Jumat, 26 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Aroma Pinus Kopi Petruk Lereng Merapi

30 November 2018, 12: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Penyeduhan Kopi Petruk dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang yang ditampilkan dalam Pameran Ketahanan Pangan di Halaman RSPD Klaten, baru-baru ini.

Penyeduhan Kopi Petruk dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang yang ditampilkan dalam Pameran Ketahanan Pangan di Halaman RSPD Klaten, baru-baru ini. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN - Satu lagi potensi yang bisa digali di lereng Gunung Merapi. Kopi Petruk dengan aroma khas kayu pinus dan jamu. Ditanam petani dari Kecamatan Kemalang, Klaten. Belakangan ini mulai diburu pecinta kopi karena penyeduhannya tanpa pakai gula.

Kopi Petruk ini masuk jenis arabika. Salah seorang pelaku usaha kopi petruk, Sukiman Mohtar Pratomo mengaku konsumen suka dengan aromanya. Selain aroma kayu pinus dan jamu, kopi petruk juga mengandung aroma kayu manis, sayur, hingga ketela. Ada pula sedikit aroma belerang karena biji kopi ditanam diketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

”Kami dengan teman-teman Kelompok Tani Ngudi di Desa Sidorejo, Kemalang sudah empat tahun menanam kopi arabika di lereng Merapi. Selain Sidorejo, juga ada di Desa Balerante dan Tlogowatu. Tersebar sekitar 40 ribu batang. Produksinya 30-40 ton per tahun,” jelas Sukiman kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (29/11).

Kopi di Desa Balerante ditanam di ketinggian 1.000 mdpl. Sedangkan Desa Tegalmulyo hingga 1.200 mdpl. Sangat cocok untuk menanam kopi jenis arabica. Bahkan pada era 1992-1998, produksinya bisa mencapai 6 ton (kopi mentah merah) dengan masa panen 3 bulan per tahun.

Diakui Sukiman, geliat kopi mengalami pasang surut karena harganya pernah jatuh. Alhasil banyak pohon yang ditebang. Kini, seluruh warga di lereng Merapi diajak kembali menanam kopi. Apalagi minum kopi sudah berubah jadi gaya hidup.

”Kami gencar melakukan pemasaran. Baik yang datang secara langsung maupun online. Menjual kopi bubuk kemasan dengan nama Kopi Petruk. Untuk menghindari distribusi monopoli biji kopi hanya ke satu caffe shop,” papar Sukiman.

Masa panen kopi di lereng Merapi hanya sekali setahun. Periode Juni dan Juli. Distribusi Kopi Petruk sudah merambah pasar Jakarta, Surabaya, Bogor, Bandung, dan Jogja. Serta Jepang dan Tiongkok.

”Turis ini membawanya sebagai oleh-oleh. Ada juga toko di Tiongkok yang sudah memajang Kopi Petruk. Kalau Klaten sendiri belum ada toko maupun reseller,” ujar Sukiman.

Penasehat Paguyuban Kopi Prambanan Klaten-Kalasan, Puguh Tribendarto mengaku tertarik menyeduhkan Kopi Petruk ke konsumennya.

”Ya kami juga mengetahui Kopi Petruk. Hanya saja untuk distribusi masih terbatas. Kami kesulitan mencarinya,” ucapnya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia