Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Perlebar Lalin Overpass, Pemkot Bebaskan Lahan Baru

21 November 2018, 12: 45: 27 WIB | editor : Perdana

DIPERCANTIK: Dinding overpass Manahan dihiasi lukisan mural agar lebih elok dipandang mata.

DIPERCANTIK: Dinding overpass Manahan dihiasi lukisan mural agar lebih elok dipandang mata. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Dua bidang lahan di Jalan MT Haryono bakal dibebaskan demi kelancaran arus lalu lintas di sekitar overpass Manahan. Saat ini lahan yang berada di sisi timur overpass itu masih digunakan sebagai ruang usaha pemiliknya.

Rencana tersebut disampaikan Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo saat meninjau langsung pembangunan overpass Manahan, Senin malam (19/11). Pria yang akrab disapa Rudy itu akan menawarkan biaya pembebasan lahan kepada pemilik dalam waktu dekat. Namun dia tidak menyebut berapa angka yang akan disodorkan kepada pemilik lahan.

“Rencananya memang begitu. Karena akses yang dari MT. Haryono ke Jalan Sam Ratulangi sangat sempit. Kalau itu dibebaskan nanti jadi longgar,” katanya.

Pemkot yakin rencana tersebut akan terealisasi. Jika melihat kondisi di sekitar lokasi, Rudy memastikan usaha yang dibuka di kedua lahan itu tidak akan berkembang. Bahkan sebelum dibangun overpass Manahan pun lokasi usaha tersebut tidak dapat bersaing dengan unit usaha lain yang sejenis.

“Sejak dulu dibuka apa saja nggak payu. Lha gimana, pas enggok-enggokan. Apalagi dulu ditutupi videotron,” imbuhnya.

Wali kota berharap pemilik lahan dapat kooperatif saat diminta untuk membebaskan lahan. Pembebasan itu dianggap sebagai pemenuhan kepentingan masyarakat umum. Sehingga jika tidak ada titik temu antara pemkot dengan pemilik lahan, pemerintah dapat memaksa dengan dasar pembangunan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. “Kami lihat dulu nanti bagaimana. Semoga lancar-lancar saja,” ucapnya.

Terkait wacana tersebut, warga sekitar overpass mengaku belum mendengar rencana tersebut. “Kalau secara pribadi saya belum mendengar kabar itu. Dan belum pernah ada pengumuman dari kelurahan atau dari pihak pelaksana proyek,” ujar Sukinah, 60, yang rumahnya tepat di muka terowongan overpass Manahan sisi utara. 

Kendati demikian, perempuan yang huniannya hanya berjarak sekitar 2 meter dari mulut terowongan overpass itu mengaku siap jika lahannya diminta oleh pemkot. Dirinya sadar selama 10 tahun ini dia dan keluarga menempati lahan kosong milik pemerintah. Karena itu dirinya akan mengikuti apa yang disarankan pemerintah kota. 

“Ini kan tanah pemerintah. Jadi kalau mau dipakai ya silakan. Tapi saya mohon ada kebijakan karena ini satu-satunya tempat berteduh keluarga kami. Kalau bisa dicarikan hunian pengganti buat kami,” kata Sukinah. 

Hal serupa juga diungkapkan oleh Yunus, 40. Warga yang tinggal tidak jauh dari mulut terowongan itu juga baru tahu jika ada rencana pelebaran jalan yang bakal disusul dengan pembebasan lahan. Mengingat tanah miliknya merupakan tanah bersertifikat dan juga sebagai lokasi usaha, dirinya berharap ada ganti rugi yang jelas dari pemerintah. 

“Dulu katanya toko saya ini tidak terdampak. Nah sekarang ini kan terdampak, jadi bagaimana jelasnya?” tanya dia. 

Mulanya, toko besi warisan keluarga itu masih dapat beroperasi saat overpass dibangun. Namun setelah dinding-dinding overpass telah berdiri dan akses jalan ditutup untuk pekerjaan proyek, toko besi miliknya terpaksa harus tutup sementara selama beberapa bulan terakhir.

“Toko besi selama ini tutup setelah akses masuk ke sini juga ditutup setelah pembangunan. Jadi ya beberapa bulan tak ada pemasukan dari toko,” beber Yunus. 

Berbeda dengan dua pemilik bangunan lain, Manager On Duty Toko Roti Sophie Soffle, Heni Pujiastuti mengaku tidak bisa berkomentar banyak mengingat hal itu harus dikomunikaskan dengan pemilik toko terlebih dahulu. Namun jika bicara soal kerugian, dirinya bisa panjang lebar menjabarkan kerugian yang selama ini dialami. 

“Kerugian jelas karena omzet berkurang sampai 50 persen. Apalagi selama 4 bulan terakhir akses jalan ditutup, kami jadi ikut tutup. Pembeli sementara diarahkan ke gerai lainnya dulu,” jelas Heni.

Pelaksana proyek overpass Manahan dari PT Yasa Patria Perkasa, Ari Wahyudi memastikan jika rencana pembebasan lahan atau pelebaran jalan yang akan dilakukan pemkot tidak akan mengganggu penyelesaian pekerjaan proyek jembatan layang tersebut. 

“Kalau masalah jalan di sekitar jembatan itu urusannya pemkot. Infonya mau dilebarkan dan ditambah taman. Tapi itu di luar tanggung jawab kami. Yang jelas tidak akan mengganggu penyelesaian proyek ini,” tutup Ari. 

Sementara itu progress pembangunan overpass sudah sekitar 80 persen. Pemkot sendiri mulai menggarap ornament dan hiasan mural pada dinding overpass. Sepekan ini sebanyak 12 orang harus menyelesaikan mural di dinding overpass Manahan. Mereka mengerjakan gambar beberapa tokoh wayang.

“Konsep visual mural adalah tentang kecepatan dan kelancaran arus. Elemen garis, bidang, ornament dan citra ethnic dipadu dengan objek dan figure-figur yang dapat menarasikan tema seni, olahraga, budaya serta menyesuaikan Manahan sebagai kawasan olahraga dan identitas Kota Solo,” jelas salah satu seniman mural Andika Pratama.

Untuk menyelesaikan mural di overpass Manahan itu, Andika dan kawan-kawannya menyediakan 15 hingga 20 kaleng cat tembok. Masa pengerjaan yang relative sempit membuatnya harus menghabiskan waktu dari pukul 15.00 hingga 02.00 dini hari.

“Kesulitannya bidang kerja kita tinggi dan lebar. Jadi harus hati-hati,” katanya. (irw/ves/bun)

(rs/irw/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia