Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

RSPD Optimalkan Pelestarian Seni Budaya

07 Desember 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Perdana

NGURI-URI BUDAYA: Penampilan karawitan dalam kegiatan kesenian di RSPD Klaten, Rabu (5/12). Selain karawitan juga  ada festival musik jalanan, dan ketoprak.

NGURI-URI BUDAYA: Penampilan karawitan dalam kegiatan kesenian di RSPD Klaten, Rabu (5/12). Selain karawitan juga  ada festival musik jalanan, dan ketoprak. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten terus optimalkan perannya dalam pelestarian seni budaya. Salah satunya dengan menyediakan sarana dan prasarananya melalui pengelolaan di kompleks Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Klaten. Ditambah keberadaan Gedung Sunan Pandanaran dan panggung terbuka yang kini sering digunakan untuk menggelar kegiatan seni dan budaya.

Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Klaten, Wahyudi Martono menjelaskan, beberapa bulan terakhir RSPD menjadi pusat pelaksana kegiatan yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian (Wankes) Klaten. Masyarakat dapat menikmati berbagai kesenian yang mengangkat kearifan lokal itu. Memberikan ruang untuk pelestarian seni budaya di RSPD sendiri.

”Selain menjadi pusat kegiatan, Wankes juga menggelar dan menyiarakan kesenian wayang kulit setiap Selasa Kliwon. Termasuk ketoprak yang diselenggarakan setiap Jumat Legi. Ada pula macapat dan laras madya setiap Jumat serta Minggu malam,” terang Wahyudi kepada Jawa Pos Radar Solo.

RSPD juga memfasilitasi alumni Festival Ketoprak Pelajar yang digelar Amigo Group. Mereka mementaskan sekali dalam seminggu sehingga tidak hanya terpaku dalam penyelenggaraan festival saja. Terlebih lagi adanya keberlanjutan sehingga kemampuan dalam memerankan tokoh dapat terasah dengan kemasan ketoprak lesehan.

”Kesenian karawitan juga telah kami fasilitasi melalui siaran langsung di radio. Jika dulunya jarang kelompok karawitan yang tampil, tetapi kini setelah diberikan stimulan Rp 700 ribu, justru antre tampil. Jumlah kelompok karawitan yang ingin tampil semakin banyak, sehingga perlu dijadwalkan dalam setahun,” tandas Wahyudi.

Kelompok karawitan yang tampil merupakan pengrawit baru dan belum populer. Harapannya dari sini terdapat regenerasi pelaku seni dan budaya. Terlebih lagi jika hanya berlatih tanpa pernah tampil, semangat melestarikan budaya bakal drop.

”Sebenarnya masih banyak lagi pelaku seni yang tampil di RSPD. Hanya saja belum mendapatkan uang stimulan. Seperti macapat, siteran, dan hadrah yang ke depannya diharapkan bisa dipihaki,” terang Wahyudi.

Dalam dua bulan ini, sejumlah kegiatan seni dan kebudayaan dari program Wankes Klaten dipusatkan di RSPD Klaten. Dirinya mengapresiasi kegiatan yang berupaya melestarikan kesenian lokal di Klaten. Meski begitu, tidak akan  mengurangi target pendapatan dari penggunaan Gedung Sunan Pandanaran Klaten yang biasanya digunakan hajatan pada akhir pekan. ”Target tahun ini Rp 280 juta. Sudah ada perda baru yang mengatur kenaikan sewa Gedung Sunan Pandanaran. Awalnya Rp 1,5 juta jadi Rp 3 juta,” ucapnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia