Selasa, 23 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Siswandari, Profesor yang Menjadi Nahkoda Sekolah Milik TNI

Kikis Stigma Militer, Kedepankan Sisi Humanis

24 Januari 2019, 17: 02: 02 WIB | editor : Perdana

PEKERJA KERAS: Siswandari menikmati peran barunya menjadi kepala sekolah.

PEKERJA KERAS: Siswandari menikmati peran barunya menjadi kepala sekolah. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Amanah datang sering kali tak mengenal waktu. Itulah yang dirasakan Siswandari. Tahun lalu di usianya yang memasuki masa pensiun, 58 tahun, ia didapuk menjadi kepala SMA Pradita Dirgantara milik TNI ini. Dosen akuntansi Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut menjadi perintis school laboratory UNS sejak awal berdiri. Seperti apa kisahnya?

SEPTINA FADIA PUTRI, SOLO.

MADHEP mantep di UNS. Itulah motto hidup Siswandari. Sampai masa pensiunnya tiba, ia ingin mengabdi di kampus tercinta tersebut sebagai seorang pengajar. Namun motto hidupnya seketika buyar saat dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS memanggilnya. Siswandari diminta untuk mengembangkan school laboratory UNS, yakni SMA Pradita Dirgantara. 

Tak hanya menyiapkan sumber daya manusia (SDM), kurikulum, rekrutmen guru, sampai mengadakan pendidikan dan pelatihan guru. Amanah yang dititipkan Siswandari tak tanggung-tanggung. Menjadi kepala sekolah dan harus merintis sekolah tersebut dari awal.

“Tadinya saya tidak mau menerima amanah ini. Saya cuma pengen di UNS saja. Tapi Pak Rektor memanggil saya. Ditambah Ibu Panglima TNI juga langsung meminta kepada saya. Akhirnya saya bersedia,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Berbagai risiko dan konsekuensi sudah dipersiapkan Siswandari. Menerima amanah tersebut, artinya  ia tidak mau dan tidak boleh mengeluh. Sebab, ia paham betul rasanya bekerja di lembaga pendidikan swasta ini tidak mudah. Terlebih untuk mengelola sekolah berbasis asrama. Lantas apa yang memotivasinya bisa bertahan melewati segala kesulitan tersebut?

“Sebagai seorang muslim. Saya punya tokoh panutan, Rasulullah Muhammad. Bagaimana beratnya perjuangan saya, pasti terasa ringan saat saya mengingat perjuangan Rasulullah. Jadi kalau sedang tidak bersemangat, saya ingat Rasulullah jadi bangkit kembali," ungkapnya.

Pada angkatan pertama, SMA Pradita Dirgantara menerima 150 siswa. Meski berstatus milik TNI, namun sekolah tersebut bukanlah sekolah militer. Siswandari ingin menciptakan suasana sekolah yang humanis. Menurutnya, suasana tersebut menyenangkan dan membuat para siswa nyaman mengikuti kegiatan pembelajaran.

“Sehingga dalam mengajar pun harus dengan cinta. Supaya anak-anak senang. Kalau anak senang, maka dalam menerima pelajaran juga senang,” sambungnya.

Metode itu juga diterapkan Siswandari sebagai seorang pemimpin. Ia senantiasa memimpin dengan penuh cinta. Membangun kedekatan dengan para guru untuk mewujudkan visi ke depan. “Tujuannya hanya satu, berharap lulusan SMA Pradita Dirgantara bisa menjadi pemimpin masa depan yang beriman, cerdas, kreatif, mandiri, dan berwawasan kedirgantaraan,” ungkapnya.

Sebenarnya, menjadi perintis di sebuah instansi bukanlah kali pertama bagi Siswandari. Usai meraih gelar guru besar, pada 2009, ia didapuk menjadi konsultan di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Masih di tahun yang sama, ia ditunjuk untuk memimpin lembaga baru di bawah Kemendikbud, Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS).

Kala itu, Siswandari harus mengawal sebuah lembaga yang tidak memiliki kantor dan SDM karena hanya bersama tiga orang lainnya. Ditambah lagi tidak memiliki dana lantaran belum ada anggaran.

“Waktu itu dirjennya masih Prof Baidhowi. Beliau yang menjamin saya ketika harus mencari pinjaman untuk kegiatan LPPKS,” katanya.

Di bawah kepemimpinannya, LPPKS banyak melahirkan kepala sekolah dari kabupaten/kota di Indonesia yang berprestasi. Sebanyak 352 kabupaten/kota di Indonesia atau 70 persen kabupaten/kota di Indonesia sudah bekerjasama dengan LPPKS.

“Bagi saya, mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa menanyakan berapa honornya. Saya yakin Allah sudah menjanjikan bahwa tidak ada satu binatang melata pun yang tidak dijamin rezekinya, apalagi manusia. Jika memang pekerjaan saya dinilai kurang baik maka akan saya perbaiki. Kalau dinilai sudah baik maka akan saya tingkatkan,” ujar Siswandari. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia