Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Solo
Mengunjungi Perpustakan Penyimpan Naskah Kuno

Terganjal Status Pengelola, Bantuan Dana Terbatas

03 Desember 2018, 12: 36: 09 WIB | editor : Perdana

Terganjal Status Pengelola, Bantuan Dana Terbatas

KEBERADAAN Rekso Pustoko sangat penting bagi para peneliti naskah kuno. Dari sisi akademis telah memberikan banyak manfaat untuk khazanah ilmu pengetahuan dewasa ini. Apalagi bagi para pakar maupun pecinta sejarah.

 “Rekso Pustoko dengan segala pesonanya memang memiliki ruang tersendiri. Tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi para sejarawan. Setidaknya Rekso Pustoko telah mewariskan sumber kekayaan intelektual yang berharga,” kata Pakar Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Susanto kepada koran ini.

Secara pribadi, dirinya terkesan dengan koleksi kuno termasuk Besluit yang ada pada zaman Daendels bisa ditemukan di sana. Besluit No. 8 Tahun 1808 berisi tentang pembentukan legion Mangkoenagaran pada masa Daendels.

Baca juga: Perpustakan Penyimpan Naskah Kuno Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran

“Saya temukan koleksi itu di tumpukan arsip yang paling bawah. Kondisinya cukup memprihatinkan dengan banyaknya debu waktu itu. Kondisinya kurang terawat bahkan banyak bagian berlubang. Saya pikir koleksi berusia ratusan tahun seperti ini perawatannya kurang dan terabaikan. Padahal Rekso Pustoko telah menjadi rujukan bagi peneliti baik dari kalangan mahasiswa, dosen maupun masyarakat umum,” papar dia.

Susanto melihat ada beberapa problem dalam perawatan arsip yang dilakukan pihak Rekso Pustoko. Selain masalah suhu yang panas disertai debu yang merusak material koleksi, problem pengelolaan juga terletak pada sumber daya manusia serta kemampuan pihak Mangkunegaran dalam pendanaan dan kesejahteraan petugas. 

“Pelestarian arsip dan manuskrip bisa dilakukan dengan konservasi. Yaitu penanganan koleksi dengan memenuhi standar pengelolaan arsip. Seperti suhu udaranya. Kalau udara terlalu panas otomatis koleksi akan gampang rusak,” jelas Susanto.

Hal yang dapat dirujuk, sambung Susanto adalah dengan mengupayakan adanya pendingin ruangan. Dengan demikian, suhu ruangan akan tetap stabil dalam 25 derajat celcius meski udara lembab saat hari hujan atau saat udara panas saat kemarau panjang. Meski ideaalnya udara dibuat sedingin mungkin dengan kelembaban normal. Namun suhu 25 derajat itu setidaknya bisa jadi pilihan alternatif saat terjadi mati lampu. Jadi apabila pendingin ruangan mati, suhu ruangan tidak berubah terlalu ekstrem karena dikhawatirkan menambah rusak koleksi. 

“Harus ada kerja sama dengan Kantor Arsip Nasional dan berbagai pihak. Misalnya untuk meng-cover biaya fumigasi dan digitalisasi naskah. Ini sangat membantu untuk pelestarian koleksi, agar kondisi naskah tetap terjaga kebutuhannya,” ujarnya. 

Di sisi lain, Wali Kota Solo F.X.  Hadi Rudyatmo mengatakan siap membantu penanganan pengelolaan koleksi di Rekso Pustoko Mangkunegaran. Tapi harus ada komunikasi dan koordinasi yang baik antara pemkot dengan Pura Mangkunegaran. Pemkot sebenarnya memiliki program untuk pelestarian perpustakaan kuno. Sayangnya, program ini hanya bisa berjalan jika tidak ada persetujuan dari masing-masing pemilik. 

“Apabila Pura Mangkunegaran ini komunikasinya dibangun baik, Rekso Pustoko ini akan menjadi salah satu tujuan destinasi wisata sejarah unggulan di Solo. Ini juga berlaku untuk perpustakaan milik Keraton Kasunanan Surakarta,” tegas Rudy.

Permasalahan pendanaan jadi lebih rumit mengingat Rekso Pustoko merupakan aset pribadi Pura Mangkunegaran. Sehingga pendanaannya masih sebatas permintaan dan pemberian bantuan. Hal ini akan sangat berbeda jika pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah seperti pengelolaan Museum Radya Pustaka Sriwedari. 

“Seperti museum Radya Pustaka semua koleksi benda-benda kuno kami pastikan terawat dengan baik. Kalau koleksi Rekso Pustoko saat ini sedikit banyak ada yang rusak, ya ayo kita benahi bareng-bareng. Mari dikomunikasikan dengan baik agar pemerintah ini bisa membantu,” beber Rudy.

Ajakan kerja sama untuk perawatan Rekso Pustoko, kata Rudy, sejatinya telah dilakukan oleh pemerintah sejak empat tahun lalu. Kala itu, pemkot memberi tawaran rehabilitasi untuk Rekso Pustoko. Sayangnya belum ada kata sepakat. 

“Pemkot hanya memberikan bantuan operasional setiap tahun di Pura Mangkunegaran. Bantuan itu kemudian dikelola sendiri oleh Pura Mangkunegaran, mengingat statusnya sebagai salah satu cagar budaya tingkat nasional,” kata Rudy. (mg4/ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia