Senin, 18 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Sepak Bola
Pasoepati Genap Berusia 19 Tahun

Anarkis dan Rasis Bukan Zamannya Lagi

10 Februari 2019, 15: 45: 59 WIB | editor : Perdana

KOMPAK: Pendiri, dan petinggi komunitas Pasoepati merayakan HUT Pasoepati ke-19 di kediaman Mayor Haristanto, kemarin.

KOMPAK: Pendiri, dan petinggi komunitas Pasoepati merayakan HUT Pasoepati ke-19 di kediaman Mayor Haristanto, kemarin. (SEPTINA FADYA PUTRI/RADAR SOLO )

SOLO – Ori19in Red jadi tema yang diambil oleh Pasoepati dalam perayaan HUT mereka ke-19. Tema ini ternyata punya banyak makna. 

”Kita berharap memang Pasoepati kembali lagi lebih berbau merah-merah seperti era dulu lagi. Warna ini jadi sebuah identitas Pasoepati dan Persis tentunya,” terang Sekjen DPP Pasoepati, Wahyu kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Perayaan HUT Pasoepati tahun ini sendiri digelar di  dikediaman Mayor Haristanto di daeran Nusukan.  Keputusan menggelar acara di kediaman Mayor sendiri lantaran dirinya memang tercatat sebagai pendiri Pasoepati.

Ruangan seluas 3x5 meter dipadati banyak banyak orang. Mulai dari para pengurus DPP Pasoepati, pendiri Pasoepati, dan beberapa suporter yang resmi berdiri sejak 9 Februari 2000 tersebut. 

Layaknya remaja yang tengah bahagia bertambah usia, pengurus DPP Pasoepati pun meniup lilin berbentuk angka 19 dan memotong tumpeng sebagai bentuk rasa syukur. Ucapan doa dan riuh tepuk tangan suporter lainnya turut memeriahkan perayaan ulang tahun sederhana tersebut.

“Tantangan teman-teman Pasoepati saat ini adalah media sosial. Ternyata apa yang terjadi di media sosial itu bisa menjadi psy war yang memang berdampak terhadap kondisi teman-teman di lapangan. Pernah ada ancaman di media sosial yang mengatakan ‘mengko tak cegat’, dan itu benar-benar terjadi. Kami harap teman-teman lebih bijak dalam bermedia sosial,” ungkap Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo.

Pria yang akrab disapa Rio juga mengingatkan soal nyanyian chant yang bernada rasis. Sebab bagaimanapun juga, dua hal tersebut tetap berefek negatif bagi suporter Pasoepati. Terlebih Persis Solo akan bermain di Stadion Maguwo Sleman.

”Kami akan semakin intens bertemu dengan korwil yang ada di Pasoepati. Yang jelas karena akan bermain di Maguwo, antusiasme teman-teman akan sangat besar. Jaraknya juga tidak jauh. Teman-teman ini memang agak antik. Kalau ke Maguwo pasti senang, jadi pasti akan banyak Pasoepati yang akan mendukung di sana. Perkembangannya sampai saat ini kan belum ada izin dari Polda. Semoga bisa segera turun,” katanya.

Salah seorang pendiri Pasoepati, Mayor Haristianto mengaku bangga saat studionya dipilih menjadi tempat perayaan hari ulang tahun ke-19 Pasoepati. Baginya, ini adalah sebuah kehormatan. Sebagai tempat cikal bakal Pasoepati, tempat tersebut sangat bersejarah bagi suporter Pasoepati.

”Cerita tentang Pasoepati di mulai dari sini 19 tahun lalu. Dulu 20 orang rapat di sini, sepakat mendirikan Pasoepati. Rio salah satunya, yang saat itu masih kelas 2 SMA. Saat itu, rapat sekali saja langsung terbentuk Pasoepati,” beber Mayor.

Sebagai sesepuh, Mayor memberikan beberapa wejangan kepada generasi penerus Pasoepati. Ia berharap Pasoepati lebih bersahabat dan militan lagi. Tentu saja diiringi dengan sikap dewasa, cinta damai, dan beradab.

“Militan di sini bukan berarti kalau kalah kemudian marah atau ngamuk. Bukan itu. Loyalitas yang dibutuhkan di sini,” sambungnya.

Mayor tidak meragukan militansi Pasoepati. Ia ingat betul, saat Persis Solo degradasi pun Pasoepati tetap berangkat mendukung. Sampai saat ini, Mayor dan suporter lainnya tetap all out mendukung Persis Solo menuju liga 1.

”Semoga pilihan ke Sleman adalah pilihan yang tepat. Ke depan semoga lebih baik. Karena jalinan persahabatan Solo dengan Sleman sudah terjaga sejak 2011. Semoga tidak ada lagi insiden suporter yang tewas. Jangan sampai terjadi pada Pasoepati. Saya tidak kuat mendengar kabar itu,” pungkasnya. (aya/nik)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia