Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Olahraga

Seniman Butuh Banyak Pameran Karya Seni Rupa

05 Desember 2018, 18: 23: 31 WIB | editor : Perdana

TANGAN KREATIF: Dua seniman menggambar mural atlet wushu Lindswell Kwok di daerah Pucangsawit, Jebres.

TANGAN KREATIF: Dua seniman menggambar mural atlet wushu Lindswell Kwok di daerah Pucangsawit, Jebres. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Kalangan perupa Kota Solo mendambakan atmosfer seni rupa yang sangat bergairah seperti di Jogjakarta. Mereka menilai kegiatan pameran karya seni rupa di Kota Solo semakin minim digelar.

Ketua Keluarga Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Edi Rachmadi mengatakan, Kota Solo pernah mengalami kemajuan bidang seni rupa di era 60-an. Saat itu masih terdapat Himpunan Budaya Surakarta (HBS) yang masih eksis hingga akhir tahun 1980-an. Mereka rutin menggelar pameran karya seni rupa, di antaranya di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

”Kalau belakangan ini seperti mati suri, jarang ada pameran seni rupa,” jelas Edi kepada Jawa Pos Radar Solo saat acara reuni alumni FSRD beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Kota Jogjakarta bisa menjadi percontohan untuk mengembangkan seni rupa di Kota Solo. Komunitas yang mendukung atmosfer berkesenian di Jogjakarta sudah seperti Bali. Bagi masyarakat Jogjakarta, berkesenian sudah menjadi bagian dari diri mereka.

”Kita mendambakan itu juga ada di Solo, karena kota Solo juga kaya perupa,” bebernya.

Dampak dari atmosfer berkesenian khususnya seni rupa di Kota Solo, lanjut Edi, banyak perupa yang bergabung dengan komunitas perupa di kota lain, seperti dalam pameran di Jogjakarta atau Jakarta. Karya yang dipamerkan tersebut dapat membangun akses pasar bagi karya-karya seni rupa.

”Di Kota Solo ada potensi pendukung, seperti ruang pamer di Balai Sudjatmoko atau di TBJT. Namun masalahnya, kalau atmosfer seni rupa tidak mendukung dan seniman harus keluar biaya sendiri-sendiri pasti berat,” ungkapnya.

Selain itu, kebijakan pemerintah dan perusahaan dalam mensponsori kegiatan kesenian di Kota Solo juga masih kurang. Sedangkan jumlah kurator di Kota Solo juga tidak banyak, di antara mereka ini hanya nama Narsen Afatara dan seniman Bonyong yang sering terlibat dalam dinamika kehidupan seni rupa Kota Solo. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia