Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Dana Tidak Terduga Dianggarkan Rp 15 Miliar

06 Desember 2018, 13: 40: 26 WIB | editor : Perdana

DROPING AIR: Pemerintah menganggarkan dana tak terduga untuk bencana salah satunya Droping Air bersih di wilayah kekeringan.  

DROPING AIR: Pemerintah menganggarkan dana tak terduga untuk bencana salah satunya Droping Air bersih di wilayah kekeringan.   (RYANTONO P.S./RADAR SOLO)

SUKOHARJO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo menganggarkan Rp 15 miliar dana tidak terduga untuk tahun 2019. Dana tersebut digunakan untuk penanganan bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan lain sebagainya. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto mengatakan, menghadapi potensi bencana yang ada pihaknya telah menganggarkan Rp 15 miliar. Dana tersebut bisa digunakan untuk penanganan berbagai bencana. Salah satunya seperti droping air untuk wilayah kekeringan. 

”Menghadapi kekeringan tahun ini sudah ada ratusan tangki yang dikirimkan ke wilayah terdampak kemarau. Selain dari pemerintah ada juga bantuan dari swasta untuk droping air,” papar dia. 

Menambahkan, Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo Agus Santosa mengatakan, nilai anggaran untuk dana tidak terduga selalu bervariasi setiap tahunnya. Dana digunakan untuk penanganan bencana di Sukoharjo. ”Untuk 2019 ada kenaikan dana tidak terduga yang dianggarkan,” ujarnya.

Saat ini dana tak terduga 2019 diplot Rp 15 miliar lebih besar dari tahun 2018 ini sekitar Rp 10 miliar. Menurut dia, anggaran yang ada sudah cukup untuk mengcover kejadian bencana di Sukoharjo. Dia mencontohkan, misal ada warga yang membutuhkan air bersih lantaran dampak kekeringan akan menggunakan dana tersebut. Droping air juga pasti diberikan oleh Pemkab Sukoharjo. 

Sementara itu, sampai saat ini masyarakat diminta waspada dengan potensi bencana yang ada. Apalagi, informasi dari BPBD Sukoharjo puncak musim penghujan ini akan terjadi pada Januari mendatang. Ada prediksi bahwa musim hujan saat ini akan berlangsung tiga sampai empat bulan saja. Berbeda dari tahun sebelumnya yakni selama enam bulan. 

Musim hujan sendiri turun di Sukoharjo sejak November dan diperkirakan puncaknya terjadi Januari mendatang. Kondisi curah hujan di Sukoharjo sendiri dipantau BPBD Sukoharjo masih rendah dibandingkan daerah lainnya di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. BPBD Sukoharjo selalu bersiap dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrim saat ini. (yan)

(rs/yan/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia