Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Berita Daerah

Jadi Objek Wisata, Berganti Nama Rumah Bung Karno

06 Desember 2018, 14: 25: 54 WIB | editor : Perdana

WAJAH BARU: Rumah dinas wali kota Loji Gandrung ini akan berganti nama menjadi Rumah Bung Karno dan dibuka untuk destinasi wisata. 

WAJAH BARU: Rumah dinas wali kota Loji Gandrung ini akan berganti nama menjadi Rumah Bung Karno dan dibuka untuk destinasi wisata.  (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

 SOLO - Renovasi rumah dinas wali kota Loji Gandrung di Jalan Slamet Riyadi akan segera rampung. Ke depan bangunan cagar budaya (BCB) itu akan dibuka sebagai destinasi wisata baru. Termasuk mengganti nama menjadi Rumah Bung Karno.

Konsekuensi rumah bersejarah itu akan menjadi destinasi wisata, Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo pun harus mengalah tak punya kamar tidur. Posisi kamar tidur wali kota sejatinya berada di bangunan utama. Di situ juga terdapat ruang tamu, dapur, ruang rapat serta kamar tidur Presiden RI pertama Bung Karno. Ke depan, bangunan utama itu menjadi area wisata yang bebas diakses oleh seluruh masyarakat. Untuk itu, kamar wali kota akan dipindah di sisi belakang bangunan utama. “Wong saya tidur di emperan saja bisa kok,” kata Rudy, Rabu (5/12).

Rudy menjelaskan, pemindahan kamar tidur wali kota dilakukan demi menghormati BCB sekaligus kamar yang pernah dipakai Bung Karno. Nama Loji Gandrung, lanjut Rudy, juga akan diganti dengan Rumah Bung Karno. Menurutnya nama yang disematkan sangat relevan dengan sejarah bangunan berkonsep kolonial tersebut.

“Dahulu kalau Bung Karno datang ke Solo selalu menginap di rumah ini (Loji Gandrung). Jadi sudah pas kalau namanya Rumah Bung Karno. Ini sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada beliau. Sampai sekarang kamarnya masih ada. Kita ini sebagai anak wajib menghargai jasa orang tua,” terangnya.

Selain sebagai destinasi wisata, masyarakat juga diperkenankan menggunakan Rumah Bung Karno sebagai tempat rapat maupun diskusi. Satu ruangan rapat berkapasitas sekitar 20 hingga 30 orang telah disiapkan. Namun wali kota meminta beberapa syarat, salah satunya adalah konsumsi yang dihidangkan selama rapat adalah makanan tradisional khas Solo.

“Makananya bisa jajan pasar, gethuk, klepon dan lain-lain. Silakan digunakan 24 jam bebas,” katanya.

Bangunan Loji Gandrung sendiri mengalami sedikit perubahan, khususnya bagian taman dan pagar depan. Patung Gatot Subroto di halaman dipertahankan dengan dilengkapi kolam. Pagar besi sengaja dilepas untuk membentuk kesan luas dan terbuka. Pos penjagaan yang sebelumnya berada di sisi barat dipindah ke sisi depan dengan ukuran lebih kecil. Renovasi Loji Gandrung menghabiskan anggaran Rp 2,3 miliar.

“Tahun ini kita selesaikan. Namun ada beberapa bagian yang akan digarap tahun depan,” terang Kepala Bagian Umum Setda Surakarta, Agus Susanto. (irw/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia