Jumat, 26 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Air PDAM Keruh Lagi, Terpaksa Beli Air Galon

08 Januari 2019, 19: 57: 01 WIB | editor : Perdana

Seorang warga menunjukan kualitas air PDAM

Seorang warga menunjukan kualitas air PDAM

SOLO - Puluhan warga Pucangsawit mengeluhkan air PDAM yang kembali keruh. Imbasnya, warga harus merogoh kocek lebih dalam karena harus membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. 

Teri, 34, warga Kampung Pucangsawit RT 03/RW 04 mengatakan, air PDAM di rumahnya tampak keruh dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan saat air didiamkan beberapa menit di sebuah bejana, lumpur terlihat mengendap di dasar bejana tersebut. 

“Air PDAM kadang bersih, terkadang tidak. Jika kami cek selama sehari lebih banyak keruhnya. Namun, tidak berbau,” kata Teri pada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (7/1).

Menurutnya, hampir seluruh warga di RT 03/RW 04 mengeluhkan masalah yang sama. Bahkan warga tak berani mengonsumsi air tersebut. Sejak itu warga memilih membeli air isi ulang daripada mengolah air dari PDAM. 

“Kalau air galon bermerek harganya Rp 15-20 ribu. Kalau isi ulang biasa Rp 6-8 ribu. Padahal butuhnya bergalon-galon,” keluh dia. 

Sejauh ini warga kecewa dengan kulitas air tersebut. Menurutnya, warga sangat dirugikan, mengingat sebagai pelanggan jika terlambat membayar, PDAM langsung mencabut sambungan air milik warga. Sementara jika ada keluhan pelanggan, tidak segera ditindaklanjuti. 

“Seharusnya PDAM langsung menindaklanjuti adanya keluhan warga. Sehingga aktivitas penggunaan air bersih di lingkungan kami tak terganggu,” ujarnya.

Buruknya kualitas air PDAM juga sempat viral di media sosial. Kala itu, ada salah satu akun pengguna Facebook di Kota Bengawan yang memposting buruknya kualitas air PDAM. Dalam postingan tersebut, pemilik akun menuliskan kronologi buruknya air yang keluar selama beberapa waktu terakhir. 

Parahnya, dalam sebuah foto dan video yang diunggah tersebut, terdapat benda kecil berwarna merah yang bergerak-gerak yang diduga kuat oleh si pemilik akun sebagai cacing dalam air tersebut. 

“Sejak Kamis (3/1) lalu air PDAM yang mengalir ke  rumah saya tampak keruh dan berbau kaporit. Sejumlah warga juga mengeluh lantaran air yang ditampung terdapat beberapa cacing hidup. Kami juga sudah melapor ke PDAM setempat,” ujar Painem, 48, warga Pucangsawit RT 03 /RW 14 Jabres, Solo.

Ia meminta PDAM segera menindaklanjuti hal tersebut. Selain itu, PDAM harus memperhatikan kualitas bahan baku air yang diambil dari Sungai Bengawan Solo sebelum dialirkan kepada pelanggan. 

“Air PDAM di Kampung Pucangsawit kerap keruh. Sebagai pelanggan sangat dirugikan dengan kondisi air seperti ini. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi berulang-ulang dan PDAM segera mencari solusi yang baik,” tegas Painem. 

Di sisi lain, Humas PDAM Surakarta Bayu Tunggul membenarkan adanya keluhan pelanggan di Kampung Pucangsawit yang melaporkan adanya air keruh dan cacing hidup di saluran air milik warga. Kendati demikian, pihaknya memastikan bahwa keluhan cacing hanya terjadi di satu rumah milik pelanggan. 

Pihaknya memastikan, keluhan pelanggan terkait adanya cacing hidup pada air milik PDAM Surakarta, langsung ditindaklanjuti Senin (7/1) siang kemarin pihaknya bergerak menelusuri semua pipa yang mengarah ke pelanggan yang menemukan cacing hidup di dalam air. 

“Kami sudah mengecek keluhan pelanggan kawasan setempat. Sampel air PDAM juga sudah diambil petugas bagian produksi untuk dilakukan pengujian lebih lanjut di laboratorium,” ujar Bayu melalui sambungan telepon. 

Nantinya, sampel air tersebut bakal melalui beberapa tahap pengujian secara fisika dan bakteri. Ini dianggap penting mengingat selama ini PDAM saat mengolah bahan baku mentah yang diambil dari air Sungai Bengawan Solo sudah memberikan desinfektan agar semua bakteri mati. 

“Kami pastikan saat air diolah di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jurug kondisinya bersih. Terkait air keruh dan berbau kaporit, hal itu sudah menjadi SOP kami. Warga tak perlu khawatir karena saat air diletakkan di tempat terbuka kaporit tersebut perlahan hilang. Kalau soal cacing, dugaan sementara akibat kebocoran pipa,” ujar Bayu. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia