Minggu, 24 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Solo
Modus Rekrutmen Anggota Polri

19 Pemuda Diperas Ratusan Juta

19 Desember 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Perdana

LINTASPROVINSI: Tersangka penipuan sindikat rekrutmen anggota Polri diamankan di Polsek Pasar Kliwon, kemarin.

LINTASPROVINSI: Tersangka penipuan sindikat rekrutmen anggota Polri diamankan di Polsek Pasar Kliwon, kemarin. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Sudah jatuh, tertimpa tangga. Inilah yang dialami 19 pemuda asal Jawa Timur. Tergiur iming-iming bisa mengikuti pendidikan kepolisian, mereka malah menjadi korban penipuan. Akibatnya uang ratusan juta raib begitu saja. Akhirnya kasus ini terbongkar Senin (17/12) malam.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan Ferry Syahputra Hasibuan, 28, warga Jalan Kembali No. 29 RT 22 RW 03, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Sampit, Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara. Dia bertugas sebagai oknum yang berpura-pura menjadi instruktur latihan dasar kepolisian. Guna mengelabuhi para korban, pria ini mengaku sebagai anggota Badan Intelijen dan Pengamanan (Baintelkam) Mabes Polri berpangkat Kompol.

“Kalau yang menjaring bukan saya. Ada lagi di atas saya. Saya cuma dikasih tugas melatih anak-anak saja dan membeli peralatan latihan kepolisian. Saya belinya di toko peralatan belakang Polresta Surakarta. Satu set Rp 7 juta. Setelah saya beli kemudian saya bagikan kepada mereka,” jelas Ferry.

Ferry sendiri melatih para korban selama beberapa pekan terakhir di wilayah eks Karesidenan Surakarta. Tiga pekan di salah satu villa di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, sedangkan tiga hari latihan dilakukan di salah satu hotel berbintang di Kota Solo. “Saya latih fisik, seperti lari, push up, sit up, renang dan lain-lain,” tutur pelaku.

Untuk biaya operasional selama latihan, lanjut Ferry, dia selalu dikirimi dana oleh oknum yang menjaring korban. Total biaya operasional yang telah masuk ke rekening pribadinya sebesar Rp 900 juta. “Kalau berapa yang dikirim para korban saya tidak tahu jumlahnya. Saya cuma diberi uang sama di atas saya sebagai uang operasional,” paparnya.

Kapolsek Pasar Kliwon AKP Ariakta Gagah Nugraha menuturkan, kasus ini berhasil terbongkar setelah adanya laporan warga yang bermukim di sekitar hotel yang curiga dengan kegiatan tersebut. Laporan tersebut lantas ditindaklajuti oleh Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Baru akhir pekan lalu. “Kemudian yang bersangkutan kita minta datang ke polsek untuk menjelaskan kegiatan tersebut,” katanya.

Benar saja, Ferry mendatangi polsek dan diterima langsung oleh kapolsek.  Kepada Ariakta, pelaku mengaku mendapat mandat menggelar pendidikan ini dengan mencatut dua nama petinggi Polri. Namun saat dimintai bukti surat tugas dan kartu tanda anggota (KTA) Polri, pelaku tidak mampu memperlihatkan dengan berbagai alasan.

Pelaku juga mengaku sebagai lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2008. Dari situ kapolsek sudah curiga. Sebab, sebagai lulusan Akpol 2007, tidak mungkin dia tidak mengenal adik tingkatnya.

“Saya saja masih AKP, masak adik tingkat saya sudah Kompol. Saya pancing menyebutkan NRP (nomor registrasi pokok) juga salah,” ujarnya.

Namun saat itu polsek tidak bisa menahan karena tidak ada korban yang melaporkan kejadian ini. Setelah itu, polsek berkoordinasi dengan Satreskrim Polresta Surakarta. Dari hasil penyelidikan ternyata ada satu laporan masuk terkait kasus penipuan tersebut di Polres Ngawi. “Setelah mendapat informasi tersebut, kami langsung mengamankan pelaku di salah satu hotel di Solo,” kata kapolsek.

Dari hasil penyidikan awal, modus yang dilakukan komplotan pelaku adalah menjaring para calon siswa yang gagal dalam ujian tahun ini. Kepada para korban, para pelaku mematok harga. Untuk pendidikan bintara, korban ditarik uang iuran Rp 550 juta, sedangkan untuk pendidikan Akpol dipatok Rp 1 hingga  2 miliar.

“Dari para korban, tiga orang mendaftar pendidikan perwira, sedangkan sisanya masuk pendidikan bintara. Para pelaku mengatakan setelah korban membayar, maka nama korban bisa dimasukkan ke sekolah pendidikan Polri dengan status siswa susulan. Uang tersebut digunakan untuk biaya peralatan, uang akomodasi latihan, serta meloloskan mereka,” katanya.

Setelah dilakukan penggeledahan, pelaku juga memiliki KTP palsu bernama Agung Prayoga Nasution. Selain pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti berupa peralatan latihan kepolisian, identitas para korban, hingga buku rekening milik pelaku. Pelaku sendiri dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman hukuman 4 tahun.

“Karena LP (laporan polisi) ada di Polres Ngawi, maka hari ini (kemarin) baik pelaku, barang bukti, dan kasus sepenuhnya dikembangkan oleh Polres Ngawi, termasuk pengusutan kasus tersebut hingga jaringan di atasnya serta aliran dana penipuan ini,” ujarnya. 

Dari pengakuan para korban, syarat-syarat berupa surat berharga seperti akta kelahiran, ijazah, dan lainnya dibawa oleh sindikat di atasnya. Kapolsek juga mengimbau kepada orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya ke instansi Polri untuk tidak mudah percaya. Sebab untuk menempuh pendidikan tidak dikenai biaya sepersen pun. 

“Tidak ada istilah siswa susulan. Kalau tidak lulus maka harus mengikuti pendaftaran dari awal pada tahun selanjutnya,” ujar Kapolsek.

Dijumpai di Polsek, salah satu orang tua korban Sri Murtini, 50, warga Kabupaten Pacitan, Jatim mengaku sudah membayar Rp 350 juta yang dicicil dua kali kepada sindikat pelaku tersebut. “Uangnya dari tabungan saya sama suami saya,” katanya.

Ditambahkan Sri, anak bungsunya sempat mengikuti seleksi, namun saat pengumuman gagal. Kemudian dia didatangi oleh seseorang yang mengatakan bisa meloloskan untuk menempuh pendidikan Polri dengan membayar sejumlah uang. 

“Saya pun sempat curiga, sebab anak saya pertama juga sedang menempuh pendidikan Polri dan gratis. Tapi karena kasihan lihat anak saya bengong tiap hari akhirnya saya bayar,” jelasnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia