Senin, 18 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Kembangkan UMKM, Siapkan Rp 3,2 Triliun

08 Februari 2019, 12: 54: 12 WIB | editor : Perdana

PEMIHAKAN: Seorang perajin menyelesaikan pembuatan bantal sandaran leher di pusat kerajinan boneka dan bantal di kawasan Kleco, Laweyan, Solo, Kamis (7/2).

PEMIHAKAN: Seorang perajin menyelesaikan pembuatan bantal sandaran leher di pusat kerajinan boneka dan bantal di kawasan Kleco, Laweyan, Solo, Kamis (7/2). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpotensi jadi motor penggerak roda perekonomian nasional maupun daerah. Melihat potensi tersebut, pemerintah pusat bakal memberikan pemihakan. Melalui penyaluran dana program kemitraan. Senilai Rp 3,2 triliun pada tahun ini untuk pengembangan UMKM.

Kepala Bidang Kebijakan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), Kementerian BUMN RI, Eko Setiawan mengatakan, program penyaluran ini sudah ada sejak 1983. Namanya Program Usaha Kemitraan dan Koperasi (PUKK). Hingga saat ini, total dana yang sudah disalurkan mencapai Rp 20 triliun.

”Angka Rp 3,2 trikiun pada 2019 ini meningkat dibandingkan penyaluran tahun sebelumnya sebesar Rp 2,5 triliun. Dana tersebut sudah tersalurkan semuanya. Dana ini seperti kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga kredit yang lebih rendah. Kalau bunga KUR 7 persen per tahun, program kemitraan ini hanya 3 persen per tahun,” jelas Eko kepada Jawa Pos Radar Solo usai membuka pameran UMKM di Solo Paragon Lifestyle Mall, Kamis (7/2).

Ditambahkan Eko, mitra binaan yang ikut serta dalam program ini dapat mengakses kredit maksimal Rp 200 juta dengan tenor tiga tahun. Sejauh ini sudah ada 700 ribu mitra binaan yang mengaksesnya. Namun tidak semua bisa memperolehnya.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya harus Warga Negara Indonesia (WNI). Lalu UMKM harus memiliki aset maksimal Rp 500 juta dengan omzet maksimal Rp 2,5 miliar per tahun. Serta punya izin usaha yang dikeluarkan pihak kecamatan.

Sejauh ini sektor yang paling banyak mengakses program tersebut yaitu perdagangan. Diakui Eko, dari sisi kredit macet masih cukup tinggi. Sekitar 10-20 persen dan terus menjadi tantangan pemerintah untuk memperbaikinya. Program kemitraan ini merupakan pinjaman yang dikelola perusahaan BUMN kepada pelaku UMKM.

”Sebanyak 113 perusahaan BUMN sudah mengikuti program tersebut. Sedangkan untuk anak perusahaan yang sudah melaksanakan sekitar 100 perusahaan. Saya harap ke depan semakin banyak BUMN yang hadir turut serta. Sehingga semakin banyak UMKM yang berkembang. Semakin besar juga penggerak ekonomi di Indonesia,” tandas Eko. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia