Rabu, 20 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features
Irwan Santoso, Pahlawan Penjinak Tawon Ganas

Alami Puluhan Kali Sengatan, Tubuh Tak Bisa Digerakkan  

09 Januari 2019, 12: 11: 15 WIB | editor : Perdana

TAK KAPOK: Irwan Santoso tetap siaga memberantas sarang tawon dari laporan warga.

TAK KAPOK: Irwan Santoso tetap siaga memberantas sarang tawon dari laporan warga. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

MENJADI petugas pemadam kebakaran (damkar), tidak hanya dituntut mahir memadamkan api, namun juga harus berani menjinakkan tawon ganas. Irwan Santoso, 40, pernah merasakan puluhan kali sengatan tawon ganas selama delapan tahun menjadi petugas damkar. Seperti apa ceritanya?

ANGGA PURENDA, Klaten

MELAKSANAKAN operasi tangkap tawon (OTT) setiap harinya selama dua tahun belakangan ini tidak dibayangkan sebelumnya oleh Irwan. Sebagai petugas damkar ternyata tidak hanya dituntut bisa menjinakkan si jago merah saja. Tetapi memberantas sarang tawon di berbagai lokasi dengan risiko mendapatkan sengatan.

Saat Jawa Pos Radar Solo datang ke Kantor Damkar Klaten kemarin pagi, tampak Irwan hendak pulang ke rumah. Ia tampak kelelahan. Ini terlihat dari matanya yang begitu sayup karena menjalani OTT semalaman. Dirinya harus istirahat yang cukup sebelum melakukan pemberantasan sarang tawon selanjutnya.

Irwan menyadari memiliki kebugaran yang prima menjadi modal yang penting saat melaksanakan OTT. Pasalnya, saat tubuh sedang fit dapat terhindar dari kegawatdaruratan akibat diserang puluhan tawon. Mengingat risiko saat menjalani tugasnya mendapatkan sengatan puluhan kali dari tawon vespa affinis yang berkembang di Klaten.

“Total selama bertugas OTT pernah merasakan sekitar 60 sengatan tawon. Ada dua kejadian di mana saya pernah tersengat tawon 11 titik dan 20 titik di sekujur tubuh saya. Tapi dengan kesigapan penanganan pertama oleh teman-teman terhindar dari kegawatdaruratan,” ujar Irwan.

Sengatan tawon vespa affinis yang mencapai belasan titik ini pernah diterimanya saat melakukan OTT di Kecamatan Wonosari pada 2017 lalu. Saat sampai di lokasi dirinya bersama anggota tim OTT lainnya langsung diserang tawon. Ketidaksiapan dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) membuat dirinya harus mendapatkan 11 titik sengatan.

Sengatan yang diterimanya mulai mengenai bagian kepala hingga punggung sehingga membuat dirinya kesakitan. Kondisi itu tidak lantas membuat dirinya dibawa ke rumah sakit terdekat. Melainkan berbekal kompres es batu sebagai penanganan awal guna mencegah menyebarnya racun ke seluruh tubuh.

“Ada beberapa hal yang membuat tawon itu menjadi agresif dan ganas. Seperti memang sebelumnya sudah diganggu sarangnya sehingga menjadi ganas,” ujar warga Kampung Sidowayah, Kecamatan Klaten Tengah ini.

Sengatan tawon yang tidak kalah hebatnya pernah dirasakan saat menjalankan OTT di Kecamatan Cawas. Pasalnya, mulai dari bagian bawah ketiak hingga pinggang mendapatkan 20 sengatan. Meski sudah menggunakan APD tetap saja anggota tim OTT tetap mendapatkan sengatan tawon.

Jangan bayangkan tim OTT Damkar Klaten ini menggunakan bee suit atau baju pelindung anti lebah untuk melindungi diri dari sengatan. Melainkan fire jacket yang sering digunakan saat memadamkan api. Tetapi sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tawon tidak bisa menyengat mereka.

“Tapi ada saja cara tawon untuk menyengat saya. Meskipun sudah di dalam mobil tetap saja dikejar. Tawon itu berusaha mencari celah pada APD yang saya gunakan hingga akhirnya menyengat bagian sekitar perut,” jelas pria yang juga komandan Bidang Operasional SAR Kabupaten Klaten ini.

Kondisi itu membuat tubuhnya sempat tidak bisa digerakan beberapa hari hingga merasakan demam. Termasuk mual, mata berkunang hingga keluar cairan dari hidung, tetapi dirinya mengaku tidak memeriksakan diri ke rumah sakit. Melakukan kompres es batu berulang kali menjadi tindakan yang diandalkannya.

“Sengatan mereka rasanya mirip saat tubuh kita terkena bara rokok. Setelah itu kita akan merasakan gatal-gatal di sekujur tubuh. Sekali lagi kondisi prima saat bertugas dan penanganan awal yang tepat membuat saya terselamatkan,” ucapnya.

Irwan memang patut bersyukur karena selama ini tujuh korban meninggal  dunia selama dua tahun ini akibat puluhan sengatan tawon vespa affinis. Tetapi berulang kali menangani pemberantasan sarang tawon membuat dirinya terus belajar dari pengalaman setiap kali tersengat. Dirinya tetap menyarankan warga yang tersengat tawon lebih dari satu langsung ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Kan saat tersengat kita tidak tahu kondisi masing-masing. Jadi lebih baik disarankan ke rumah sakit saja untuk penanganan secara intensif. Kalau cuma satu sengatan cukup ditangani dengan kompres es batu saja,” ujarnya. (*/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia