Rabu, 20 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features
Wajah Flawless Antiabal-Abal

Kamu Ingin Suntik Putih, Periksa Ginjalmu Dulu  

12 Januari 2019, 18: 56: 03 WIB | editor : Perdana

Kamu Ingin Suntik Putih, Periksa Ginjalmu Dulu  

BISA memiliki kulit putih, mulus, bersih, dan merona bak artis-artis Korea, siapa yang tidak ingin. Demam K-Pop di Indonesia tak hanya soal musik atau dance-nya. Fashion, termasuk tampilan wajah flawless dan glowy seperti cewek-cewek Korea pun ikut digandrungi. Bahkan, untuk perempuan Indonesia yang rata-rata punya kulit sawo matang pun tiba-tiba bermimpi untuk “meyulap” kulitnya jadi putih mulus seperti artis Korea.

Namanya saja “sulapan,” inginnya mengubah sesuatu yang sepertinya mustahil bisa menjadi nyata. Tentu dalam waktu yang sangat cepat atau instan, plus lagi biayanya juga minim. Dalam kondisi ini, produk-produk kecantikan yang ditawarkan dengan janji-janji manis yang katanya bisa memberikan perubahan secara singkat pun ramai-ramai diborong. Meski itu produk ilegal yang belum diketahui pasti risiko dan efek sampingnya.

Namanya Nadia, 21. Ia punya kulit wajah yang cerah. Dengan tampilan wajah tersebut, Nadia merasa lebih percaya diri (pede) saat bergaul dengan teman-temannya. Namun, kata dia, beberapa tahun lalu kulit wajahnya tak secerah saat ini, bahkan cenderung kusam. Gadis itu mengatakan, ia bisa tampil dengan warna kulit jauh lebih cerah setelah rutin menggunakan suatu produk kecantikan dengan cara injeksi (suntik). 

“Setahun lalu kulit saya tidak seputih sekarang. Ini karena saya pakai whitening injection (suntik putih). Isinya vitamin C dan kolagen,” tutur Nadia.

Di mana dan berapa lama prosesnya perawatan yang dilakukan hingga Nadia mendapat perubahan itu? Mudah saja, ia hanya membeli produk whitening injection lewat toko online. Bukan di salon yang kredibel, apalagi di klinik atau dokter spesialis kecantikan.

”Kebetulan produknya saya beli di toko online. Sebab, jauh lebih murah daripada perawatan di pusat kecantikan,” jelas dia kepada Jawa Pos Radar Solo.

Nadia mengaku penasaran dengan produk kecantikan tersebut. Sebab, sebelumnya dirinya sudah rutin merawat diri di salah satu pusat kecantikan ternama. Sayang, hasilnya  belum sesuai keinginan. Lantaran tahapan untuk menjadi lebih cantik perlu waktu panjang. 

Ia mencontohkan, perawatan rutin yang biasa dia lakukan di salon kecantikan berupa facial dan masker untuk wajah. Biaya yang dihabiskan cukup menguras kantong. Untuk sekali perawatan antara Rp 300 ribu – Rp 500 ribu. Itu belum termasuk dengan berbagai obat perawatan yang dibawa pulang untuk pemakaian rutin di rumah. 

“Biaya habis banyak. Kalau pakai ini kan jauh lebih murah dan hasilnya langsung kelihatan cuma dua sampai tiga bulan. Makanya saya putuskan coba-coba dulu,” jelas Nadia.

Kebetulan dulu saya beli satu paket whitening injection dari salah satu toko online seharga Rp 300 ribu isinya enam ampul serum. Setelah saya tanya-tanya dengan pemilik toko online itu saya disarankan agar memakainya dengan cara infus agar lebih maksimal. Jika tidak, bisa dengan cara disuntikkan.

Ditolak Rumah Sakit dan Dokter

Nadia pun mulai mencari tempat mana saja yang sekiranya berkenan membantu menginfuskan serum tersebut ke dalam tubuhnya. Dirinya sempat berusaha melakukan proses injeksi di salah satu rumah sakit. Namun ditolak keras oleh pihak rumah sakit karena obat yang dibawa tak mengantongi izin. 

Ia tak patah arang. Berbagai tempat praktik dokter pun ia sambangi. Namun, hasilnya tetap sama dengan alasan para dokter tak berani ambil risiko dengan obat yang belum jelas kandungannya tersebut. 

Dari obrolan teman-temannya, akhirnya dirinya disarankan untuk datang ke sebuah salon kecantikan kecil yang katanya bisa membantu menginjekkan serum tersebut. “Kira-kira selang sebulan setelah saya dapat obat itu baru bisa menemukan tempat yang mau membantu (suntikan serum ke tubuh),” jelas Nadia.

Di dalam salon tersebut, ternyata berbagai produk kecantikan sejenis ikut dijual. Karena itu, pihak salon tak keberatan walau hanya membantu menginjekkan saja. Meski sempat takut, Nadia memberanikan diri untuk menjalani proses infus yang memakan waktu setengah jam tersebut. 

“Rasanya sakit banget. Beda dengan saat kita diinfus kalau lagi sakit. Lengan saya sampai pegal semua dan terasa kebas setelah itu. Tapi tetap saya lakukan,” beber Nadia.

Disinggung apakah dirinya tahu efek samping dari produk tersebut, Nadia hanya tersenyum. Namun, dirinya mengaku belum pernah mengalami efek samping yang merugikan. Syaratnya banyak minum air putih, pasti obat cepat bereaksi.

“Kalau bahaya atau tidak kurang tahu, toh banyak yang pakai dan menyarankan itu. Kalau soal ada izinnya atau tidak saya kurang paham soal itu,” jelas Nadia.

Lebih Kecil dan Murah

Meski sebagian orang memilih bertahan menggunakan produk tersebut, banyak juga yang memilih berhenti menggunakan whitening injection tersebut. Jawa Pos Radar Solo pun mendapat kesempatan untuk berbincang dengan salah satu pengguna produk tersebut. Sebut saja Anita, 24. Perempuan ini mengaku sempat tertarik membeli produk whitening injection dari salah satu merek kecantikan yang bebas diperjualbelikan di banyak toko online. 

Meski demikian, secara fisik produk yang dipakai Claudia berbeda dengan yang dipakai Nadia. Dari segi bentuk, kemasan serum tersebut lebih kecil. Tentu saja harganya jauh lebih murah dibanding serum yang berbentuk ampul. 

“Sekarang ada juga yang lebih murah. Hanya beda ukurannya. Kalau yang ini lebih murah karena juga lebih singkat masa pemakaiannya,” jelas Claudia.

Meski ukurannya berbeda, efek yang diberikan produk ini sama dengan produk pemutih lainnya. Yakni berisi campuran antara vitamin C dan kolagen. Bahkan, produk yang sekarang ini lebih ramah. Bagi yang takut infus atau suntik, serum itu bisa dicampurkan pada berbagai produk kecantikan lainnya dengan cara mencampur dan membalurkan pada bagian tubuh yang diinginkan. 

“Karena ukurannya lebih kecil biasanya dimasukkan dengan cara suntik. Sempat sekali saya lakukan,” jelas dia.

Karena memiliki kenalan seorang bidan, Claudia dibantu sang bidan tersebut untuk menyuntikkan serum tersebut pada dirinya. Ia mengaku tak mempersiapkan hal khusus sebelum serum disuntikkan ke tubuhnya. Hanya, temannya berpesan harus banyak minum air putih agar kandungan vitamin C dan kolagen itu cepat tercampur dengan tubuh. Selain itu untuk mengurangi risiko gagal ginjal karena pemakaian obat secara rutin tersebut.

Rasanya Sakit Sekali

“Saya orangnya tidak betah sakit. Waktu itu hanya habis setengah ampul dan saya pilih menyudahi karena rasanya sangat sakit,” jelas dia.

Dirinya ingat, saat dulu pernah melakukan suntik putih di salah satu pusat kecantikan ternama. Kala itu, jika sudah terasa sakit berarti ada kandungan dalam obat yang tidak cocok dengan pengguna. Jika seperti itu, proses injeksi harus dihentikan. 

“Nah, waktu itu saya langsung ingat pengalaman saya dulu. Saya takut dan akhirnya saya sudahi saja,” jelas dia.

Setelah tidak kuat melakukan injeksi, Claudia menggunakan serum dengan cara dicampurkan dengan body lotion, lalu dioleskan pada tubuh. Sayangnya, setelah dua pekan serum dicampurkan, body lotion yang semula berwarna putih berubah jadi kekuningan. Selain itu, lotion yang tadinya berbau wangi kini berubah seperti bau karat. 

Dari situ, Claudia memilih menghentikan menggunakan produk tersebut dan kembali melakukan berbagai perawatan di salon kecantikan resmi, meski butuh proses panjang. “Ini demi proses yang lebih aman daripada berisiko,” ujarnya. 

Cek Ginjal Dahulu

Dr Dyah Cinde Cahyani Sp KK, dokter spesialis kulit dari Rumah Sakit Indriati Solo Baru ini menjelaskan, untuk segala macam jenis injeksi semua harus sesuai anjuran dokter. Pasalnya, injeksi harus sesuai takaran yang telah ditentukan. Mengingat, penggunaan jarum suntik tidak bisa dilakukan sembarangan oleh orang awam.

“Harus dengan petunjuk dokter. Kalau vitaminnya berupa injeksi penanganan harus dengan dokter atau petugas medis,” jelasnya.

Untuk pemberian obat suntik vitamin ini juga tidak diperbolehkan dengan dosis tinggi dan secara kontinu. Sebab, hal ini akan berdampak pada ginjal pemakai. Karena itu untuk penggunaan obat ini, pemakai juga harus mengecek fungsi ginjal terlebih dahulu.

“Pengguna juga harus berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum menggunakan obat tersebut. Apakah obat jenis ini berbahaya atau tidak. Kalau dirasa aman pasien bisa menggunakan obat tersebut, namun dengan takaran yang ditentukan,” ujarnya.

Sebenarnya vitamin untuk lightening tidak bisa diberikan dengan dosis tinggi dan secara kontinu. Pasalnya, obat jenis ini nantinya akan diekskresikan oleh tubuh melalui ginjal. Kalau ada masalah nantinya akan memperberat kerja ginjal itu sendiri. Maka dari itu penggunaan obat ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Sayangnya obat semacam ini sangat mudah ditemui di pasaran. Khususnya melalui sistem pembelian online. Apalagi merebaknya skincare juga mayoritas memberikan treatment semacam memutihkan wajah. “Dan sayangnya persepsi cantik di lingkungan masyarakat adalah yang harus putih. Padahal cantik tidak harus putih, namun memiliki kulit yang bersih dan sehat,” tandasnya. (ves/vit/bun/ria)

(rs/ves/vit/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia