Senin, 21 Jan 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Serangan Ulat Jati Membawa Berkah Warga Pinggiran Wonogiri

15 Desember 2018, 12: 33: 49 WIB | editor : Perdana

MUSIMAN: Warga mencari kepompong ulat jati dan ulat johar di kebun sekitar rumahnya. 

MUSIMAN: Warga mencari kepompong ulat jati dan ulat johar di kebun sekitar rumahnya.  (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Ulat jati yang muncul di awal musim hujan satu sisi mengkhawatirkan, namun di sisi lain justru membawa berkah melimpah bagi warga di pelosok Wonogiri. Tidak hanya bisa diolah menjadi kudapan nikmat, namun harganya juga fantastis. 

IWAN KAWUL, Wonogiri

Matahari sudah mulai menyengat. Warga pun mulai menyerbu kebun jati di kampung setempat sambil membawa ember kecil. Sejurus kemudian mereka tampak sibuk memunguti sesuatu dari tanah.

“Ini kepompong ulat jati. Kalau musim seperti ini banyak ditemukan. Kalau dijual harganya juga mahal,” ujar Surono yang sejenak pandangannya beralih kepada koran ini ketika ditanya soal aktivitasnya tersebut.

Harga kepompong ulat jati ini memang cukup fantastis. Di pasar tradisional makanan khas Wonogiri ini bisa ditawarkan Rp 70-Rp 85 ribu per kilogram. Kerabatnya yakni kepompong ulat johar juga tembus Rp 60 ribu per kilogram. 

Ulat bagi sebagian orang mungkin merupakan binatang yang menjijikkan, namun tidak bagi sebagian warga Wonogiri. Kearifan lokal sejak lama telah menyandingkan warga Wonogiri dengan ulat. 

Bisa jadi di wilayah lain ulat jati atau ulat johar menjadi hama dan masalah, tapi di Wonogiri ulat justru menjadi berkah. Apalagi di awal musim hujan. 

“Dua hari ini saya berbuburu kepompong ulat jati. Ulat jati setelah kenyang makan daun jati biasanya turun ke tanah, menjadi kepompong di daun-daun kering di atas tanah,” ujar Surono asal Desa Pare, Kecamatan Selogiri ini.

Menurut Surono, dalam dua hari terakhir dirinya bisa mengumpulkan 1-2 kilogram. Kemudian kepompong tersebut dijual ke pasar-pasar tradisional di wilayah Wonogiri, seperti Pasar Ngadirojo maupun Pasar Krisak, Selogiri. 

“Dipelihara juga bisa. Daun jati yang masih ada ulatnya dimasukkan ke keranjang, lalu ditutup agar ulatnya tidak keluar. Dua tiga hari kemudian paling sudah jadi kepompong dan siap jual,” ujarnya.

Harga tergantung banyak tidaknya yang jualan di pasar. Kalau banyak yang jual biasanya Rp 60 ribu per kilogram sudah dilepas. Namun bila hanya ada beberapa penjual, harganya bisa naik sampai Rp 85 ribu.

Sementara, di Pasar Ngadirojo harga kepompong ulat jati dan kepompong ulat johar dijual antara Rp 65 ribu sampai Rp 70 ribu per kilogramnya. Citra Wihastuti mengaku membeli satu kilo ulat johar seharga Rp 60 ribu. “Biasanya dimasak oseng-oseng atau digoreng. Kalau saya suka di oseng-oseng yang pedas,” katanya.

Dia mengaku menyukai makanan dari kepompong ulat jati ini karena hanya ditemui di waktu tertentu. Karena itu, dia mengaku rela kalau harus membayar mahal demi makanan favoritnya itu. (*/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia