Rabu, 27 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features

Rutin Mendongeng di Depan Lansia hingga Penderita Gangguan Jiwa

27 November 2018, 17: 40: 41 WIB | editor : Perdana

EKSPRESIF: Nadia La Tsaniya menunjukkan beberapa ekspresi saat mendongeng.

EKSPRESIF: Nadia La Tsaniya menunjukkan beberapa ekspresi saat mendongeng. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Semua orang lahir dengan bakat bercerita sekaligus mendengarkan cerita. Dengan dasar itu Nadia La Tsaniya berinisiatif menebar budaya dongeng ke berbagai penjuru. Bagaimana pengalamannya?

IRAWAN WIBISONO, Solo

WAJAH Modo pucat pasi saat diminta teman-temannya untuk menari. Sembari memegang pipi dia mengaku sakit gigi. Berulang kali dibujuk, tetap bergeming. Selama ini Modo sesumbar pandai menari. Namun hingga saat ini belum pernah dia membuktikan omongannya. Seorang teman akhirnya maju dan mengatakan sesuatu kepada Modo. 

“Kami lebih suka kamu jujur kepada kita. Kalau tidak bisa menari, mari kita bermain bersama,” katanya.

Sempat terdiam, Modo akhirnya mengaku tidak bisa menari. Dia pun menerima tawaran menari bersama teman-temannya. Sempat terjatuh beberapa kali, Modo pun dapat menari dengan riang.

Modo adalah seekor Komodo yang dibuat fabel oleh Nadia La Tsaniya dihadapan puluhan anak-anak yang mengelilinginya. Nadia mengemas cerita bertajuk ‘Modo Tak Mau Menari’ dengan gaya dan ekspresi yang apik sehingga menarik perhatian audiens yang didominasi anak-anak.

“Itu adalah kali pertama saya tampil mendongeng. Awalnya degdegan, tetapi setelah melihat anak-anak antusias jadi semangat,” aku perempuan kelahiran Bandung 1996 silam itu.

Pentas pertama itu bukanlah event yang direncanakan. Perempuan yang sedang menyelesaikan tugas akhir di program studi bimbingan konseling FKIP Universitas Sebelas Maret ini mengaku hanya menggantikan seniornya yang berhalangan hadir. Meski hanya sebagai ban serep, dia tak mau melewatkan pengalaman tersebut. Dia hanya memiliki waktu sepekan untuk berlatih. Semaksimalnya dia gunakan untuk mengasah kemampuan. Mulai dari mendongeng di depan cermin, bercerita di depan teman-temannya hingga belajar ekspresi dimanapun.

“Kadang saat jalan ke kampus itu saya mengeluarkan ekspresi sekaligus bercerita. Mungkin orang melihat seperti terkena gangguan jiwa,” terang finalis lomba Media Pembelajaran Nasional AGP FKIP UNS 2017 ini.

Setelah debut itu, Nadia mulai asyik dengan dunia dongeng. Penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Dompet Dhuafa 8 ini lantas mengajak teman-temannya untuk bergabung di Doing Project. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan respon dari kawan-kawan yang sevisi. Nadia kerap menyebut sebagai ‘happiness family’. 

Anggotanya adalah penerima beasiswa yang sama.  Niat awal didirikannya dongeng keliling adalah mendongeng untuk siapapun dan dimanapun. Sasaran awal memang anak-anak. Mereka dianggap sebagai generasi yang wajib menerima dongeng sebagai asupan sehari-hari.

“Di dalam dongeng akan ada hikmah, pesan moral dan sebagainya. Mereka lebih mudah menangkap,” katanya.

Tak hanya anak-anak, Juara 2 Best BuzzerTelkomsel Apprentice Program Batch 1 Solo ini juga memberanikan diri mendongeng di hadapan lansia. Setiap Rabu dia mengunjungi Griya Bahagia PMI di Mojosongo untuk bercerita kepada puluhan kakek dan nenek di sana. Tentu tidaklah mudah menyampaikan dongeng di hadapan orang tua, apalagi sebagian dari mereka juga mengidap gangguan jiwa.

“Mereka juga antusias, menyimak dongeng dari kita. Nanti kalau sekiranya sudah chaos, kita sudahi dongengnya,” jelas Nadia.

Untuk orang tua, dongeng dianggap sebagai sarana relaksasi agar tidak stress. Tekanan pikiran yang setiap hari mereka alami dapat hilang saat menerima kisah-kisah lucu. Perempuan yang juga hobi bermain musik dan desain ini bahkan menggunakan dongengnya untuk menghibur anak-anak penderita HIV AIDS. Baginya memberikan apa yang dia miliki merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama.

“Mereka kan kurang kasih sayang ya. Kalau kita bisa mendongeng, ya kita beri dongeng. Insya Allah mereka bahagia,” ucapnya.

Ke depan dia ingin Doing Project yang dirintis dapat berkembang dan besar. Finalis Lomba Read a Story Erlangga for Kids ini juga ingin kebiasaan dongeng di masyarakat tumbuh kembali. Dahulu dia melihat orang tua selalu memberi dongeng kepada anaknya. Itu dianggap sangat bermanfaat bagi orang tua itu sendiri maupun untuk sang anak.

“Teknologi yang berkembang saat ini tidak bisa menggantikan kontak fisik dan kontak hati,” ujarnya. (irw/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia