Rabu, 24 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Upaya Arupadhatu Institute Lestarikan Budaya Jawa ke Generasi Milenial

01 Februari 2019, 20: 37: 34 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Kuliah Pranatacara oleh Arupadhatu Institute di Dusun Kayuhan, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo.

Kuliah Pranatacara oleh Arupadhatu Institute di Dusun Kayuhan, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo. (BOY ROHMANTO/RADAR SOLO)

DI zaman seperti sekarang, anak muda lebih tertarik belajar melalui teknologi digital. Namun hal ini tidak berlaku bagi puluhan peserta pelatihan Pranatacara. Diinisiasi Arupadhatu Institute.

Hujan gerimis yang turun siang itu tidak menyurutkan puluhan peserta yang akan mengikuti ”kuliah” pelatihan Pranatacara. Antusias dan keseriusan siswa belajar kebudayaan Jawa cukup tinggi. Terbukti siswa yang datang tidak hanya dari Klaten. Melainkan juga dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Seperti Semarang, Pati, dan Grobogan.

Bahkan kuota yang disediakan tidak dapat menampung jumlah peserta. Dengan alasan agar pembelajaran maksimal, jumlah siswa dibatasi. Forum tempat belajar kebudayaan Jawa ini disebut sebagai ”kampus” Arupadhatu Institute. Tempat belajarnya bukan di kampus megah, melainkan sebuah ruangan dengan bangunan joglo. Milik warga Dusun Kayuhan, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo.

”Kalau dituruti, hingga pendaftaran ditutup masih banyak yang ingin ikut. Tapi pertimbangan kami kalau terlalu banyak tidak maksimal dalam kegiatan pembelajaran,” ujar Koordinator Fakultas Pranatacara, Agus “Bakar” Setyoko kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pemberian mata kuliah (materi) pelatihan dilakukan hanya sehari. Meliputi pengenalan budaya Jawa, tata bahasa Jawa, sampai praktek berbicara bahasa Jawa halus. Namun kenyataannya, tidak semua siswa langsung bisa berbicara di hadapan orang banyak. Apalagi bahasa yang digunakan Jawa halus. Biasa dipakai untuk acara seremoni seperti serah pengantin atau sambutan dalam tradisi Jawa.

”Memang butuh waktu dan kebiasaan untuk lancar berbicara di depan umum. Kelihatannya mudah, tapi belum tentu semua orang bisa. Melalui kegiatan ini kami juga memberikan materi tentang olah gerak, olah rasa, serta belajar mengenali karakter,” imbuh pria yang pernah menjadi kepala desa ini.

Ki Jlitheng Suparman, dalang Wayang Kampung Sebelah menjadi salah seorang pengajar dalam Arupadhatu Institute. Tujuan utama pelatihan, yakni melestarikan budaya Jawa agar tidak tergerus perkembangan zaman.

”Ini merupakan bagian dari upaya nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa. Sehingga generasi sekarang harus tetap mengetahui dan memahami budaya yang diwariskan nenek moyang. Saya melihat dari puluhan peserta, banyak yang usianya masih muda,” beber Ki Jlitheng.

Kenyataan tersebut membuat Ki Jlitheng optimistis, banyak anak-anak muda yang peduli dan mau belajar budaya Jawa. Hanya saja, mereka butuh wadah untuk belajar. Ke depan, Arupadhatu Institute juga akan memberikan pelatihan dengan materi lain.

”Hanya saja untuk yang perdana ini kami fokuskan pada Pranatacara. Kalau nanti ada yang ingin belajar kebudayaan Jawa lebih mendalam, bisa kami fasilitasi,” imbuhnya. (oh/fer)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia