Selasa, 19 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Harga Anjlok, Gubernur Ganjar Ajak ASN Beli Cabai Petani

14 Januari 2019, 18: 12: 37 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama pejabat dan ASN pemprov beli cabai petani, Senin (14/1).

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama pejabat dan ASN pemprov beli cabai petani, Senin (14/1).

SEMARANG – Merosotnya harga cabai membuat petani pusing. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun merespons cepat untuk mengatasi persoalan ini. Caranya, para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan pemprov diminta memborong cabai langsung dari petani.

Sebanyak 10 ton lebih cabai merah keriting didatangkan gubernur di halaman kantor gubernuran, Senin (14/1). Cabai-cabai itu diborong langsung dari petani asal Demak, Purbalingga dan Kabupaten Semarang. Nilai ekonomis dalam transaksi itu sebesar Rp 200 juta lebih.

Selain ASN, Ganjar juga mewajibkan bupati dan wali kota di Jateng untuk membeli cabai langsung dari petani melalui surat edaran bernomor 520/0000579 di daerahnya masing-masing.

Seperti diketahui, harga cabai merah keriting di tingkat petani Jawa Tengah anjlok pada musim panen tahun ini di angka Rp 7.000 hingga Rp 9.000 per kilogram. Padahal di pasaran, harga cabai masih mencapai Rp 20.000 per kilogram.

“Sebenarnya harganya tidak turun amat, tapi karena tengkulaknya kebanyakan, jadi harganya anjlok. Saya kemarin sudah cek di Ungaran, harga cabai keriting di pasaran Rp 20.000, pedagang membelinya Rp 15.000, sementara harga jual dari petani hanya Rp 9.000 bahkan ada yang Rp7.000. Ini kan yang tertawa para tengkulak itu, sementara petani terus merugi,” terangnya.

Hasil pengecekan di lapangan terkait anjloknya harga cabai yang dikeluhkan petani, Ganjar menemukan bahwa luasan tanam petani cabai semakin banyak, sehingga terjadi over suplai. “Hal itu otomatis membuat harga tidak bagus. Selain luasan tanam yang lebar, aksi para tengkulak ini yang membuat harga anjlok dan petani merugi,” ujar Ganjar.

Sebenarnya, Kartu Tani lanjut Ganjar adalah solusi paling tepat untuk mengendalikan kestabilan harga dan komoditi pertanian di pasaran. Sebab Kartu Tani tidak hanya bicara soal pupuk, namun juga data terkait semua aktivitas pertanian di Jawa Tengah.

“Hari ini baru ketahuan pentingnya Kartu Tani itu. Saya ingin Kartu Tani dapat merekam kawan-kawan petani tanam apa, di mana, komoditasnya apa, kapan panennya. Jika data itu terekam, maka bisa dipantau dan dikontrol harganya,” paparnya.

Tak hanya itu, dari kejadian anjloknya harga cabai, Ganjar menemukan ironi yang sangat menggeletik. Ternyata, banyak petani yang tidak tahu harga cabai di pasaran, sehingga mau saja dibeli murah oleh para tengkulak.

“Ke depan saya ingin para kelompok tani ini diwajibkan memasang aplikasi Sihati (Sistem Informasi Harga dan Produk Komoditi) sehingga tahu harga. Kalau harga cabai misalnya di pasaran Rp 20.000, sementara tengkulak membeli Rp 7000 ya jangan mau,” jelasnya.

Untuk melakukan intervensi itu, Ganjar meminta bupati/wali kota se Jateng mencontoh apa yang telah dilakukan Pemprov Jateng, yakni memerintahkan ASN memborong cabai langsung dari petani dengan harga Rp18.000 per kilogram.

“Saya rasa semua butuh cabai, ayo gerakkan membeli cabai langsung dari petani dengan harga yang pantas. Kalau satu orang ASN membantu sekilo saja, itu sudah sangat luar biasa,” terangnya.

Selain jangka pendek, Ganjar juga terus mencari solusi jangka panjang. Pihaknya sudah membentuk tim untuk mendeteksi dari hulu sampai hilir guna menemukan titik kesenjangan permasalahan.

Ganjar juga sudah meminta Bulog secara komersial ikut bertindak. Bulog diminta proaktif dan melakukan operasi pasar dengan membeli cabai langsung dari petani.

“Akan kami tunjukkan cabai juara dari Demak, Magelang, Temanggung, Boyolali dan lainnya. Silahkan Bulog membeli langsung dan menjual kembali, sehingga Bulog juga dapat untung, harga di pasar stabil sehingga masyarakat senang dan petani juga gak rugi karena hasil mereka dihargai maksimal,” imbuhnya.‎

Untuk mengendalikan harga, keanekaragaman inovasi produk cabai juga sudah dilakukan. Misalnya, Bank Indonesia sudah kerja sama dengan Undip Semarang untuk pengelolaan komoditas cabai dan menerapkan teknologi ozon, guna meningkatkan daya simpan sehingga harga cabai dapat ditekan di Magelang.

“Pola resi gudang, tunda jual juga sudah. Ada banyak metode. Tetapi, petani tahunya panen cabai, dijual dan laku dengan harga pasrah. Produk inovasi turunan bisa dengan teknologi, sekarang sudah banyak usaha sambal beragam rasa, sambal trasi, sambal teri, sambal pete. Intinya kita ajak petani juga menggunakan teknologi,” ujarnya.

(rs/bay/bay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia