Jumat, 22 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features

Blak-blakan Ungkap Racikan Rahasia Kecantikan Putri Keraton

08 Januari 2019, 19: 50: 06 WIB | editor : Perdana

Blak-blakan Ungkap Racikan Rahasia Kecantikan Putri Keraton

AURA kecantikan putri keraton menjadi pesona tersendiri yang tak pernah luntur. Bahkan, paras cantik ala putri keraton ini sering menjadi tolok ukur dalam menggambarkan kesempurnaan paras perempuan. Tentu, untuk menjadi cantik dan selalu menawan, putri-putri keraton juga punya resep racikan khusus. Apa rahasianya?

Beberapa waktu lalu, Jawa Pos Radar Solo mendapat kesempatan bertemu dengan kakak Raja Keraton Kasunanan Surakarta PB XIII Hangabehi, Gusti Kanjeng Ratu (G.K.R.) Alit. Sebagai putri tertua dalem Sri Susuhunan Paku Buwono XII, dirinya sempat menyaksikan sendiri di mana tradisi minum jamu, lulur mangir, dan ratus rutin dilakukan oleh para pendahulunya.  

“Saya sempat mendapat kesempatan untuk mendengar cerita sesepuh dulu, baik di masa kakek saya PB XI atau pun masa ayah saya PB XII saat membahas bahan-bahan racikan yang digunakan untuk membuat jamu, lulur mangir, dan ratus (wewangian). Saya masih ingat (meraciknya) sampai sekarang,” jelas G.K.R Alit.

Selain itu, kemampuannya meracik juga diwarisi dari ibu kandungnya sendiri, Kanjeng Ratu Ayu (K.R.Ay) Mandyaningrum yang memang terkenal memopulerkan ilmu turun menurun tersebut. Almarhum ibunya ini sering membuat berbagai racikan jamu, lulur mangir, dan ratus yang kemudian diturunkan pada setiap abdi dalem yang ada di lingkungan keraton. 

“Saya sering melihat ibu saya saat meracik jamu bersama abdi dalem. Dan secara tidak langsung pengetahuan meracik semacam ini diturunkan lewat kesibukan sehari-hari,” jelas G.K.R Alit.

Meski rutinitas merawat diri secara tradisional saat ini sudah tidak sepopuler dahulu, tapi tradisi tersebut masih dilakukan di lingkungan keraton. Baik oleh para bangsawannya maupun oleh sejumlah abdi dalem. 

Di zaman dulu, tradisi minum jamu hampir dilakukan setiap saat. Sementara perawatan fisik seperti lulur dan mangir memiliki masa pemakaian tertentu, seperti penggunaan ratus. “Kalau untuk perempuan biasanya memang selalu menjalani tiga hal ini, dengan tata cara perawatan yang lebih rumit dari pada perawatan untuk pria,” beber putri keraton 71 tahun yang masih kelihatan ayu ini.

Meski ketiga hal ini (jamu, lulur mangir, dan ratus) tersebut berbeda cara pembuatan dan penggunaannya, namun ada satu kesamaan. Bahwa ketiganya diracik dari bahan-bahan alami yang dipercaya memiliki khasiat untuk tubuh seseorang.

Kunir dan Kunyit

Misalnya, kunir dan kunyit hampir ditemukan pada seluruh resep jamu. Selain itu, kunir dan kunyit juga digunakan untuk bahan dasar membuat ratus. “Kunir dan kunyit ini dipercaya mampu memberikan efek yang baik untuk tubuh. Jika diminum bisa menghangatkan tubuh dan aliran darah jadi lancar. Untuk kulit juga mampu mengobati atau menghilangkan luka, membuat halus dan lainnya. Untuk wewangian, memberikan efek sedap dan tenang,” kata GKR Alit.

Meski secara pribadi dirinya tak pernah benar-benar mengupas tentang kandungan yang digunakan dalam meracik jejamuan, lulur mangir, dan ratus tersebut, namun dirinya percaya bahwa sejumlah bahan-bahan yang telah dipakai sejak pendahulu di keraton tersebut memang memiliki banyak khasiat yang baik untuk tubuh. 

“Ya percaya saja dengan resep-resep tradisional ini. Toh, sebagai orang yang masih meneruskan tradisi ini, saya merasakan efek baiknya untuk tubuh saya,” jelasnuya.

Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan tradisi, G.K.R Alit sudah terbiasa meminum jamu, memakai lulur mangir, dan membuat ratus. Akhirnya pengetahuan tentang racikan tradisional tersebut menurun pada abdi dalem dan jadi pedoman hidup mereka sebagai masyarakat sosial.  Sebab, masyarakat tradisional macam ini masih lebih percaya dengan segala hal yang bersifat alami daripada menggunakan berbagai produk yang tidak jelas asal-usulnya. 

“Jadi jamu ini adalah cara untuk menjaga kesehatan atau kecantikan bagi seorang wanita dari dalam diri. Kemudian untuk lulur mangir dan ratus adalah cara untuk mempercantik dari luar. Ini seperti filosofi yang mestinya dijaga oleh setiap perempuan. Sebab, kecantikan itu tidak hanya di luar, tapi juga harus terpancar dari dalam lewat cipta, rasa, lan karsa,” bebernya.

Putra Keraton Ikut Perawatan

Perawatan diri ternyata tidak hanya dilakukan para putri keraton, namun juga kaum pria di dalam Keraton Surakarta. Adik PB XIII Hangabehi, Gusti Pangeran Haryo (G.P.H) Dipokusumo menambahkan, para perempuan keraton memang lebih sering melakukan perawatan dibanding kaum pria, dalam tradisi minum jamu dan pemakaian lulur mangir. “Untuk pria paling lebih ringkas. Kalau jamu ya buat kebugaran atau vitalitas. Kalau untuk lulur mangir, dan ratus paling kalau ada acara besar saja,” kata G.P.H Dipokusumo.

Meski demikian, ada saat-saat tertentu di mana semua putra-putri dalem wajib untuk minum jamu. Seingat dia, kegiatan tersebut dilakukan secara bersama-sama layaknya pekan imunisasi pada masa sekarang. Bedanya, jika saat ini imunisasi berupa serum yang disuntikkan ke tubuh, zaman dulu adalah sebuah pipisan jamu yang diperaskan langsung ke dalam mulut seseorang. “Namanya dicekoki. Jadi menunggu giliran untuk minum jamu pahit. Setelah itu, baru bisa minum jamu yang manis,” jelas dia.

Dilanjutkan Dipokusumo, jika imunisasi bertujuan untuk pemerataan kesehatan dan pencegahan penyakit, maka tradisi dicekoki jamu yang ia maksud bertujuan untuk membentuk sikap dan sifat manusia agar lebih tangguh dan juga diharapkan memiliki fisik yang kuat. 

“Tergantung dari mana kita memandang hal ini. Dari kesehatan bisa, dari segi makna filosofi juga ada. Nah, ini semua namanya ngadi saliro, termasuk minum jamu, lulur mangir, dan ratus itu,” jelas dia.

Ada Peracik Khusus

Ada orang khusus yang bertugas meracik ramuan di lingkungan keraton. Mereka adalah para abdi dalem yang sudah paham dan dibekali pengetahuan soal racik-meracik ramuan jamu bagi putra putri Keraton Kasunanan Surakarta.

“Menawi  Ndoro Ayu dan Ndoro Kakung musti ngunjuk jampi (kalau tuan putri dan tuan memang rutin minum jamu, Red),” jelas Nyai Lurah Hadi Sukarto, 64, sambil membawa penuh rempah dan bahan lain untuk membuat ramuan jamu.

Meski dirinya merupakan abdi dalem purwakanti (bunga, Red) yang biasa bertugas di Dalem Ageng Keraton, dirinya juga mahir meracik jamu. Menurutnya, semua keluarga keraton masih rutin mengonsumsi jamu hingga hari ini. Sebab, mengonsunsi jamu dipercaya dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan yang paling penting merupakan budaya yang masih dilestarikan. “Kalau minum jamu itu bisa beberapa kali dalam sehari dengan ramuan yang berbeda,” jelas Hadi Sukarto.

Dijelaskan dia, jamu yang dikonsumsi tersebut memiliki peruntukan masing-masing. Misalnya saat sedang tidak enak badan, biasa minum cabe puyang. Jamu ini memiliki khasiat ampuh untuk menghilangkan pegal linu. Hal itu berbeda jika sedang menderita batuk. Sebab, jamu yang akan diminum bahan-bahannya terdiri dari campuran jeruk nipis dan kencur yang dicampur dengan berbagai bahan, seperti kapulaga, daun adas, dan lainnya. “Sekadar untuk menghangatkan tubuh biasanya jamu beras kencur,” beber Hadi Sukarto sambil menunjukkan berbagai bahan dasar untuk membuat jamu.

Sambil memilah-milah berbagai bahan, mereka mempraktikkan teknik pembuatan jamu tradisional. Kali ini, mereka akan membuatkan jamu yang biasa dikenal dengan jamu galian putri. Sesuai namanya, racikan jamu tersebut dipercaya bisa melangsingkan tubuh wanita, membuat wajah tampak cerah, melancarkan peredaran darah, dan berbagai khasiat ampuh lainnya.

 “Bahan-bahannya seperti kencur, kunyit, cengkih, daun adas, dan lain-lain. Ini biasanya dikonsumsi usai datang bulan, agar peredaran jadi lancar, kulit makin halus, dan singset. Pokoke nanti jadi makin ayu,” jelas abdi dalem lain, Nyai Lurah Harso Pusoko, 62.

Sambil merajang kencur dan  kunyit, Harso Pusoko mulai menceritakan proses pembuatan jamu tersebut. Secara garis besar, cara pembuatan setiap jamu hampir sama. Pertama, bahan-bahan pilihan harus sudah dicuci bersih. Setelah itu, semua bahan dirajang halus sebelum akhirnya ditumbuk bersamaan. Setelah semuanya sudah halus, barulah adonan jamu tersebut dimasukkan pada sebuah kain halus untuk diperas sarinya. 

“Dari mulai rajang bahan sampai bisa diperas biasanya butuh waktu satu jam. Perasannya langsung bisa diminum langsung sekali tenggak atau diseduh lagi dengan air hangat,” jelas abdi dalem pusaka yang bertugas di dalem ageng, khususnya di Kamar Pusaka Dalem Ageng Keraton Kasunanan Surakarta.

Keahlian Diturunkan

Kemampuan dan pengetahuan dalam meracik jamu ini didapat secara turun temurun dari mereka para abdi dalem senior. Keahlian ini diturunkan kepada para abdi dalem yang lebih muda. Meski tidak tertulis, rutinitas meracik jamu yang dilakukan terus menerus sampai hari ini akhirnya membuat tradisi minum jamu masih berlangsung hingga sekarang. 

“Sejak kecil saya sudah menyaksikan para abdi dalem yang lebih dulu dalam menyiapkan jampi (jamu, Red),” sambung abdi dalem lainnya, Joyowiyoso, 50.

Meski paling junior jika dibandingkan dengan Nyai Lurah Hadi Sukarto maupun Nyai Lurah Harso Pusoko, dirinya juga mahir meracik jamu. Sebab, tradisi minum jamu yang awalnya diturunkan langsung dari bangsawan keraton kepada para abdi dalem ini juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para abdi dalem.

 “Kalau saya tahunya ya dari mbakyu-mbakyu (abdi dalem yang lebih senior) ini. Tapi sedikit banyak memang sudah tahu dari keluarga, karena juga sering minum jamu yang diracik sendiri. Di keraton ini jadi makin tahu bagaimana urutan dan takaran untuk membuat jamu,” jelas Joyowiyoso.

Diungkapkan dia, rutinitas minum jamu yang masih terjaga sampai hari ini karena tradisi itu masih rutin dilakukan. Bahkan dalam sepekan, para bangsawan keraton bisa tiga sampai kali meminum jamu sesuai kebutuhan masing-masing. “Kalau diracik dan dibuat sendiri seperti ini jelas sehat dan higienis tanpa pengawet. Jamu ini beda dengan yang dijual jamu keliling karena minum jamu itu memang harus sekali waktu usai diracik,” tutup Joyowiyoso. (ves/bun/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia