Rabu, 24 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Upaya Sigit Wardoyo,Ajak Warga Ubah Tanah Gersang Jadi Lahan Produktif

02 Februari 2019, 14: 50: 08 WIB | editor : Perdana

Kades Sigit, Wardoyo (kiri) bersama petani di kebun kelengkeng

Kades Sigit, Wardoyo (kiri) bersama petani di kebun kelengkeng (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Wilayah utara Bengawan Solo di Sragen selama ini identik dengan gersang dan menjadi langganan kekeringan ketika musim kemaru. Salah satunya Desa Sigit, Kecamatan Tangen. Tapi dalam beberapa tahun terakhir ini dimotori kades setempat, Wardoyo, telah mengubah menjadi desa agrowisata. Seperti apa usahanya?

AHMAD KHAIRUDIN, Sragen

TIDAK mudah untuk mengubah kebiasaan warga di daerah gersang untuk memulai gagasan baru. Sudah puluhan tahun secara turun temurun, petani di utara Bengawan Solo wilayah Sragen ini selalu menanam tebu dan jagung. Dua tanaman ini memang yang dianggap cocok dengan kondisi lahan yang minim air.

Melihat kondisi lahan yang kurang bersahabat dengan tanaman padi ini, pada 2014 lalu mulai digagas untuk mencoba membudidayakan tanaman lain yang produktif dan bisa berdampak untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa setempat. 

“Akhirnya muncul ide menanam kebun buah kelengkeng. Kami memanfaatkan 4 hektare tanah kas desa,” ujar Kepala Desa (Kades) Sigit, Wardoyo.

Awalnya ada 14 petani yang terlibat dalam penggarapan proyek ini. Mereka kemudian membentuk kelompok. Namun dari masing-masing orang punya langkah yang berbeda dalam pemeliharaan.

Tentu saja proyek ini tidak langsung berhasil. Pada tahun pertama belum ada hasil yang bisa dinikmati. Hanya beberapa pohon yang berbunga dan berbuah.  Tahun kedua mulai ada peningkatan, namun mereka kewalahan menghadapi serangan hewan codot. Akibatnya, hasil panen tak maksimal. Ini berlangsung pada tahun berikutnya.

”Akhirnya pada tahun kemarin (2018), kami inisiatif agar buahnya diberi jaring penutup, dan hasilnya Maret dan April 2018 hasil panen mulai melimpah. Kami lalu kembangkan tanaman jambu kristal,” terang Wardoyo.

Setelah berhasil membuktikan mengubah lahan gersang menjadi produktif dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat, kini mulai digagas langkah lebih maju, yakni merintis agrowisata. Dengan konsep ini maka diharapkan akan banyak orang-orang dari luar daerah datang ke desa tersebut untuk berwisata sambil menikmati buat di kebunnya langsung.

“Nanti akan kami launching Maret atau April. Setiap orang bisa menikmati buah kelengkeng sepuasnya cukup bayar Rp 20 ribu saja. Selain itu juga bakal disiapkan spot swafoto untuk pengunjung. Kami libatkan masyarakat sekitar untuk pemberdayaan,” kata Wardoyo.

Diakui memang ada kelemahan bahwa buah kelengkeng ini musiman. Tetapi akan dibuat rekayasa agar kebun kelengkeng ini dapat terus berbuah sepanjang tahun. Nah, untuk upaya ini pihaknya telah komunikasi dengan ahli pertanian.

”Kami sudah ada upaya mengenalkan lewat media sosial. Bahkan jika saya ke Sragen sudah banyak yang menanyakan ini. Kami berharap ini akan memacu daerah lain di utara Bengawan Solo agar bisa mengembangkan lahan mereka lebih produktif,” terang dia. (*/bun)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia