Selasa, 19 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

HPP Unggas Tuai Protes, Dinilai Memberatkan Peternak

04 Februari 2019, 17: 45: 26 WIB | editor : Perdana

MENGELUH: Ayam-ayam petelur di sebuah kandang yang ada di kawasan Boyolali. Surat edaran mendag terkait penentuan HPP dinilai merugikan para peternak ayam.

MENGELUH: Ayam-ayam petelur di sebuah kandang yang ada di kawasan Boyolali. Surat edaran mendag terkait penentuan HPP dinilai merugikan para peternak ayam. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukito baru saja mengeluarkan Surat Edaran (SE). Terkait harga khusus unggas periode Januari-Maret 2019. Namun, keputusan ini menuai protes Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar). Mereka merasakan harga khusus tersebut dinilai memberatkan peternak.

Ketua Pinsar Pedaging Jawa Tengah, Parjuni mengatakan, surat edaran terkait harga khusus unggas dianggap kurang tepat. Bahkan memunculkan kesan, satgas hanya bertindak saat harga mahal. Sedangkan saat harga murah, justru tidak melakukan tindakan apa-apa.

Parjuni mencontohkan, hingga saat ini harga ayam masih di bawah harga pokok penjualan (HPP). Sedangkan di masa tersebut, sejauh ini tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah. ”Sikap pemerintah ini dirasa belum memahami proteksi harga dari sisi peternak, terutama ayam pedaging. Dalam surat edaran tersebut ada kenaikan Rp 4 ribu per kilogram untuk daging ayam ras dan telur ayam ras,” kata Parjuni kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (3/2).

Sebagai catatan, pada surat edaran tersebut, HPP pembelian daging ayam ras di tingkat peternak mencapai Rp 20 ribu per kilogram untuk harga batas bawah dan Rp 22 ribu per kilogram harga batas atas. Di mana sebelumnya Rp 18 ribu per kilogram.

Sedangkan telur ayam ras di harga Rp 20 ribu per kilogram. Kemudian harga khusus penjualan daging ayam ras kepada konsumen sebesar Rp 36 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp 32 ribu. Lalu telur ayam ras Rp 25 ribu per kilogram, sebelumnya Rp 22 ribu per kilogram. Sementara itu, berdasarkan pantauan di pasaran, harga telur ayam mengalami kenaikan harga dua kali lipat dari sebelumnya Rp 22 ribu per kilogram.

Kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras, baik di tingkat peternak maupun konsumen di atas harga acuan. Merupakan dampak dari kenaikan harga jagung dan pakan. Parjuni menilai seharusnya suplai dan permintaan diseimbangkan pemerintah. Sehingga tidak terjadi fluktuaksi harga yang ekstrem di tingkat produsen.

”HPP tersebut bukan untuk proteksi harga dari produsen. Justru produsen dirugikan. Karena saat harga tinggi ada operasi pasar. Produsen diwajibkan menurunkan harga jual. Saat harga murah atau di bawah harga acuan, tidak ada penanganan atau upaya pemerintah untuk menaikkan harga," beber Parjuni. (gis/fer)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia