Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features

Kenali Masa Lalu Lewat Naskah Kuno

05 Desember 2018, 13: 02: 37 WIB | editor : Perdana

Kenali Masa Lalu Lewat Naskah Kuno

Tidak hanya orang yang menekuni ilmu tentang naskah-naskah kuno (filologi). Prihatin dengan kondisi ini akhirnya memacu para mahasiswa pascasarjana di Kota Solo ini untuk membuat sebuah kelompok penelitian. Mereka menanamkan diri komunitas Sraddha. Seperti apa aktivitasnya?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

KORAN ini sempat kesulitan untuk menyamakan jadwal dengan si penggagas komunitas yang satu ini. Jadwal observasi dan penelitian tingkat internasional yang padat akhirnya bisa berbincang dengan si pelopor komunitas ini di sudut gedung UKM Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Minggu (2/12) malam. “Selamat bergabung, Mas,” sapa Rendra pada koran ini. 

Setumpuk berkas penelitian menjadi pemandangan yang cukup asing di sudut UKM pecinta alam kala itu. Sambil merapikan, pria kelahiran Sragen, 8 Juli 1990 ini membuka laptop miliknya sembari menunjukkan sejumlah kegiatan komunitas yang dekat dengan urusan pernaskahan tersebut. “Ini foto outing class kami. Kalau ini suasana pembelajaran waktu kelas di Museum Radya Pustaka Solo,” jelas dia.

Dirinya mengaku bersyukur karena komunitasnya saat ini telah mendapat tempat di hati masyarakat. Bahkan, sekarang telah disediakan ruangan khusus oleh pihak Museum Radya Pustaka untuk membuka kelas pada siapa saja yang ingin bergabung. Biasanya kelas dibuka dalam tiga bulan sekali dengan agenda 10 kali tatap muka. Di sela pertemuan, kadang dilakukan outing class untuk menengok langsung apa yang telah diperbincangkan selama beberapa waktu.

“Modelnya hampir mirip perkuliahan. Hanya saja kami lebih detail dalam membahas sebuah topik masalah. Misalnya dalam membahas suatu serat tertentu. Kalau di perkuliahan mungkin hanya sekali tatap muka, tapi di sini kami membahas di seluruh pertemuan itu sampai berganti ke materi lainnya. Satu kelas sampai 50 orang,” jelas dia.

Hingga saat ini, dirinya bersama belasan kawan mahasiswa S2 dan S3 yang tergabung dalam komunitas ini masih rutin menggelar pertemuan. Bahkan, sejumlah peserta yang dianggap telah memiliki bekal cukup dalam materi tersebut boleh berpartisipasi menjadi tutor untuk kawan-kawan yang baru bergabung. 

Apa tidak rugi? Pria yang satu ini hanya menggelengkan kepala. Sebab  tujuan dibentuknya komunitas memang untuk memopulerkan kecintaan masyarakat akan naskah kuno, pihaknya pun tak mematok bayaran. 

“Tidak ada biayanya, paling iuran untuk snack dan fotokopi materi saja. Yang jelas dari awal kami sepakat untuk memopulerkan kegiatan ini. Kami tahu ilmu tentang naskah kuno memang tidak sepopuler disiplin ilmu lainnya. Bahkan sempat ada kekosongan pakar selama beberapa dekade. Dan meninggalnya Romo Kuntoro memacu kami untuk mengisi kekosongan itu agar disiplin ilmu filologi ini tetap diminati,” jelas Rendra.

Disinggung soal cikal bakal terbentuknya komunitas, Rendra memulai dengan kenangan manis bersama Romo Kuntoro. Bagi dia dan kawan-kawan, sosok beliau merupakan panutan yang baik dalam sebuah penelitian. Awalnya dari penelitian beliau yang fokus pada naskah Merapi-Merbabu. 

Terbentuk di Jogja 2 April 2012 silam, awalnya kelompok ini fokus pada penelitian dan penerbitan jurnal-jurnal internasional. Lama kelamaan, banyak yang mengenal komunitas ini dan usul agar membuka diri pada diskusi lintas ilmu yang tetap dalam bingkai naskah merapi merbabu. Dari sana kelompok penelitian ini berubah wujud jadi komunitas yang lebih ramah. Termasuk pada siapa saja yang tidak memiliki bekal dari disiplin ilmu filologi. 

“Dari sana kajiannya jadi lebih terbuka, tak terbatas pada teks saja tapi juga melihat konteks seperti model arsitektur, kuliner, dan lainnya. Perubahan itu kira-kira terjadi di akhir 2017 lalu dan bertahan sampai sekarang,” jelas dia.

Hingga saat ini sedikitnya 20 prasasti dan 20 naskah kuna telah dikupas habis oleh Sraddha. Dirinya yakin jika kegiatan ini terus bisa dipertahankan. Maka mimpi besarnya bersama kawan-kawan bisa lebih cepat terealisasi. “Kami ingin mendirikan sekolah swasta yang fokus pada ilmu-ilmu masa lalu dan kebudayaan. Khususnya dalam khazanah keilmuan Jawa Kuna,” ujar Rendra. (*/bun

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia