Minggu, 20 Jan 2019
radarsolo
icon featured
Features

Amankah Konsumsi Obat Hormonal tanpa Pengawasan Medis?

Oles Bertahun-tahun, Fisik Baru Berubah

17 Desember 2018, 13: 23: 41 WIB | editor : Perdana

Amankah Konsumsi Obat Hormonal tanpa Pengawasan Medis?

ERA modern seperti sekarang, penyebaran informasi jauh lebih mudah diakses oleh siapa saja. Termasuk mengenai obat-obat perangsang hormon yang mampu mengubah bentuk fisik seseorang. Tapi dalam praktiknya, penggunaan obat macam itu dilakukan tanpa pengawasan atau rekomendasi dari ahli medis. Lantas seperti sebenarnya apa efek sampingnya? Berikut penelusuran kami ini.

Untuk mengetahui testimoni dari para pengguna obat-obat hormonal ini, Jawa Pos Radar Solo sempat menemui beberapa pemakainya. Salah satunya adalah  Monalisa (nama samaran). Sekilas, dari sisi fisiknya dia memang terlihat seperti perempuan tulen dengan balutan gaun anggun dan rambut panjang menjuntai sebahu. Namun jika diperhatikan lebih detil, orang akan tahu bahwa dirinya tidak seperti perempuan pada umumnya.

 “Saya lahir sebagai pria. Tapi sekarang saya menganggap diri saya sebagai wanita dan kini mulai diterima di masyarakat,” jelas Monalisa, 26, saat ditemui kami ini di salah satu rumah kosnya di Kota Bengawan, Minggu (16/12). 

Meski bentuk fisiknya masih lebih mirip pria dibandingkan seorang wanita tulen, Monalisa yakin bahwa jati dirinya adalah seorang perempuan. Karena itu, dalam dua hingga tiga tahun terakhir dirinya mulai rutin merawat tubuhnya agar lebih tampak lebih feminim dari sebelumnya. 

“Baru tiga tahun ini saya bekerja dengan penampilan sebagai seorang wanita. Dulunya saya bekerja serabutan. Tapi beberapa tahun ini saya diizinkan oleh bos saya untuk tampil sesuai keinginan saya (berdandan wanita),” ujarnya.

Otaknya yang lumayan encer serta teliti dalam bekerja membuat dirinya mendapat kepercayaan penuh dari sang pemilik usaha. Selain itu, pembawaan yang ramah dan mudah akrab dengan siapa saja membuat posisinya sebagai sales produk kecantikan di salah satu distributor kosmetik itu makin melejit.

Maklum saja, kejelian seorang wanita dalam bekerja dipadukan dengan stamina dan kekuatan fisik pria membuat dia lebih unggul dalam dunia kerja dibanding teman sejawatnya yang lain. 

“Bos tidak marah. Saya memang diberi kebebasan untuk tampil seperti ini. Asal semua pekerjaan bisa diselesaikan tepat waktu. Di luar itu tidak ada yang komentar,” beber Mona.

kami ini pun ingin mengenal lebih dalam sosok Monalisa. Namun saat disinggung sederet hal pribadi, dia hanya diam dan meminta berpindah lokasi yang lebih privat. Hingga pada suatu waktu dirinya menunjukkan sebuah produk kosmetik tertentu yang selalu ia pakai saat pagi dan sebelum tidur malam.

“Saya pakai ini sudah hampir setahun lebih,” kata dia sambil menunjukkan sebuah krim oleh yang telah terpakai setengahnya.

Obat itu jika dioleskan secara rutin ke bagian dada, bagian dada pria yang bidang bisa mulai berubah bentuk dan sedikit menyerupai bentuk payudara seorang wanita. Memang tidak instan, perlu kesabaran dan pemakaian selama bertahun-tahun agar kandungan obat tersebut mulai bekerja sesuai yang diinginkan. 

“Ya kalau cuma pakai obat olesnya saja agak lama. Tapi kalau diimbangi dengan obat yang lain akan lebih kentara,” kata Mona.

Monalisa mengaku belum lama menggunakan krim oles pembesar payudara itu. Sebelumnya, dirinya hanya melakukan perawatan salon secara wajar agar terlihat lebih bersih dan menarik. Namun, bujuk rayu seorang kawan trans seksual membuat dirinya yakin untuk mengubah bentuk fisiknya secara permanen. Meski sempat ragu dan khawatir, akhirnya dirinya memberanikan diri untuk mengonsumsi obat tersebut. 

“Awalnya saya tidak pakai obat seperti itu. Tapi kata teman aman, jadi ya saya coba. Dan sekarang mulai terlihat perubahannya,” ucap Mona.

Perubahan fisik yang dimaksud adalah dadanya yang bidang dan cenderung berbulu kini mulai bersih. Bulu dada yang dulunya tumbuh di sekitar dada hingga atas perut kini mulai rontok setelah pemakaian krim tersebut. Bahkan, dadanya yang dulunya rata mulai terlihat menonjong seperti dada seorang wanita yang baru mulai akil balik. “Ukurannya 34 A, ini mau ke B,” gurau Monalisa.

Setahun ini, dirinya rutin mengoles krim tersebut. Meski terasa sedikit hangat, dirinya telah menghabiskan sewadah krim oles tersebut. Dan kini beranjak menghabiskan wadah keduanya. Dirinya merasa dengan seperti itu dirinya akan jauh lebih mirip menyerupai seorang wanita. Satu krim tersebut digunakannya selama 6 bulan dengan harga persatuannya Rp 300-400 ribuan dari sebuah situs jual beli kosmetik online. 

“Saya ini hanya saat bekerja dan di Solo saja tampil sebagai wanita. Tapi saat balik ke kampung saya ya dandan pria lagi,” katanya.

Menurutnya, keluarganya di Ponorogo belum tahu jika dirinya telah menjelma sebagai seorang wanita di kota perantauannya. Meski keluarga tahu ada kecenderungan menyukai sesama jenis, hal itu tidak dia tunjukkan secara frontal di mata keluarganya. 

“Saya merasakan ada gejolak lain dari diri saya itu sejak SMP. Dan saat itu saya memang nyaman jika berada di sekitar teman-teman wanita. Bahkan sampai SMA. Setelah lulus, makin banyak koneksi dan mulai pacaran dengan sesama jenis. Di sana orang tua baru curiga kok selalu ada teman pria menginap di rumah. Makanya saya pilih merantau seperti sekarang,” kata Mona.

Disinggung kembali soal kosmetik pembesar payudara yang dia pakai, Mona mengaku jika kosmetik tersebut dipilihnya tidak secara asal. Sebelumnya dirinya sempat bertanya pada sejumlah kolega soal produk mana yang paling baik dan aman untuk digunakan.

 Setelah mendapat berbagai rekomendasi dari kawan-kawan terdekat, dirinya mulai berselancar di dunia maya untuk mencari produk yang disarankan. Meski tak ada embel-embel halal dan berlabel BPOM, Monalisa tetap yakin bahwa obat itu aman. “Kenapa saya yakin? Ya karena sudah banyak yang pakai dan hasilnya pun ada. Sampai sekarang juga tidak ada efek sampingnya,” kata Mona.

Disinggung soal operasi ganti kelamin, Monalisa mengaku belum sampai ke arah sana. “Saya ini shemale (waria). Saya tetap akan bertahan pada bentuk fisik seperti ini. Paling hanya menumbuhkan payudara dan bentuk fisik lainnya. Tapi saya akan tetap mempertahankan kelamin pria ini,” tutup Mona.

kami ini juga sempat menemui Frans (nama disamarkan). Berbeda dengan Monalisa, Frans terlahir sebagai seorang wanita tulen 20 tahun silam. Entah mengapa, beranjak dewasa ia merasa bahwa dirinya merupakan seorang pria. Karena itu sejak duduk di bangku SMP, dia mulai berupaya untuk tampil semaskulin mungkin meski sedang mengenakan rok saat sekolah dulu.

 “Kalau ditanya saya ini ya wanita. Tapi saya ingin tampil dan dikenal sebagai seorang pria,” ucap Frans saat ditemui kami ini di sebuah kafe ternama di Kota Bengawan.

Meski bertingkah bak pria metroseksual dengan potongan rambut rapi dengan balutan kemeja lengan panjang dan berbagai aksesoris pria, ketulenan dia sebagai seorang wanita masih dapat ditemukan dibalik seluruh busana yang ia kenakan malam itu. 

“Waktu SMP saya memang lebih senang bermain dengan teman-teman pria, sepak bola, basket, pokoknya apa saja yang pakai fisik. Tapi saya juga dekat dengan teman-teman cewek. Dekatnya itu ya seperti cowok yang lagi dekatin cewek,” ucap dia.

Saat sekolah, dirinya tetap mempertahankan bentuk tubuhnya sebagai seorang wanita dengan tetap mengenakan rok sesuai regulasi yang ditentukan. Namun perlawanan batinnya ia tunjukkan dengan selalu tampil dengan potongan rambut pria dan tak pernah sekalipun mengenakan anting atau perhiasan ala anak sekolah. Beranjak dewasa, dirinya mulai memakai berbagai sarana pendukung agar lebih menyerupai pria.

 “SMP mau ke SMA itu saya mulai pakai bra khusus yang sangat ketat dan biasa dipakai untuk menekan payudara agar terlihat lebih ramping,” ujar Frans.

Bra khusus tersebut ia beli dari sebuah situs jual beli online seharga beberapa ratus ribu. Bra khusus berbentuk seperti kaos ketat dengan sejumlah bagian menyerupai korset tersebut memang biasa digunakan para lesbian. Hal itu berfungsi untuk menyembunyikan bentuk payudara dan menekan laju pertumbuhan payudara seorang wanita. “Awal pemakaian memang sakit, tapi lama-lama ya biasa,” ucap dia.

Bra khusus seperti ini biasa dikenakan oleh pada trans lesbian. Khususnya bagi mereka yang di sebut buchi. Frans menjelaskan, buchi adalah istilah untuk seorang lesbian yang berpenampilan menyerupai seorang pria. Sedangkan padanannya bernama femme yang juga penyuka wanita, namun berpenampilan sama seperti wanita pada umumnya. “Kalau yang mengubah bentuk fisik itu Buchi karena memang merasa seperti pria,” jelas Frans.

Untuk memaksimalkan penampilannya, usai lulus SMA Frans mulai membiayai hidupnya sendiri dan bekerja di salah satu perusahaan swasta. Saat itulah dirinya mulai memakai berbagai obat-obatan herbal yang digunakan untuk menekan pertumbuhan payudaranya. Salah satunya dengan krim oles merek Korea yang selalu dibalurkan ke payudaranya setiap pagi dan sore hari usai mandi. ”Jadi bentuknya bisa makin tipis dan memaksimalkan tekanan dari bra khusus tadi,” ujar dia.

Empat tahun sudah dirinya memakai obat tersebut. Agar makin maksimal, dirinya mengambil paket khusus dari krim tersebut berupa pil yang diminum dua kali sehari. Sebotol krim dan satu strip pil itu habis dalam pemakaian beberapa bulan. Harganya pun relatif normal. Untuk obat-obatan semacam itu sekitar Rp 500 ribuan untuk satu paket. Dengan menggunakan krim dan pil itu payudara bisa makin rata dan tidak terlihat. “Obat olesnya memang sedikit panas, kalau pil yang diminum memang membuat jantung berdebar. Tapi itu aman,” jelas Frans.

Disinggung soal keluarga, Frans mengaku keluarga tak menyoal soal penampilannya sejauh ini. Sebab, semuanya itu dia lakukan tanpa menggunakan uang dari keluarganya. Ia pun belum berencana untuk menghentikan penggunaan obat-obatan tersebut, karena dirinya masih betah berpenampilan semacam itu. 

Berbeda dengan Frans, salah satu Buchi lainnya, Andre, 28 (nama samaran juga) mengaku telah cukup lama mengonsumsi obat hormonal. Bahkan, tak hanya obat oles, dirinya juga kerap suntik hormon dan mengonsumsi obat-obatan lainnya dengan cara diminum. “Mengubah fisik wanita menjadi pria itu perlu proses lama. Walau tak ada yang sebenuhnya berubah, tapi menjadi mirip pria itu bisa dilakukan dengan terapi,” jelas dia.

Terapi yang dimaksud dilakukan secara rutin selama beberapa bulan sekali. Bahkan untuk beberapa orang yang cukup ekstrem terapi itu bisa dilakukan beberapa kali dalam sebulan. Semua itu tergantung biaya yang dimiliki dan kemauan untuk melakukannya. “Biayanya lumayan lah. Kalau obatnya apa dan lokasinya di mana saya tidak mau bilang,” ucap Andre.

Nada bicaranya yang cukup ketus membuat kami ini tak bisa menggali informasi secara utuh soal pemakaian serum hormon tersebut. Bahkan saat disinggung soal perubahan kesehatan dan efek samping pasca pemakaian obat-obatan tersebut, Andre hanya menggelengkan kepala. “Sudah itu saja,” tutup Andre. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia