Rabu, 20 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Sistem Zonasi Mudahkan Pembeli Cari Barang

12 Desember 2018, 12: 07: 06 WIB | editor : Perdana

MULAI BERGELIAT: Aktivitas Pasar Legi mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit setelah pindah ke pasar darurat dalam beberapa hari terakhir.

MULAI BERGELIAT: Aktivitas Pasar Legi mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit setelah pindah ke pasar darurat dalam beberapa hari terakhir. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO - Penerapan pola dagang sesuai jenis barang dagangan atau zonasi yang diberlakukan pemkot di pasar darurat mendapat respons positif dari pedagang Pasar Legi. Pasalnya, pembeli akan lebih mudah menemukan barang dagangan sesuai dengan jenisnya.

Pantauan koran ini kemarin, hari keempat pasca diserahterimakan pemkot setempat, pedagang terdampak kebakaran makin banyak menempati lapak-lapak baru di pasar darurat. Mereka merasa diuntungkan dengan adanya sistem zonasi tersebut. 

“Kalau sekarang kan modelnya dagangannya sudah mirip-mirip. Jadi akan lebih mudah ditemukan sama pembeli. Khususnya pembeli baru,” ujar Sriyono, 49, kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pedagang gerabah dan alat-alat masak tersebut mengaku sudah empat hari menempati kios darurat di Blok B 22 Jl Sabang. Meski tak seramai sebelumnya, dirinya melihat ada kenaikan penjualan dari hari ke hari jika dilihat dari banyaknya pedagang yang mampir ke lapaknya. 

“Sebelumnya saya jual keliling. Setelah dapat nomor kios langsung saya tempati. Pembeli pun mulai banyak. Awalnya itu hanya ada satu dua pembeli. Hari ini sudah delapan pembeli. Semuanya pembeli baru,” ujar dia.

Hal senada juga diungkapkan pedagang lainnya, Ninik, 56, yang tengah sibuk menunggui pegawainya mendisplai sejumlah barang dagangan di kios darurat. Ninik mengaku baru hari ini dirinya memasukkan barang dagangan ke kios darurat, mengingat beberapa hari sebelumnya harus membenahi kios pemberian pemerintah itu. 

Dirinya pun tak menyoal pola zonasi yang diterapkan. Menurutnya, pola apapun akan sama saja asal pedagang kompak dan segera memulai aktivitas jual beli di lokasi baru. Dirinya yakin jika semuanya sudah berjalan akan lebih mengundang minat masyarakat untuk datang dan membeli. 

“Pokoknya kalau semua bisa jualan akan ramai. Apalagi letak kios ini ada di salah satu jalan utama menuju pasar. Jadi saya pikir akan lebih menguntungkan buat pedagang. Inginnya bisa laris kaya dulu lagi,” harap Ninik. 

Pedagang sembako Ny Sukamto, 70, yang menempati hanggar Pasar Legi mengaku selama dua hari berdagang di dalam hanggar dirinya mengaku tak mengalami kendala memulai aktivitas di lokasi baru. Bahkan untuk dua hari ini, mayoritas pembeli di lapaknya merupakan pembeli baru. 

“Sehari lebih dari 20 pembeli. Lumayanlah, apalagi pembeli baru semua. Jadi saya pikir ke depan akan lebih baik lagi,” kata dia.

Ia pun tak mempermasalahkan pola zonasi yang diterapkan. Menurutnya, mau seperti apapun pedagang dan jenis dagangan akan sama saja. Yang penting berpikir positif dan berdagang dengan baik. Selebihnya biar pembeli yang menentukan. 

Meski banyak yang tidak menyoal zonasi, ada juga pedagang masih waswas dengan pola tersebut. Salah satunya adalah pedagang kentang, Sri Haryati, 46, yang menjajakan dagangannya di hanggar Pasar Legi. 

“Ya kalau seperti ini kan saingan antarpedagang jadi tinggi. Kalau bisa seperti yang lama sajalah. Pedagang bisa menyebar jadi semua kebagian pembeli,” kata Sri.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo menegaskan bahwa zonasi yang diterapkan adalah pilihan terbaik untuk penataan pasar. Berkaca pada berbagai pasar di berbagai daerah yang cukup maju, sistem zonasi terbukti mampu memberikan penataan yang lebih kondusif dan menguntungkan bagi pedagang dan pembeli. 

Karena itu, sistem zonasi di Pasar Legi dibagi dalam lima golongan seperti gerabatan, sayur-mayur, sembako, ikan-daging, dan kuliner. 

“Zonasi itu nanti yang diuntungkan pedagang. Jadi kita lihat mana yang lebih baik saja. Perubahan itu memang sulit namun harus dicoba jika arahnya memang lebih baik,” tutur Rudy. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia