Senin, 18 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Subsidi Pupuk Dikurangi, Asal Kuota Ditambah

08 Februari 2019, 12: 59: 13 WIB | editor : Perdana

POTENSI: Anggota Komisi IV DPR RI Agustina Wilujeng saat mengunjungi salah satu lahan persawahan di Sragen.

POTENSI: Anggota Komisi IV DPR RI Agustina Wilujeng saat mengunjungi salah satu lahan persawahan di Sragen. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

SRAGEN – Masalah kuota pupuk bersubsidi yang terbatas selalu menjadi keluhan para petani. Kondisi ini menjadi pembahasan Komisi IV DPR RI untuk segera disiasati. Salah satu caranya dengan menambah kuota pupuk bersubsidi dengan menekan nilai pemberian subsidi pupuk.

Anggota Komisi IV DPR RI Agustina Wilujeng menyampaikan semua petani di berbagai daerah selalu mengeluhkan hal yang sama. Para petani menilai jumlah kuota pupuk ditambah, meskipun subsidi untuk pupuk dikurangi. 

”Jumlah yang diberikan lebih banyak, meski nilai subsidi lebih banyak,” terang Agustina Wilujeng usai rapat dengar pendapat bersama sejumlah petani di Desa Pilangsari, Kecamatan Ngrampal, Kamis (8/2).

Dia menjelaskan petani tidak terlalu mempermasalahkan jika harga pupuk subsidi sedikit lebih tinggi, namun barangnya tersedia dan alokasi untuk petani ditambah serta harus tercukupi.

Masalah ini sudah menjadi pembahasan di pusat sejak 2017 lalu. Dari 15 juta hektare sawah, baru mencakup 9 juta hektar yang tercover pupuk bersubsidi.  

Pada 2018 kembali diajukan soal permasalahan yang sama. Dari pemerintah sudah ada yang menyetujui, namun di Badan Anggaran (Banggar) DPR RI belum dieksekusi. ”Sudah dilakukan pembahasan, sudah keluar rekomendasi subsidi diturunkan tapi jumlah pupuknya ditambah,” terangnya.

Dia menjelaskan kuota untuk petani juga terlalu sedikit. Mempertimbangkan berbagai hal justru pupuk bersubsidi akhirnya tidak diambil oleh petani.

Sementara itu, M. Arif Anshori selaku General Manager Distribusi dan Pemasaran PT. Pupuk Sriwijaya menyampaikan wacana tersebut tidak masalah dengan pihak penyedia. Dia menjelaskan hal tersebut bergantung pada keuangan negara untuk alokasi pupuk bersubsidi.

”Pusri juga menyiapkan pupuk dengan harga komersil untuk petani selain pupuk bersubsidi. Kalau subsidi harga tebus Rp 1.800, sedangkan harga komersil tergantung kondisi pasar. Dan pasti ada selisih harganya nanti,” jelasnya.

Dia menjelaskan produksi pusri 2,2 juta ton/tahun sedangkan yang dialokasikan untuk pupuk bersubsidi sekitar 1,3 juta ton. Dia menyampaikan setengahnya cukup untuk dijual secara komersil dalam negeri dan ekspor. ”Kita juga jual ekspor di beberapa negaram, tapi prioritas pada pupuk bersubsidi,” terangnya. (din/nik)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia