Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Pengembangan Kali Talang Terganjal Zonasi

04 Desember 2018, 10: 04: 25 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Sejumlah wisatawan memanfaatkan gardu pandang untuk berfoto selfie di perbukitan Kali Talang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten.

Sejumlah wisatawan memanfaatkan gardu pandang untuk berfoto selfie di perbukitan Kali Talang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN - Kawasan ekowisata Kali Talang yang ada di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang memang menarik untuk dikunjungi. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laun (Mdpl) dapat melihat puncak Gunung Merapi dari jarak 4 km saja. Dilengkapi taman dengan gardu pandang yang berasal dari bambu yang di bangun di perbukitan tersebut.

Sayang sebagian besar potensi wisata alam itu masuk di lahan milik Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Hal ini yang menjadikan pemerintah desa tidak bisa bergerak leluasa untuk mengembangkan karena terganjal dengan penetapan zonasi.

"Sebenarnya antusias pengunjung cukup tinggi tetapi untuk pengembangan bisa dikatakan jalan di tempat. Kita belum bisa leluasa karena oleh TNGM belum ditetapkan sebagai zona pemanfaatan. Untuk bisa mengembangkan ya harus diubah dulu zonasinya," jelas Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Balerante, Jainu, Senin (3/12).

Lebih lanjut, Jainu mengungkapkan pada 2018 hingga 2019 nanti praktis tanpa ada inovasi yang dilakukan. Mengingat terkendala dengan penetapan zonasi yang belum dilakukan TNGM hingga saat ini. Maka itu hanya mengandalkan gardu pandang yang dibangun secara gotong-royong oleh masyarakat setempat.

Anggaran untuk kawasan ekowisata Kali Talang pun belum banyak menguncur demi pengembangan. Pasalnya, hanya memanfaatkan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) sebesar Rp 200 juta yang diterima pada 2017 lalu. Sedangkan pada tahun ini belum ada anggaran dari desa untuk pengembangan Kali Talang.

"Padahal spot yang kami jual ini ya miliknya lahan TNGM ini. Yang pasti wisatawan bisa menikmati Gunung Merapi dengan jelas. Termasuk pemandangan alam lainnya dengan pilihan berbagai spot selfie," bebernya.

Ia mengungkapkan dalam waktu seminggu wisatawan yang datang ke Kali Talang bisa mencapai 500 orang. Mereka cukup membayar Rp 2.000 untuk retribusi tiket masuknya tetapi sudah bisa menikmati kesejukan di lereng Merapi. Termasuk mengadakan pesta kebun bersama keluarga pun juga bisa dilakukan.

"Kami sudah melakukan pembicaraan dan pengajuan ke TNGM untuk segera ditetapkan sebagai zona pemanfaatan. Katanya setiap tiga tahun sekali TNGM ada review zonasi. Saya harap segera ditetapkan sebagai zonasi pemanfaatan sehingga kami bisa bergerak bebas untuk pengembangannya," bebernya.

Sementara itu, salah satu wisatawan asal Desa Jabung, Kecamatan Gantiwarno, Niken Pramono Jati, 19, mengatakan baru pertama kali mengunjungi. Menurutnya, kawasan ekowisata Kali Talang tidak kalah dengan tempat wisata serupa di lereng Merapi.

"Hanya saja tadi saya melihat untuk beberapa gardu pandangnya terutama pada bambunya sudah mulai ada yang keropos. Saya harap segera ada perbaikan dari pengelola wisata sehingga tidak membahayakan bagi wisatawan," keluhnya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia