsur itu. Artinya seorang laki-laki harus bekerja, dinamis dan mencari penghidupan bagi keluarganya. 

“Tiga unsur di gunungan jaler, yakni polo kapendem, polo kesrimpet dan polo gantung memiliki makna sendiri-sendiri. Polo kapendem artinya seorang laki-laki harus tahu jati dirinya. Polo kesrimpet artinya hidup harus dinamis, mencari penghidupan di bumi. Polo gantung artinya laki-laki harus tetap bertakwa kepada Tuhan,” urai dia.

Sementara gunungan estri berisi makanan siap saji. Artinya seorang perempuan harus siap mengolah hasil bumi menjadi makanan untuk kebutuhan hidup keluarga. “Makanya isinya adalah makanan siap saji,” tutup Muhtarom. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia