Minggu, 24 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features
Cara Rslide Band Tetap Eksis di Pentas Musik

Kawinkan Gamelan Jawa dengan Musik Jamaika

19 Desember 2018, 12: 44: 32 WIB | editor : Perdana

TETAP BERTAHAN: Meski sudah sering berganti personel, Rslide Band masih solid.

TETAP BERTAHAN: Meski sudah sering berganti personel, Rslide Band masih solid. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Berita Terkait

Mempertahankan sebuah band agar tetap eksis memang tidak mudah. Perlu inovasi agar bisa diterima publik. Inilah yang dilakukan Rslide Band selama 10 tahun terakhir. Band indie beraliran Jamaican Music ini kini memasukkan unsur Jawa dalam setiap penampilannya. Maka jangan kaget, jika melihat beberapa gamelan dan sejumlah backing vokal berbaju sinden saat mereka manggung. 

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

BICARA soal musik SKA, aliran musik dari dekade 50 di Jamaika tersebut memang populer seiring dengan penyebarannya ke segala penjuru dunia hingga saat ini. Sejatinya, aliran musik jenis ini merupakan perpaduan musik-musik mento dan kalipso dari Karibia. Maka pembawaannya pun identik dengan sentakan musik yang enerjik dan sarat untuk bergoyang. 

Di Kota Bengawan, pegiat musik ini pun cukup subur. Beruntung koran ini dapat menemui salah satu band yang cukup unik dari belasan bahkan ratusan band lainnya, seperti Rslide Band.

“Kalau sekarang bedanya jelas, karena kami memasukkan gamelan dalam musik kami,” kata sang peniup saxophone, Angga Saputra saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di kawasan Banjarsari, Minggu (16/12).

Terbentuk 12 September 2008 silam, Rslide terbilang cukup andal menjaga eksistensinya di belantika musik indie Kota Bengawan. Meski kerap bongkar muat personel, mereka masih saja konsisten dengan aliran musik ala Jamaican tersebut. 

“Kenapa SKA, karena aliran ini lagi booming di tahun itu. Jadi kami tergerak untuk membuat band dengan aliran ini. Suka duka adalah, misalnya awal terbentuk hanya 4 orang dan sering gonta-ganti personel. Tapi yang jelas sampai hari ini personelnya tetap utuh di 12 orang. Jadi konsepnya big band,” kata Angga.

Salah satu hal yang juga cukup unik adalah seluruh personel merupakan alumnus SMK Negeri 8 Surakarta atau yang lebih akrab dikenal sebagai SMKI. Alasan itulah yang membuat rasa kebersamaan mereka terbukti kuat karena telah dipupuk sejak masih duduk di bangku sekolah yang sama kala itu. 

Alasan lainnya, aliran musk yang satu ini memang gampang diterima banyak kalangan, bahkan mereka yang awam sekalipun. Karena iramanya yang khas mudah menarik gerak seseorang untuk ikut berjoget ria. 

“Awalnya kami mainkan musik SKA asli Jamaika. Lama kelamaan mulai mengembangkan diri dengan memadukan berbagai aliran musik seperti jazz, blues, rock, dan lainnya. Karena memasang masuk untuk dipadupadankan,” ujar Angga.

Setahun belakangan, band yang memiliki kepanjangan Rhapsodi Slogan Idea ini mulai memadukan musik Jamaika tersebut dengan alunan langgam Jawa dalam setiap kesempatan. Bagi mereka, dengan mengawinkan gamelan dengan musik Jamaika dapat menunjukkan bahwa gamelan bukan alat musik yang usang dan tidak populer atau tak bisa mengikuti perkembangan musik saat ini. 

“Kami ini juga punya side project di sebuah orkes gamelan modern. Jadi kenapa tidak kami gabungkan dalam penampilan kami. Toh, personel yang memainkan musiknya juga sama. Kalau tujuannya jelas, kami pengin memopuloerkan lagi gamelan di mata dunia. Khususnya anak muda Kota Solo yang saat ini sudah makin tak kenal dengan gamelan,” sambung sang pembetot bass, Gregoriyanto Kris Mahendra.

Karena keunikannya tersebut, salah satu singgle Rslide sempat diputar dalam upacara Hari Kemerdekaan 2017 lalu di Istana Negara Jakarta. Saat itu, sebuah drama kolosal yang ditampilkan dalam upacara tersebut sedang membutuhkan lagu pengiring untuk tari yang akan tampil. Sang sutradara pun langsung mengabari. Dan Rslide pun langsung yes ketika diberikabar single berjudul “Merayakan Kebersamaan” yang diciptakan pada 2016 lalu itu bakal diputar dalam upacara kemerdekaan kala itu. 

“Bagaimana tidak senang? Diputarnya saja di momen nasional, disiarkan juga nasional. Bahkan diperdengarkan di depan para tokoh-tokoh nasional. Jelas bangga lah,” kelakar Grego.

Baginya, dapat memadukan gamelan dengan berbagai musik merupakan tantangan besar bagi anak muda untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi nenek moyang. Meski memiliki kesulitan tersendiri, grup yang satu ini tetap ngotot memakai gamelan dalam setiap kesempatan. Dan siap memukau setiap pengunjung yang hadir dalam pentas mereka. 

“Kita orang Jawa, dan masih muda. Jadi apa yang kita bisa perbuat untuk bangsa ini. karena kami musisi, tentunya akan lewat musik. Dan ini cara kami untuk tetap berbudaya,” kata Grego.

Namun sayang, saat disinggung soal major label, grup ini terkesan enggan untuk menjajal dunia recording yang lebih luas. Alasannya, mereka takut terkungkung kebebasan kreatif dan idealisme mereka pupus dalam berkarya. Meski demikian, ke depan Rslide masih akan terus berkarya dan mewarnai pentas permusikan di belantika musik indie di Kota Bengawan. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia