Rabu, 27 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Guguran Lava Merapi Mengarah ke Barat Laut

17 Desember 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Puncak Gunung Merapi terlihat dari Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten.

Puncak Gunung Merapi terlihat dari Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

KLATEN - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) intensif menginformasikan pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi. Memastikan bakal ada erupsi yang bersifat efusif. Mengarah ke barat laut, masuk ke dalam dasar kawah. Kendati demikian, BPPTKG terus mengimbau agar warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (III) untuk tetap waspada.

Data dari BPPTKG, volume kubah lava hingga 13 Desember 2018 mencapai 359.000 meter kubik. Sedangkan laju pertumbuhannya hanya 2.200 meter kubik per harin. Masuk kategori rendah. Namun, BPPTKG tetap meminta warga yang tinggal di lereng Merapi tetap meningkatkan kewaspadaan.

”Saya minta kepada masyarakat yang tinggal di radius 3 km dari puncak Merapi tidak boleh ada aktivitas. Kilat di puncak itu bukan dari petumbuhan lava, tetapi memang cuaca di atas. Saat ini dominan guguran lava mengarah ke barat laut, meskipun sesekali ke tenggara,” kata Kepala BPPTKG Jogja, Hanik Humaida kepada Jawa Pos Radar Solo.

Guguran lava terbentuk akibat runtuhan kubah atau material lama yang masih panas di puncak. Bersifat membakar dan merusak lingkungan. Hanya saja, guguran lava yang mengarah ke barat laut meluncur ke dalam dasar kawah.

”Meski sekali-kali ke arah Kali Gendol, dalam hal ini tenggara. Seperti beberapa waktu lalu, guguran lava meluncur dengan jarak paling jauh 300 meter. Sedangkan yang ke arah barat laut belum ada dampak siginifikan karena kubah lava masih stabil,” jelas Hanik.

Guguran kubah lava sejak 11 Agustus lalu terjadi rata-rata hingga 40 kali. Meluncur ke barat laut maupun tenggara. BPPTKG memandang fenomena ini normal pada level waspada.

”Sekali lagi, saya minta warga tetap waspada karena potensi bahaya tetap ada. Patuhi rekomendasi kami. Kemungkinan akan turun menjadi normal ataupun meningkat. Ya lihat perkembangannya nanti. Tapi kemungkinan erupsinya tak seperti 2010 karena tanda-tanda yang diperlihatkan berbeda,” tandas Hanik.

Sosialisasi kondisi Merapi menyasar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tiga kabupaten di Jateng. Yakni Klaten, Boyolali, dan Magelang. Termasuk para relawan dan komunitas.

”Kubah lava masih terus tumbuh. Tapi aktivitasnya di atas normal hingga waspada,” beber Hanik.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Sarwa Pramana menambahkan, pihaknya bakal membuat forum edukasi. Bagi media terkait kebencanaan, tahun depan. Termasuk membangun komunikasi agar cepat sampai ke masyarakat.

”Terkait informasi hoax, untuk menangkalnya akan kami konfirmasi ke lembaga berwenang. Apakah itu benar terjadi? Jika benar, baru kami teruskan ke masyarakat,” ujarnya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia