Senin, 21 Jan 2019
radarsolo
icon featured
Features

Setelah Daging Anjing, Muncul Jual Beli Daging Kucing via Medsos

31 Desember 2018, 08: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Setelah Daging Anjing, Muncul Jual Beli Daging Kucing via Medsos

Beberapa tahun belakangan ini, kuliner daging anjing mulai menjadi sorotan berbagai kalangan masyarakat. Bukan karena rasanya yang nikmat, namun lebih pada soal kesehatan daging anjing yang diolah, hingga bentuk-bentuk kekejaman sejak pengiriman hingga eksekusi sebelum dihidangkan. Belum kelar pergunjingan soal itu, muncul sebuah fenomena baru yang lebih ekstrem, yakni olahan daging kucing. Berikut penelusuran koran ini.

Bila olahan daging anjing bisa ditemui di beberapa lokasi di Kota Bengawan, berbeda dengan jual beli daging kucing ini. Penjual sengaja menawarkan via jejaring media sosial Facebook. Melalui foto yang diunggah pada awal Desember 2018 lalu, si oknum menawarkan olahan daging kucing tersebut dalam berbagai menu masakan seperti rica dan lainnya berdampingan dengan kuliner daging anjing.  

Bagi yang berminat pun boleh menghubungi atau datang langsung ke lapak kulinernya yang di sekitar Manahan, Banjarsari, Solo. Koran ini pun langsung mencoba menghubungi secara langsung, namun yang bersangkutan tidak sekalipun memberikan respons.

Tak habis akal, koran ini pun menyambangi sejumlah pedagang kuliner daging anjing dengan tujuan menanyakan keberadaan masakan olahan daging kucing tersebut. Sayang, dari beberapa penjaja kuliner daging anjing yang dihampiri semuanya menjawab tidak menggunakan daging kucing karena belum cukup populer di lidah masyarakat. 

“Kalau saya jual daging anjing ya daging anjing beneran. Tidak dioplos dengan daging lainnya. Bahkan soal bumbu pun tak pernah saya kurangi. Ini soal cita rasa dan konsistensi dalam melayani pelanggan,” ujar salah seorang pedagang kuliner daging anjing yang tak ingin disebut namanya. 

Sepekan lebih, koran ini terus berupaya menjalin komunikasi dengan si pengunggah kuliner daging kucing tersebut, sayang hingga berita ini diturunkan masih belum ada tanda si oknum merespon koran ini. Untuk memberikan gambaran utuh soal pengolahan daging kucing, koran ini kemudian menghubungi sejumlah kolega yang diduga pernah mencicipi secara langsung atau mengolah daging kucing menjadi sebuah menu untuk disantap bersama. 

“Pernah sekali masak daging kucing untuk dimakan bareng-bareng. Kira-kira tiga tahun lalu,” ujar penikmat daging anjing dan kucing ini, sebut saja Harno.

Pada tahun itu, dirinya bersama komunitasnya memang sering menghabiskan waktu di sekitar lapangan daerah Pajang, Kecamatan Laweyan. Biasanya, sambil mengobrol mereka mengonsumsi daging anjing bersama-sama. Namun karena warung kuliner anjing langganan sedang tutup, akhirnya mereka mulai berburu alternatif. 

“Kebetulan juga cari anjing itu ke mana-mana nggak dapat. Dari pada beli lalu saya minta kucing salah satu teman untuk dimasak,” jelas dia.

Dua ekor kucing pemberian teman itu akhirnya diolah sedemikian rupa agar tetap nikmat saat disantap. Awalnya, kucing-kucing itu dijerat di bagian leher sampai mati. Setelah itu, untuk menghilangkan bulu halusnya kucing dipanggang bulat-bulat dalam tumpukan kayu membara agar seluruh bulunya terbakar. Setelah itu diolah. 

“Jeroan tidak saya pakai. Murni daging semua dan dipotong kecil seperti potongan daging anjing biasanya. Saya masak rica-rica dengan bumbu sama seperti rica anjing,” katanya.

Dari segi rasa, daging anjing dan kucing tak jauh berbeda jika sudah disajikan dalam bentuk masakan. Bedanya hanya daging kucing lebih sedikit dari daging anjing. Selain itu, tidak berbau amis seperti daging anjing, hanya saja memang lebih apek dagingnya. “Makanya bumbunya dibanyakin jahe dan tumbar biar tidak bau,” kata dia.

Sebelum Disantap, Alami Penyiksaan Dulu 

Upaya promosi yang dilakukan salah satu oknum penjaja kuliner anjing dan kucing tersebut sejatinya telah diawasi sejumlah pegiat satwa. Sayangnya, hingga saat ini masih belum ada cukup bukti untuk memberikan teguran atau meneruskan laporan pada dinas terkait agar mengambil langkah tegas. Mereka mengutuk keras mengingat anjing dan kucing merupakan hewan domestik atau peliharaan, bukan hewan ternak untuk konsumsi. Selain itu, ada potensi peredaran sejumlah penyakit berbahaya jika terus mengonsumsi daging tersebut.  

Salah satu komunitas yang paling vokal menyuarakan stop konsumsi daging sejenis adalah Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) yang telah bekerja sama dengan Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Mereka telah cukup lama memantau aktivitas jual beli kuliner daging anjing dari proses pendistribusian bahan mentahnya hingga proses pengolahannya sebelum siap disantap. 

“Koalisi ini sengaja dibentuk sejak 2017 lalu sebagai respon akan maraknya konsumsi daging anjing di Indonesia. Kami banyak menelusuri dan meneliti hingga mendokumentasikan soal kekejaman dalam pengolahan daging anjing itu hingga potensi bahaya bagi kesehatan. Ini belum kelar kini muncul daging kucing,” keluh pentolan DMFI, Go Mustika, 52, saat ditemui di salah satu kafe, Selasa (25/12) kemarin.

Meski baru terbentuk 2017 lalu, secara pribadi dirinya telah memantau aktivitas jual beli daging anjing sejak 2012. Kala itu, para pegiat dan penyayang anjing kerap sosialisasi dan mengajak masyarakat untuk stop konsumsi daging anjing. Termasuk mendatangi sejumlah warung penjaja kuliner daging anjing dan minat masyarakat akan kuliner tersebut. 

“Tim investigasi yang kami bentuk telah mendatangi 67 warung olahan daging anjing dan pada 2016 kami simpulkan ada 100 lebih warung sejenis ada di Kota Solo. Nah di 2018, mungkin sudah dua kali lipat,” kata dia.

Penelusuran tidak hanya dilakukan di tempat anjing-anjing itu dijajakan dalam piring saji. Bahkan tim investigasi juga menyambangi sebuah tempat pengepulan anjing-anjing untuk dikonsumsi di wilayah Sragen. Di sana didapat informasi bahwa ratusan anjing-anjing tersebut dikirim dari wilayah Cilacap, Pangandaran, dan Ciamis Jawa Barat yang notabene belum bebas rabies. 

“Lokasi pengepulan itu bisa mengirimkan 60 anjing untuk beberapa warung dan tempat penjagalan dengan intensitas pengiriman dua hingga tiga kali seminggu. Angkanya bisa sampai 12 ribu anjing disembelih tiap bulannya. Ini hanya untuk Kota Solo,” kata Go Mustika.

Yang paling tidak manusiawi, menurut dia perlakuan pada anjing-anjing ini sebelum diambil dagingnya tidak seperti hewan ternak lainnya. Saat dikirim dari luar provinsi, anjing-anjing ini diikat dalam sebuah karung tertutup yang hanya ditumpuk asal. Proses penyembelihannya pun tak kalah memprihatinkan, yakni dengan cara dipukul atau dibekap dalam air. 

“Dari proses pengiriman dan penjagalannya jelas tidak layak. Belum lagi jika ditambah potensi dari mana anjing-anjing ini di dapat,” jelas dia.    

Anjing-anjing yang diolah ini menimbulkan banyak spekulasi bahwa didapat dari hasil tangkapan. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir banyak laporan kehilangan dari sejumlah pemilik satwa yang melaporkan anjing-anjing miliknya tidak pernah kembali.  

Pihaknya juga menyanksikan jika anjing-anjing itu sengaja dikembangbiakkan. Mengingat, harga jual per satu kilo daging anjing tidak sebanding dengan ongkos pemeliharaan atau pengembang biakan. “Satu kilogram daging anjing hanya dibanderol Rp 25-26 ribu. Jadi sebelum dijual, anjing itu akan ditimbang untuk diketahui nilainya,” jelas dia. 

Ia pun makin prihatin dengan munculnya fenomena baru terkait kuliner daging kucing yang sempat dipromosikan di media sosial beberapa waktu lalu. Baginya, kucing dan anjing merupakan jenis hewan domestik yang dipelihara sebagai kawan manusia bukan untuk diolah menjadi masakan.  

Ia pun menduga fenomena kuliner kucing itu juga sama mirisnya dengan proses-proses yang dilakukan pada anjing sebelum disembelih. Belum lagi kucing merupakan hewan domestik yang masih mudah ditemukan di sejumlah tempat tanpa ada pemiliknya. Oleh karena itu, kesehatan si hewan sangat dipertanyakan jika akan dihidangkan dalam sebuah piring saji.

 “Ini fenomena baru. Ada sebuah penjaja kuliner daging anjing yang juga menyajikan olahan daging kucing. Sayangnya setelah sempat viral kemarin kami cukup kesulitan untuk mendapatkan penjualnya,” jelas Go Mustika. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia