Senin, 21 Jan 2019
radarsolo
icon featured
Features

Uly Wulan Apriani Ciptakan Zat Kimia Pengurai Limbah Berbahaya

01 Januari 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Perdana

PEDULI LINGKUNGAN: Selain ciptakan zat pengurai limbah, Uly Wulan ajak anak-anak manfaatkan limbah jadi barang kreatif.

PEDULI LINGKUNGAN: Selain ciptakan zat pengurai limbah, Uly Wulan ajak anak-anak manfaatkan limbah jadi barang kreatif. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Solo memiliki masalah pengolahan limbah industri tekstil yang hingga kini belum selesai. Uly Wulan Apriani memiliki solusi. Apa itu?

IRAWAN WIBISONO, Solo

BELAJAR di bangku kuliah tak membuat Uly Wulan Apriani acuh pada lingkungan sekitar. Mahasiswi tingkat akhir Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret ini menciptakan zat kimia untuk mengurangi kadar limbah berbahaya di industri tekstil.  

Zat yang dibuat itu dinamakan Bio-Goal. Akronim dari Bioadsorben Graphene Oksida Alginat. Sebuah sintetis dan aplikasi biomaterial penyerap zat warna metilen biru dengan teknik eco bio, adsorpsi-elektrokimia.

“Kita melihat Solo memiliki industri tekstil tradisional yang besar. Tetapi limbahnya belum diolah dengan baik. Dengan Bio-Goal ini bisa mengurangi kadar metilen dalam limbah sebesar 90,37 persen,” katanya.

Perempuan 20 tahun ini menjelaskan, kandungan metilen merupakan senyawa yang tak berbau yang berbahaya bila dikonsumsi manusia. Beberapa efek samping yang ditimbulkan antara lain mual, muntah, demam hingga kesulitan bernafas. Selama ini pengolahan limbah menggunakan sistem elektrokimia dan adsorpsi. Bio Goal menggabungkan kedua sistem tersebut.  

“Bentuk fisiknya berupa butiran-butiran padat. Setiap 10 gram Bio Goal bisa digunakan untuk 2,5 liter limbah cair,” terang peraih Juara 3 Call for Paper Indonesian Student Summit 2016 ini.

Uly, begitu dia disapa, melakukan penelitian bersama dua rekannya saat memperoleh hibah penelitian dari kampus awal tahun kemarin. Penelitian tersebut telah diuji di laboratorium kimia dengan hasil yang sempurna. Bio Goal ciptaannya juga dapat dipakai oleh pelaku industri tekstil di Kota Bengawan hanya dengan membayar biaya produksi saja. Dia mengemas Bio Goal dengan botol sebesar 10 gram.

“Ongkos produksi kita sebesar Rp 30.450, kita jual dibulatkan menjadi Rp 40.000,” ujarnya.

Harga yang relatif murah untuk pengurai limbah di industri tekstil. Apalagi jika melihat risiko yang bakal ditimbulkan oleh limbah tersebut. Uly dan timnya ingin melakukan sosialisasi produknya ke seluruh pengusaha tekstil, sayangnya keiinginannya tersebut terkendala ruang dan waktu. Selain mengerjakan tugas akhir, penggemar mi instan ini juga aktif di youth project. Sebuah komunitas bisnis yang digalang oleh beberapa aktivis muda di kampusnya.

“Saya juga sedang mengampanyekan cinta lingkungan untuk anak-anak dan remaja kampung,” ujar Juara 3 Karsa Cipta Lingkungan UNS Green Campus 2018 ini.

Dia sedang menggalakkan program daur ulang sampah untuk anak-anak. Mereka diajari bagaimana tidak membuang sampah sembarangan hingga menjadikan sampah itu sebagai bahan edukasi. Contoh sederhana yang dia bawa adalah memanfaatkan botol bekas air mineral menjadi tempat pensil.

“Daur ulang itu tidak dijual, tetapi dimanfaatkan sendiri untuk mereka. Jadi sampah yang biasanya mereka buang malah bisa bermanfaat,” kata Uly.

Ke depan, anak bungsu dari dua bersaudara ini ingin mengedukasi kampung tempat tinggalnya menjadi kampung ramah lingkungan. (irw/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia