Jumat, 19 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Sopir Taksi Rawan Jadi Sasaran Kejahatan

11 Februari 2019, 18: 24: 09 WIB | editor : Perdana

SALING MENJAGA: Anggota komunitas taksi selalu kompak demi keselamatan saat di jalan raya.

SALING MENJAGA: Anggota komunitas taksi selalu kompak demi keselamatan saat di jalan raya. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Belum lama ini, warga Kota Bengawan dihebohkan dengan perampokan yang menimpa Sumarno, 40, sopir taksi Kosti. Kejadian itu mendorong sopir taksi lainnya ekstrawaspada. Terutama ketika beroperasi malam hari.

BANYAKNYA blind area dan sepinya aktivitas pada malam hari membuat sopir taksi rawan menjadi sasaran tindak kejahatan. Itu diakui sesepuh komunitas sopir taksi online Kamikaze, Tri Hambar Kristianto, 52.

Soal prosedur keselamatan, Hambar memastikan setiap komunitas memiliki caranya masing-masing. Begitu pula Kamikaze. “Sesuai namanya, Kamikaze ini semacam plesetan dari kami kasepuhan. Sebab, 30-40 persen keanggotaan diisi oleh para orang tua dengan usia 50 tahun ke atas. Jadi kami saling menjaga,” jelasnya, Minggu (10/2).

Prosedur keselamatan itu antara lain, share location (berbagi lokasi) terkini. Ini wajib dilakukan terlebih saat sopir taksi menerima order dengan perjalanan cukup jauh pada malam hari. Dengan begitu, lokasi terkini anggota akan selalu terpantau. 

“Teknisnya, teman-teman yang sedang tidak menarik penumpang selalu memantau. Ini sebagai antisipasi kejadian tidak diinginkan, baik yang dipicu faktor eksternal maupun internal driver. Seperti driver kurang sehat,” jelasnya.

Kedua, memertajam intuisi. Hambar member contoh anggota komunitasnya yang mendapatkan oreder ke sekitar Waduk Mulur, Bekonang. Kala itu, driver ragu-ragu. Namun, setelah dipertimbangkan, order tetap diterima.

“Ternyata rutenya memang agak aneh. Sebelum tiba di titik penurunan, si penumpang meminta diantar ke tempat lain yang jaraknya cukup jauh dari tujuan pertama yang tercatat di dalam aplikasi,” terand dia. 

Dalam kondisi tersebut, driver disarankan melakukan standard operating procedure (SOP) yang ketiga, yakni dengan mengirimkan voice note. Dengan adanya pesan suara itu, posisi driver lebih diperhatikan rekan seprofesi lainnya. “Kami sudah sepakat, voice note hanya untuk keadaan mendesak. Maka kalau ada voice note maka sudah menjadi darurat,” tandasnya.

Jika ketika SOP keselamatan tersebut digunakan, driver lainnya segera melakukan penjemputan untuk memberikan pertolongan. Soal order yang nyeleneh tadi, lanjut Hambar, diputuskan untuk dihentikan di utara overpass Palur. Kejadian tersebut juga dilaporkan ke operator. 

Pihaknya tak mau berspekulasi. Sebab, kejadian tidak diinginkan dan membahayakan keselamatan pengemudi cenderung diawali dari rute yang membingungkan. “Kejadian ini (order penumpang berubah-ubah, Red) terjadi satu jam sebelum perampokan yang menimpa driver Kosti,” katanya.

Lantas bagaimana jika ada kendala saat pengantaran ke luar kota? Hambar menerangkan, koordinasi bukan hanya dilakukan dalam satu komunitas, melainkan melibatkan banyak komunitas dari beragam wilayah.

Hal tersebut pernah dialami komunitas sopir taksi online di Karanganyar. “Mengantar penumpang ke Madiun. Satu kali 24 jam belum balik ke Solo. Komunitas yang dinaungi si pengemudi langsung koordinasi dengan komunitas di Solo dan Madiun,” bebernya.

Mereka kemudian mencari rekannya berpatokan pada lokasi global positioning system GPS yang terakhir. Pencarian dilakukan dari pukul 23.00 dan sopir bersangkutan baru ditemukan pada pukul 09.00. Ternyata, driver sakit dan dirawat di rumah warga. 

Komunitas taksi online lainnya adalah Kalong. Seperti namanya, mereka hanya beroperasi pada malam hingga dini hari. Ketua komunitas Kalong Rudi Dirga menjelaskan, SOP keselamatan sopir hampir mirip dengan Kamikaze. Bedanya, prioritas utama mereka yakni driver perempuan. 

“Kerawanan, kalau menurut saya 80 persen terjadi malam hari. Pertama, pengguna taksi malam hari biasanya yang pulang dari lokasi hiburan malam. Tak jarang mereka dalam kondisi mabuk. Kalau si pengemudi wanita, kan jadi lebih riskan,” beber dia.

Pendataan yang dilakukan Rudi, 30 persen driver taksi online di Kota Solo adalah perempuan. Karena itu, anggota Kalong sepakat memprioritaskan pantauan terhadap driver dari kaum hawa. Contohnya, mereka diminta menginformasikan kepada konsumen bahwa layanan taksi diberikan jika si driver perempuan diizinkan membawa pendamping oleh penumpang. Jika penumpang tidak berkenan, maka oreder dialihkan ke pengemudi lainnya.

Keselamatan sopir juga menjadi fokus perhatian taksi konvensional. Jawa Pos Radar Solo berkunjung ke markas Kosti Solo di Jalan Sumpah Pemuda No. 145, Mojosongo, Jebres untuk mengetahui SOP keselamatan yang diterapkan setelah salah seorang sopirnya dirampok.

“Kejadian kemarin mungkin waktu dan kondisinya sudah mendesak. Pengemudi tidak sempat menyalakan lampu darurat. Tapi, kami masih bersyukur kerena kondisinya sudah membaik sekarang,” jelas salah seorang pengelola taksi Kosti Solo.

Dia lalu mengajak koran ini ke bengkel Kosti. Yanto menunjuk lampu kuning di atas kap mobil. Tangannya lalu merogoh bagian mobil lainnya yang merupakan lokasi tombol darurat.

Sayangnya, setelah dicoba beberapa kali, lampu darurat itu mati. Yanto segera meminta kepala bengkel mengganti bohlam lampunya. “Ini tak boleh sampai mati. Makanya tiap bulan kami adakan pengecekan rutin armada mengantispasi hal tidak diinginkan,” jelas dia.

Kapan lampu darurat itu bisa dinyalakan? Yanto menyebut saat driver menjadi korban perampokan, tabrak lari, atau kasus yang mengancam keselamatan lainnya.

Sayangnya, cover lampu yang telah usang membuat nyala lampu darurat sulit terlihat. Terutama pada siang hari. “Saya yakin masyarakat banyak yang tidak tahu (ada lampu darurat, Red). Sebab nyalanya tidak kedip-kedip. Padahal, tanda ini cukup vital. Saat lampu menyala, berarti keselamatan pengemudi sedang dipertaruhkan. Atau mengalami kondisi gawat,” paparnya.

Ketika lampu darurat terlihat sopir taksi lain, maka akan ditindaklanjuti dengan melapor ke perusahaan taksi bersangkutan. Hal tersebut bisa dibarengi dengan menguntit dari jarak aman.

“Suatu ketika ada penumpang yang tidak berkenan bayar dan terkesan mengancam. Ya kami kepung. Tapi, ini hanya berlaku untuk kejadian biasa. Kalau kejadian perampokan, paling aman menyalakan lampu darurat sambil menanti respons kawan lainnya,” terang Yanto.

Ditambahkannya, aparat kepolisian dan petugas dinas perhubungan memahami kode lampu darurat tersebut. Hanya saja, akan semakin cepat direspons ketika masyarakat juga mengenali fungsinya.

Terpisah, General Manajer PT Gelora Taksi, Taka Ditya sepakat bahwa komunikasi dan inovasi antar pengelola taksi perlu ditingkatkan demi memastikan keselamatan driver. Misalnya dengan melengkapi aplikasi emergency button pada aplikasi driver yang terintegrasi dengan keamananan lokal.

“Ini perlu dikaji lagi dan segera diupayakan agar pihak aplikasi bisa meneruskan info kegawatdaruratan pada pihak berwajib,” jelas dia. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia