Selasa, 22 Jan 2019
radarsolo
icon featured
Features
Obat Terapi Hormon

Tanpa Resep Dokter Berbahaya, Harus Ada Regulasi Tegas

17 Desember 2018, 13: 43: 37 WIB | editor : Perdana

Tanpa Resep Dokter Berbahaya, Harus Ada Regulasi Tegas

Terkait pemakaian obat hormon bukan peruntukannya, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Solo Dr Adji Suwandono menegaskan bahwa hal tersebut tidak diatur dalam regulasi dan undang-undang di Indonesia. 

Sekalipun fenomena itu banyak dilakukan di negara lain, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak lumrah di Indonesia. Dengan demikian, segala hal yang tidak diatur dalam peraturan, namun tetap dilakukan adalah sebuah bentuk pelanggaran. 

“Yang pasti pemakaian obat-obatan seperti itu tidak boleh dilakukan sendiri. Alias harus dalam pantauan dokter. Jadi tidak boleh sembarangan dikonsumsi karena kita tidak tahu apakah kandungan obatnya aman atau tidak untuk jangka panjang,” beber Adji.

Secara pribadi dirinya lebih mengkritisi soal fenomena peredaran obat-obatan seperti itu. Sebab, peredaran berbagai obat tanpa mengantongi izin perlu disanksikan keamanan dalam penggunaannya. Ada baiknya jika Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Gabungan Perusahaan Farmasi, dan dinas kesehatan membuat regulasi yang jelas terkait fenomena itu. Mengingat, peredarannya obat-obat ini sudah begitu luas dan sangat mudah didapat tanpa mengantongi resep dokter. “IDI melarang keras hal tersebut,” tegas Adji. 

Terpisah, Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Surakarta Anang Kuncoro mengatakan, pihaknya cukup geram dengan berbagai obat-obatan yang beredar bebas di pasaran tanpa mengantongi izin. Bahkan, hal itu sempat diwujudkan dengan aksi longmarch pada 2017 dengan membagikan brosur bertulis bahaya obat ilegal sambil membentangkan spanduk senada di Jl Slamet Riyadi kala itu. Mereka dengan tegas menolak dan mengutuk keras soal peredaran obat ilegal macam itu. 

“Peredaran obat ilegal itu memang masih menjadi permasalahan di negeri ini. Ini harus disikapi menjadi masalah bersama yang harus sesegera mungkin diatasi. Makanya perlu dilihat dulu dari mana sumbernya obat-obatan itu, apakah produksi rumahan lokal, atau suplai dari luar negeri,” tegas Anang.

IAI juga terus mewanti-wanti setiap anggotanya agar mendapatkan obat dari jalur yang benar. Selain itu juga jeli melihat permasalahan yang ada, khususnya peredaran obat-obatan tanpa izin. Preventifnya, terus melakukan edukasi soal obat-obatan. 

Meski kesadaran masyarakat soal obat makin membaik setiap tahunnya, tak menutup kemungkinan ada kelompok masyarakat yang mencoba menegasikan efek berbahaya dari obat-obatan ilegal maupun penyalahgunaan obat-obatan tersebut. 

“Harus kita lihat dengan jeli. Penggunaan obat itu ada tiga, yakni penggunaan secara tepat, penyalahgunaan obat, atau penggunaan yang salah. Maka basiknya, penggunaan obat-obat tertentu yang memberikan dampak perubahan pada seseorang harus di bawah pengawasan medis. Jika tidak bisa membahayakan pemakainya apa lagi jika digunakan secara serampangan,” tegas Anang.  (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia